December 02, 2014
Bagaimana Menjadi Positif HIV Membuka Mata Saya

Hidupnya sempat runtuh ketika didiagnosis HIV, tapi laki-laki ini menjadi terdorong untuk mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya.

by Amahl S. Azwar
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Memang kedengarannya klise, tapi seperti semua hal yang klise, ada kebenaran di dalamnya: hidupmu dapat berubah sekejap mata.

Jika diingat-ingat lagi, seharusnya saya bisa menghindar dari HIV. Saya menonton Philadelphia waktu masih SD jadi saya cukup akrab dengan isu tersebut. Pada 1990an, saya menonton beberapa episode Kupu-Kupu Ungu, serial TV lokal yang didanai oleh Ford Foundation dan Kementerian Kesehatan, yang mencoba meningkatkan kesadaran mengenai HIV/AIDS  (Purple Butterfly).

Selain itu, ketika saya baru 17 tahun, saya menghadiri sebuah lokakarya HIV. Saya tahu semua hal yang harus dan tidak boleh dilakukan.

Ketika seorang kerabat terinfeksi HIV karena penyalahgunaan narkotika, saya segera meyakinkan ibu saya untuk memperlakukan dia dengan baik. Saya bilang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita tidak akan terinfeksi hanya karena berjabat tangan dengannya, membiarkan dia menggunakan toilet, atau makan malam bersama!

Jadi mengapa saya masih mendapatkan virus tersebut?

Ada satu hal yang mungkin tidak diperhitungkan oleh beberapa orang: kepercayaan diri yang rendah. Saya tidak bicara mengenai depresi atau kepercayaan diri orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Saya berbicara mengenai kepercayaan diri yang rendah di antara laki-laki gay, baik yang hidup dengan HIV maupun yang tidak.

Sudahlah ditolak oleh masyarakat secara umum karena gay, kehidupan kencan kami pun merupakan medan tempur. Suka atau tidak suka, laki-laki gay yang “sempurna” itu digambarkan sebagai “Adonis, perwujudan boneka Ken” atau (berkat gelombang K-Pop) yang perutnya seperti Siwon dari Super Junior.

(Sedikit catatan: jika kamu menonton serial daring “CONQ”, kamu akan mengerti).

Baca juga: Perjalanan Penerimaan Diri Sebagai Seorang Gay

Dengan tumpukan lemak di badan saya, saya harus bersaing dengan para laki-laki dengan perut kotak-kotak atau lengan berotot, dan sejujurnya, saya merasa tidak punya kesempatan.

Aplikasi-aplikasi seperti Grindr, Scruff, Hornet, dan Growlr juga tidak menolong. Setiap kali ada yang bertanya tentang berat badan saya dan saya menjawab dengan jujur, biasanya saya diblok, tak diacuhkan, atau, jika mereka cukup sopan, akan dijawab “Maaf, kamu bukan tipe saya.”

Saya biasanya mengulang mantra dari penyanyi Gabriele: “Keeping busy everyday, I know I would be okay.” Saya kemudian menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Di kantor, tingkah saya semakin mengesalkan. Saya yakin, menjadikan pekerjaan sebagai hal utama adalah satu-satunya cara untuk mengobati luka saya. Luka akibat penolakan.

Tapi itu hanya di permukaan. Di dalam, saya masih haus perhatian.

Setiap kali selesai bekerja, saya segera membuka aplikasi-aplikasi telepon lagi atau pergi ke tempat-tempat nongkrong gay di Jakarta, siapa tahu beruntung. Tapi ternyata tidak. Saya menjadi putus asa sampai ceroboh.

Jika ada laki-laki yang sedikit keren saja ingin berkencan, dan dia tidak mau pakai kondom, saya pasrah. Hal itu terjadi terlalu sering sampai saya tidak bisa menghitungnya. Jadi ketika kesehatan saya mulai memburuk (berat badan saya turun dengan mudah tapi tidak secara sehat), saya sudah tahu apa yang terjadi pada tubuh saya. Kebodohan saya telah menjerumuskan diri sendiri.

Dokter mengatakan saya beruntung karena saya mengetahui status HIV ini pada tahap-tahap awal, jadi dapat dicegah agar tidak memburuk. Tapi setelah itu, masih saja semuanya runtuh. Dan efek samping obat yang diberikan dokter tidak tertahankan. Obat itu memengaruhi kebiasaan tidur (yang sejak awal tidak baik), perasaan hati, dan membuat saya mual.

Saya jatuh ke dasar sumur paling dalam ketika dipecat dari kantor setelah membuat kesalahan besar (yang saya akui secara penuh. Ini bukan film Philadelphia). Dan kemudian saya berpikir, ini sudah berakhir.

Jika saya tidak punya lagi karier yang bisa saya banggakan, untuk apa lagi saya harus hidup?

Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Saya rindu orang tua saya yang tinggal di Bandung. Setiap malam, saya ingin menjerit. Rasanya hasrat hidup saya sudah hilang.

Akhirnya saya menelepon ibu saya, dan bertanya, bolehkah saya tinggal bersama mereka lagi. Hal itu sangat sulit dan menggores ego saya. Tapi keajaiban terjadi: ternyata dia sangat senang! Demikian juga dengan ayah saya. Mereka bahagia putra bungsunya akhirnya kembali ke rumah.

Momen tersebut menyadarkan saya bahwa saya telah mengabaikan orang-orang terpenting dalam hidup saya, yang saya yakin tidak akan menilai saya dari bobot tubuh, dan akan menerima saya apa adanya. Seluruh aspek diri saya.

Baca juga: Mengurangi Penyebaran HIV/AIDS oleh 3M

Setelah beberapa Minggu, saya menceritakan situasi saya yang sebenarnya pada orang tua, dan mereka menerimanya. Mereka lega saya segera mendapatkan pengobatan yang tepat dan merawat diri saya dengan lebih baik. Orang tua saya sangat mendukung saya.

Saya menghubungi teman-teman lama dan mengabarkan berita besar ini. Saya ingin mereka tahu kondisi saya karena ketakutan terbesar saya adalah sendirian saat maut menjemput. Saya menghapus semua aplikasi gay (perlu waktu untuk melakukannya) karena saya sadar hal itu tidak akan membuat saya bahagia.

Saya memutuskan menjadi penulis lepas agar bisa memiliki lebih banyak waktu luang untuk diri saya sendiri (untuk bersenang-senang, bersantai, dan menikmati hidup). Saya berhenti minum alkohol. Saya mulai melakukan meditasi dan yoga (tidak serajin itu, tapi lumayan lah). Saya bahkan mulai berolah raga tiga kali seminggu dan menerapkan pola makan yang lebih sehat, bukan supaya badan berotot, tapi supaya lebih sehat dan karena saya ingin hidup lebih lama.

Saya bahkan bertemu seseorang yang akhirnya dapat saya panggil “husbro” (itu untuk cerita lain kali) yang negatif HIV, namun dengan luar biasa menerima saya. Ia ganteng luar dalam. Saya tidak bisa meminta pasangan hidup yang lebih baik lagi darinya.

Sekarang, setelah lebih dari setahun didiagnosis positif HIV, saya bisa bilang bahwa mendapatkan diagnosis HIV pada tahap sangat awal adalah hal terbaik yang terjadi pada saya.

Saya memang membuat beberapa kesalahan. Kalau saja saya lebih bijak, saya mungkin tidak akan meninggalkan kantor lama dengan catatan buruk. Jika saja mental saya lebih stabil untuk menahan efek samping obat antiretroviral, saya mungkin akan lebih kuat.

Saya berutang maaf pada mantan-mantan atasan dan mentor saya di kantor lama, dan saya harap, jika mereka membaca artikel ini, mereka dapat memaafkan saya.

Terakhir, saya ingin mengatakan kepada para laki-laki gay muda Indonesia di luar sana untuk membaca cerita saya ini sebagai peringatan. Kamu bisa mendapatkan semua informasi soal kondom dan cara-cara lain untuk melindungi dirimu dari HIV, tapi pada akhirnya, hati dan pikiranmu lah yang akan membuat perbedaan.

Saya mohon, cintai dirimu sebelum mengharapkan orang lain mencintaimu (ya, ini memang klise, tapi seperti hal-hal klise lain, ini adalah kebenaran).

Dan bagi ODHA-ODHA lain, things will go our way, eventually. Just hold on for one more day (ya, itu kutipan dari lagu Wilson Phillips).

Amahl S. Azwar adalah penulis gay yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Ia bisa ditemui di Twitter @mcmahel dan blog www.mcmahel.wordpress.com.