Women Lead
October 11, 2021

‘Banana Fish’ Berani Keluar dari Formula Klasik Genre ‘Shōjo’

Di tengah dominasi cerita cinta heteroseksual dalam genre shōjo, ‘Banana Fish’ hadir menawarkan aksi cadas dan mengangkat isu kekerasan seksual yang kerap luput dari perhatian.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture
Share:

[Spoiler alert]

Banana Fish adalah manga yang ditulis oleh seorang perempuan bernama Akimi Yoshida. Manga ini diserialisasikan dalam majalah manga bulanan Bessatsu Shōjo Comic dan pertama kali terbit pada tahun 1985 dan dirampungkan pada tahun 1994. Dilansir Anime News Network, Banana Fish mendapatkan banyak pujian dari para kritikus dan para penikmat manga pada umumnya. Manga ini berhasil meraih peringkat satu di polling Fifty Best Manga yang diselenggarakan Comic Link pada tahun 1998. Di Jepang, Banana Fish telah terjual lebih dari 12 juta kopi setelah manga ini terbit secara independen dalam 19 volume. Bisa dibilang, popularitas Banana Fish cukup dahsyat. 

Dilansir New York Post, Banana Fish bahkan menaikan pendapatan toko suvenir di Perpustakaan publik New York dari sebanyak USD2,8 juta pada tahun 2014 menjadi USD5,8 juta pada tahun 2019. Perpustakaan publik New York ini memang menjadi salah satu destinasi wisata tur khusus yang disiapkan oleh perusahaan Kinki Nippon Tourist bagi para penggemar Banana Fish yang menginginkan sensasi menjelajah dunia para karakternya.

Banana Fish sendiri bercerita tentang pemuda Irlandia-Amerika berusia 17 tahun, Ash Lynx, yang merupakan pemimpin geng di kota New York dan juga “peliharaan”, penerus, sekaligus kaki tangan salah satu bos mafia paling berpengaruh di Amerika Serikat, Papa Dino. Suatu hari, ia tidak sengaja mengetahui sebuah rahasia berbahaya para petinggi pemerintah Amerika dan Papa Dino yang membuat kakak laki-lakinya meninggal secara tragis. 

Ia kemudian bertemu dengan Eiji Okumura, seorang pemuda Jepang yang kemudian berusaha menguak rahasia ini bersamanya, sekaligus memberhentikan rencana mematikan pemerintah dan Papa Dino yang dikodekan dengan nama Banana Fish. 

Baca Juga: Bagaimana ‘Manga Yaoi' atau 'Boys Love’ Masih Meromantisasi Kekerasan Seksual

Dengan menawarkan premis yang tidak biasa di genre Shōjo--genre yang dikhususkan untuk anak dan remaja perempuan--, Banana Fish meroket ke jajaran serial top 10 anime saya. Berikut ini empat alasan mengapa Banana Fish begitu spesial dan layak untuk dinikmati.

1. Genre Shōjo tapi Penuh dengan Aksi

Banana Fish memiliki cerita yang sangat solid dengan konflik kompleks yang tidak biasa kita temui dalam genre Shōjo. Genre ini umumnya fokus pada kisah percintaan antara dua manusia yang mayoritas pasangan heteroseksual. Tidak jarang kisah cintanya terlalu cheesy dan tidak masuk akal, utamanya karena karakter perempuannya dalam genre ini masih suka digambarkan sebagai seseorang yang bucin dengan cowok tsundere akut yang ngeselin

Banana Fish mampu keluar dari formula klasik kisah cinta dalam Shōjo. Dengan latar konflik gang dan mafia pada tahun 1980’an di Amerika Serikat, Yoshida menyajikan sebuah cerita yang bisa membuat penikmatnya deg-degan setengah mati karena dipenuhi oleh adegan-adegan aksi cadas dari karakter-karakternya. Adegan seperti baku tembak dengan pistol, perkelahian dengan pisau ataupun dengan tangan kosong ala-ala film action disajikan secara apik. 

Ditambah lagi, Ash Lynx sebagai karakter utamanya juga digambarkan lihai berkelahi baik dengan tangan kosong atau dengan senjata dan mempunyai misi untuk menguak dan memberhentikan misi rahasia pemerintah Amerika dan Papa Dino. 

Baca Juga: Dengan Kompromi, Kita Melestarikan Budaya Pemerkosaan 

2. Mengangkat Isu Prostitusi Anak dan Remaja Laki-Laki

Hal lain yang membuat Banana Fish mendapatkan banyak pujian dari para kritikus dan penikmat manga dan anime adalah karena Yoshida selaku penulis mampu mengangkat isu sensitif mengenai prostitusi dan grooming anak laki-laki ke khalayak luas. Di dalam masyarakat patriarkal, perbincangan mengenai prostitusi dan grooming anak laki-laki belum menjadi sebuah isu mainstream yang banyak dibahas, apalagi diperjuangkan. 

Dilansir NL Times, warga kotamadya Eindhoven bahkan shock oleh penelitian tahun 2018 oleh organisasi kesejahteraan Lumens yang menemukan setidaknya 70 anak laki-laki dan laki-laki muda berusia antara 14 dan 22 tahun aktif dalam prostitusi di dalam dan sekitar Eindhoven. Masalahnya, prostitusi anak dan remaja laki-laki dianggap sebagai kasus yang bersifat anomali, sehingga keberadaannya pun dianggap tidak diperhatikan atau bahkan tidak ada. 

Sumber: IMBD

Dengan mengeksplorasi cerita Ash Lynx yang sedari umur 7 tahun telah mengalami kekerasan seksual dan kemudian ditangkap untuk dijadikan prostitusi untuk para laki-laki kelas atas, Yoshida ingin menekankan pada kita tentang keberadaan prostitusi anak dan remaja laki-laki dalam realitas, dan mereka merupakan kelompok rentan yang butuh perlindungan. Dalam hal ini, Yoshida pun dengan baik memberikan kesadaran bagi penikmat karyanya bahwa, hak-hak hidup anak dan remaja laki-laki juga patut diberikan perhatian sama besarnya dengan anak-anak dan remaja perempuan yang terpaksa harus hidup dalam lingkaran setan tersebut. 

Baca Juga: 6 Rekomendasi Manga Josei yang Angkat Isu Perempuan 

3. Menantang Keras Pelecehan dan Kekerasan Seksual

Sebagai orang yang sedari kecil sudah tumbuh dengan manga dan anime, saya paham betul bahwa sampai detik ini pelecehan dan kekerasan seksual dalam lintas genre manga dan anime masih kerap dinormalisasi. Bahkan, tidak jarang karakter yang mengalami pelecehan seksual oleh seseorang yang digambarkan atraktif akan mengeluarkan emosi tereru alias sebuah emosi malu namun bahagia. Tidak mengherankan jika kemudian, manga dan anime yang bergenre dewasa kerap meromantisasi adegan kekerasan seksual bahkan pemerkosaan dan melihatnya sebagai sebuah tanda cinta dari pasangan. Hal inilah yang sangat ditentang oleh Yoshida. 

Dengan menekankan pada cerita Ash, Yoshida secara berani menekankan pada poin penting bahwa tindakan pelecehan dan kekerasan seksual apa pun adalah tindakan kejahatan yang serius. Yoshida selalu menekankan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual utamanya pemerkosaan sebagai sebagai suatu yang negatif dan traumatis secara universal, kontras sekali dengan tema umum fantasi pemerkosaan manga atau anime bergenre dewasa

Misalnya, saat bokong Ash diremas oleh seorang dokter, ia tidak segan-segan meninju dokter tersebut dan mengomeli temannya yang menegur Ash karena menganggapnya terlalu kasar. Atau dalam konteks pemerkosaan, Yoshida dengan baik menggambarkan betapa hancur mental Ash, sampai pada titik ia ingin mengakhiri hidupnya.

4. Genre Shōjo yang Menampilkan Hubungan Antar Laki-Laki secara Setara

Hal yang membuat Banana Fish semakin unik adalah kendati ia diorbitkan sebagai genre Shōjo, manga dan anime ini mengeksplorasi hubungan asmara sesama laki-laki antara Eiji dan Ash dengan tidak terjebak dalam hubungan stereotipikal uke-seme (bottom-top). Tidak ada pihak yang terlalu maskulin dan tidak ada juga pihak yang terlalu feminin. 

Walaupun Ash digambarkan lihai berkelahi dan menggunakan senjata api yang identik dengan maskulinitas, ia juga digambarkan sebagai bishounen atau laki-laki cantik. Ia pun tidak digambarkan sebagai seseorang yang arogan, agresif, dan enggan memperlihatkan kerapuhannya pada orang lain sebagai ciri khas dari maskulinitas. Yoshida justru menggambarkan Ash sebaliknya: Seseorang yang rapuh dan perlu orang lain yang mampu memberikannya sandaran hidup. 

Eiji di satu sisi juga digambarkan sebagai tidak masuk dalam trope uke karena ia tidak digambarkan lemah. Ia memiliki tekad yang kuat, sangat berani mengambil pilihan yang bahkan membahayakan hidupnya, dan mampu menjadi penopang mental bagi Ash. Keduanya ada dalam relasi yang setara. Tidak ada yang yang mendominasi, mereka membutuhkan dan saling menguatkan satu sama lain dengan bersikap terbuka secara emosional.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.