Women Lead
February 17, 2021

Manipulasi dalam Pacaran Rentan Lahirkan Kekerasan Seksual

Hubungan pacaran yang manipulatif berpotensi melahirkan kekerasan seksual karena ketiadaan kemampuan untuk memutuskan dan menolak.

by Selma Kirana Haryadi
Safe Space
Prince Charming Men Love Relationship 62 Thumbnail, Magdalene
Share:

Sebagai wakil direktur bidang advokasi HopeHelps UI, lembaga layanan kasus kekerasan seksual di Universitas Indonesia, Nesya Ayu Dianti melihat sendiri bagaimana manipulasi dalam hubungan di kalangan mahasiswa telah melahirkan kekerasan seksual.  

“Banyak korban yang tidak tahu dan tidak bisa membedakan apa yang dia katakan dan berikan ke pelaku itu benar-benar consent (atas persetujuannya) atau enggak. Korban juga merasa sulit keluar dari hubungan mereka karena dimanipulasi,” kata Nasya dalam Campus Online Talkshow bertajuk ‘Manipulasi dalam Relasi’ yang diadakan oleh Magdalene, bekerja sama dengan The Body Shop Indonesia dan Yayasan Pulih (10/2).  

Ia menambahkan, sebagian besar pelaku kekerasan seksual pada mahasiswa yang didampinginya merupakan orang-orang terdekat korban, terutama teman dan pacar. Sebanyak 38,5 persen pelaku adalah teman korban, 10,3 persennya merupakan pacar korban, serta ada juga mantan pacar korban yang menjadi pelaku kekerasan seksual.

Hal ini dibenarkan oleh Tika Ibsanni dari IMMawati Renaissance, organisasi perempuan di Universitas Muhammadiyah Malang. Menurut Tika, banyak korban hubungan manipulatif yang mendapatkan perlakuan kekerasan seksual secara berulang dari pacarnya sendiri, bahkan dari dosennya di kampus.

“Laki-laki dan perempuan harus paham bahwa ada consent. Kalau pasangan bilang tidak harusnya tidak dilakukan. Kita juga harus berani bilang tidak,” ujarnya.

Baca juga: Manipulasi ‘Consent’ dan Relasi Kuasa di Balik Kekerasan Berbasis Gender Online

Bagaimana Manipulasi dalam Hubungan Terjadi

Psikolog dari Yayasan Pulih, Ika Putri Dewi mengatakan, relasi yang manipulatif tercipta karena adanya ketimpangan relasi kuasa, salah satunya akibat nilai-nilai patriarkal yang menomorsatukan laki-laki. Di dalam hubungan, hal ini mempermudah pelaku memanfaatkan korban, karena banyak perempuan yang merasa harus menuruti segala permintaan pasangannya dan berpikir bahwa itulah yang harus mereka lakukan, ujarnya.

“Tanda-tanda manipulasi dalam suatu relasi itu ada pihak yang sebenarnya merasa tidak nyaman atau tidak ingin, tapi dia tidak mampu menolaknya. Entah karena dia merasa tertekan secara fisik dan psikis, atau merasa tidak punya pilihan dan tidak bisa keluar,” kata Ika.

“Pasangan yang manipulatif itu memang sengaja mengaburkan nilai-nilai diri seseorang agar orang itu melakukan apa yang diinginkan pelaku,” ia menambahkan.

Menurut Ika, korban hubungan manipulatif akan meragukan dirinya sendiri dan tidak mampu berpikir maupun membuat keputusan yang jernih. Dia juga akan mempertanyakan apakah hal yang ia lakukan adalah hal yang benar-benar ia inginkan, karena ia tidak bisa mengidentifikasikan dari mana asal nilai-nilai yang dia miliki di dalam dirinya, ujar Ika.

“Ketika manipulasi ini terjadi terus, consent yang diberikan pasangan (dalam hubungan seksual) juga akan diwarnai unsur-unsur manipulatif, karena dia tidak bisa memutuskan dengan bebas. Di tahap consent pun dia kebingungan menentukan, sehingga sulit untuk keluar,” katanya.

Siklus Hubungan Manipulatif: Cinta, Harapan, Teror

Aktris dan aktivis perempuan Hannah Al-Rashid mengenang bagaimana dirinya pernah terjebak di dalam sebuah hubungan manipulatif dulu yang membuatnya terisolasi dari lingkungan sosial dan dimanfaatkan secara ekonomi.

Menurut Hannah, mantan pacarnya adalah seseorang yang sangat berbeda ketika bersama dengannya dan ketika sedang bersama teman-temannya. Dalam lingkungan pertemanan, dia bersikap seru dan menyenangkan serta “normal”. Tapi kepada Hannah, dia selalu bersikap kasar, dimulai dari obsesif, posesif, sering merendahkan, sampai mencaci-maki, ujar Hannah.

Baca juga: Dari Bucin jadi Hubungan Toksik: Kenali Tanda-tandanya

“Tapi ada satu hal yang membuat aku merasa tidak bisa keluar dari hubungan. Dia diabaikan (orang tuanya) saat kecil. Dan hal ini selalu dia ulang-ulang setiap kali lagi berantem, seolah-olah he is trying to make me remember, ‘Gue ini di-abandon, loh.’ Psychologically, aku jadi merasa guilty,” ujar Hannah.

Hannah menambahkan, “Dia selalu mencari cara agar we are alone. Ini adalah taktik supaya aku merasa isolated, agar dia menjadi pusat dunia aku. Dia enggak suka sama teman-temanku, selalu dia caci-maki. Aku jadi terisolasi dan enggak bisa mendapatkan support system.”

Menurut Hannah, ada sebuah siklus berulang yang selalu terjadi di dalam hubungan manipulatifnya itu. Setiap sebuah insiden dan pertengkaran terjadi, selalu ada janji bahwa mantan pacarnya akan memperbaiki, ujarnya. Tapi masalah yang sama akan kembali terulang, dan hubungan mereka selalu berputar-putar tanpa jalan keluar, tambahnya.

Ika dari Yayasan Pulih menyebut apa yang Hannah alami ini sebagai cerminan lingkaran hubungan manipulatif yang terdiri dari cinta, harapan, dan teror. Lingkaran itu terus-menerus berputar, dan gabungan antara cinta dan manipulasi ini membuat korban berharap bahwa pelaku akan berubah demi dirinya, ujarnya.

Lingkaran hubungan manipulatif yang terdiri dari cinta, harapan, dan teror, terus berputar, membuat korban sulit keluar dari hubungan ini, berharap bahwa pelaku akan berubah demi dirinya.

“Dampak dari hal itu adalah kemungkinan munculnya trauma bonding atau respons psikologis terhadap situasi kekerasan. Secara rasional kan korban mestinya menjauh, tapi dia malah merespons itu dengan merasa lekat secara emosional kepada pelaku. Ini yang membuat ketika korban berhasil keluar, secara emosional dia belum bisa lepas dari pelaku,” kata Ika.

 Pentingnya Peran Orang-orang di Sekitar Korban Hubungan Manipulatif

Satu hal yang Hannah pelajari dari pengalamannya itu adalah betapa pentingnya peran perhatian dan dukungan dari orang-orang di sekitar mereka yang terjebak di dalam hubungan manipulatif. Karena tanda-tandanya sulit diketahui, penting bagi kita untuk berempati dan mengenali apaah ada perubahan sikap yang ekstrem dari teman kita, ujarnya.

“Kalau aku cerita ke teman-teman, mereka enggak akan ada yang percaya kalau dia benar-benar manipulatif seperti itu. It makes me second guessing myself again and again. Apalagi sekarang, media sosial semakin banyak digunakan. Banyak orang yang melakukan pencitraan lewat media sosial, sehingga orang-orang lain sulit mengidentifikasi, apakah dia benar-benar manipulatif terhadap pasangannya atau tidak,” tambah Hannah.

Baca juga: Ketika Pacar Ancam Bunuh Diri Saat Hubungan Diakhiri

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya kelompok pendukung dan lembaga advokasi, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Bangka Belitung, Andrew, menginisiasi pembentukan Kementerian Gender dan Pemberdayaan Perempuan di dalam organisasinya.

Program-program kementerian tersebut juga difokuskan pada edukasi dan advokasi kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan seksual, ujar Andrew. Bersama rekan-rekan organisasinya itu, Andrew aktif menjalankan posko pengaduan dan pendampingan untuk para mahasiswa Universitas Bangka Belitung yang menjadi korban kekerasan seksual dan kekerasan dalam pacaran.

“Setahun kemarin ada satu pelaku kekerasan seksual yang korbannya ada sampai 10-20 orang. Dia enggak mengaku. Tapi kami bantu advokasikan ke pihak kampus dan konsultasi untuk pemulihan korban bersama komunitas dan psikolog. Sekarang kasusnya sudah selesai. Yang melapor ke kami cukup banyak yang dilecehkan oleh pacarnya sendiri,” ujar Andrew.

Selama pandemi ini kami juga aktif mengampanyekan ospek bebas kekerasan seksual dan edukasi mengenai kekerasan seksual kepada mahasiswa setiap minggunya,” tambahnya.

Head of Public Relations and Community The Body Shop Indonesia, Ratu Ommaya, mengatakan bahwa keberpihakan pada korban ini adalah hal yang penting, terlebih lagi di tengah adanya kebiasaan banyak masyarakat Indonesia untuk menyalahkan korban kekerasan seksual.

“Kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja dan kepada siapa saja. Bisa menimpa laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Bukan juga terjadi karena perempuan pakai pakaian minim. Karena temuannya, banyak perempuan berpakaian tertutup dan panjang yang jadi korban,” ujar Ratu.

Dukung kampanye “Semua Peduli, Semua Terlindungi #TBSFightForSisterhood” untuk mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), dengan menandatangani petisi di sini.