Women Lead
November 12, 2021

Bagaimana Idola Kpop Menyelamatkan Hidup Saya

Jauh dari kesan fanatik dan histeris, menjadi ‘fangirl’ punya makna mendalam buat hidup saya.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Lifestyle
Share:

Jadi fangirl bukan perkara mudah. Apalagi berdasarkan pengalaman saya sebagai eks wibu, menjadi fangirl dari idol Korea cenderung lebih sering dihakimi. Tidak sedikit orang yang menganggap saya aneh. Oleh gebetan zaman Sekolah Menengah Atas (SMA) dulu, saya bahkan dinilai fanatik, suka berhalusinasi, dan mengabaikan tanggung jawab. Belum lagi label bodoh, emosional, hingga gila.

Mirisnya, labelisasi fans ini sudah ada sejak era The Beatles. Dalam penelitian bertajuk Beatlemania: Girls just want to have fun (1992), Barbara Ehrenreich, Elizabeth Hess, Gloria Jacobs memaparkan, bagaimana Beatlemania yang dahulu didominasi oleh remaja perempuan kerap distigmatisasi.

Bagi masyarakat terutama orang dewasa, Beatlemania dianggap sebagai kesengsaraan, ‘epidemi’, dan The Beatles sendiri hanya pembawa wabah. Sementara, bagi para kritikus musik yang didominasi oleh laki-laki, para fangirl dianggap sebagai monyet dungu yang gemar mendengar musik yang enggak karuan. Stigma ini langgeng sampai sekarang, jadi jangan heran kalau fangirl suka dijulidin

Menurut saya, menjadi fangirl berarti melibatkan fragmen terpenting dalam hidup seorang individu. Tidak jarang ada fangirl yang tumbuh dewasa bersama idolanya. Bagi saya, menjadi fangirl adalah cara Tuhan memberikan saya kesempatan kedua untuk dapat menata hidup dengan lebih baik. Pasalnya, sejak jadi fangirl, cara saya memaknai hidup dan menjalani hari-hari bisa berubah lebih positif dan bersemangat.

Baca Juga: BTS and How Idols Help with Your Mental Health

Pergulatan Mental sebelum Jadi Fangirl

Pada 2018 silam ketika masih bekerja di salah satu firma hukum di daerah Slipi, Jakarta, saya stres berat. Bukan karena pekerjaannya, tapi ada tuntutan dari Papa agar saya bisa lanjut studi S2 atau setidaknya pindah kerja dengan gaji lebih mentereng.

Lama-lama, ekspektasi Papa ini secara tidak langsung membuat saya terbebani. Saya pun mulai membandingkan hidup saya dengan teman-teman lainnya. Pemikiran bahwa “I am not good enough” menggerogoti saya. Saya secara tidak sadar dibentuk menjadi seseorang yang tidak pernah puas dengan kehidupan saya sendiri.

Pada satu titik, saya bahkan tidak ingin bangun. Saya tahu dalam agama Islam, bunuh diri tidak diperbolehkan, jadi alih-alih melukai diri saya sendiri, saya hidup layaknya mayat hidup. Tak punya semangat sama sekali. Tiap pagi ketika bangun untuk kembali bekerja, pasti selalu ada kalimat sama terlintas dalam benak saya, “Oh, gue masih hidup ya.” Bahkan tidak jarang ketika perjalanan di kantor, saya berharap mati saja di jalan karena kecelakaan.

Pikiran-pikiran berbahaya ini memenuhi otak setiap hari dan akhirnya membuat saya lelah. Tidak jarang ketika pulang kerja, saya akan pergi ke cafe dan duduk di pojok ruangan sendirian. Saya akan menangis dalam diam karena pikiran yang kalut. Bahkan ketika sudah rajin beribadah, saya salat 5 waktu, salat dhuha, dan membaca Alquran, episode-episode buruk ini tetap terjadi tanpa permisi selama satu tahun penuh.

Baca Juga: BTS and ARMY: Dismantling Western Hegemony, Breaking Stereotypes

Ditambah lagi saya memang tidak pernah berani pergi meminta bantuan profesional. Alasannya, saya masih tinggal satu rumah dengan orang tua dan saya takut Mama mengetahui kondisi ini lalu bersedih karenanya. Sebagai gantinya, saya mencoba membahagiakan diri dengan cara menghambur-hamburkan uang. Namun, tidak ada satu pun yang membuat rasa bahagia itu bertahan. Saya merasakan sesuatu kehampaan.

Momen Menjadi Fangirl

Episode buruk dalam hidup saya ini perlahan mulai sirna ketika saya mendengar dan membaca lirik lagu BTS. Tepatnya pada Mei 2018, saya mendengar album terbaru BTS, Love Yourself: Tear. Sebagai casual listener, saya tentu antusias dengan album baru mereka ini. Dari semua lagu yang saya dengar, saya jatuh cinta kepada lagu Paradise. Bukan jatuh cinta yang biasa, saya menangis saat tahu maksud lagu ini.

Tiap bait lirik lagu Paradise membuat saya serasa ditampar keras, dihempaskan dari langit ke Bumi, namun di saat bersamaan, saya merasa diberikan pelukan yang hangat juga uluran tangan. Saya merasa ada orang lain yang dapat mengerti rasa sakit dan untuk pertama kalinya saya tak merasa sendirian. Pikiran negatif bunuh diri atau mati kecelakaan itu tak lagi hinggap di kepala.

 Baca Juga: Saat Curhat, Pedulikan Juga Kesehatan Mental Lawan Bicara

Dari lagu ini saya pun merenung, betapa selama ini saya menjadi seorang yang mudah iri dengan keberhasilan orang lain. Pun, saya menyadari harus berubah dan bangkit lagi. Mungkin terdengar hiperbolis bagi orang lain, tapi momen ketika saya menangis sejadi-jadinya mendengar dan membaca lirik BTS telah membuat beban di pundak saya seakan terangkat. Lagu ini telah memberikan saya harapan juga kekuatan. Mulai dari sini, perubahan positif secara perlahan terjadi di dalam hidup saya.

Saya akhirnya berani berbicara jujur pada Mama tentang kondisi mental saya yang tidak sedang baik-baik saja dan meluapkan isi hati saya kepadanya. Dari perbincangan intim itu, Mama berjanji akan memberi tahu Papa tentang kondisi mental saya. Mama saya memenuhi janjinya dan semenjak itu, Papa tidak pernah lagi berbicara tentang beasiswa S2 atau pindah ke kantor dengan gaji lebih tinggi.

Inilah momen saya menjadi fangirl. Saya percaya Tuhan menolong saya atas kuasa-Nya melalui BTS. Oleh karena itu, saya mulai belajar berdamai dengan luka saya dengan cara lebih terbuka pada Mama dan Papa. Kami jadi makin dekat secara emosional sebagai keluarga.

Saya juga tidak lagi menutup-nutupi kondisi ini pada sahabat-sahabat saya. Perlahan-lahan saya mencoba menerima fakta bahwa saya dan orang lain berbeda. Saya punya kecepatan sendiri dalam menjalani hidup, dan tak seorang pun berhak mengaturnya. Tak apa-apa biasa-biasa saja asal saya bahagia.

Sebagai catatan, setiap pengalaman dan perasaan seseorang itu valid. Oleh karenanya, kita tidak bisa seenak jidat menghakimi seseorang yang berbahagia karena identitasnya sebagai fangirl. Sebab, bisa jadi orang yang kamu hakimi itu memiliki kisah yang kurang lebih sama buruknya dengan saya. 

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.