May 12, 2020
Berbagi Peran Domestik: Lebih Banyak Dibahas Daripada Dilakukan

Upaya peningkatan kesadaran laki-laki menjalankan tugas domestik telah lama dilakukan, tapi masih minim realisasi.

by Lia Toriana
Issues // Gender and Sexuality
Kesetaraan Gender Relasi Sehat_Karina Tungari
Share:

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tanpa kita perkirakan sebelumnya, kebijakan jaga jarak dan beraktivitas di rumah belum juga usai akibat pandemi COVID-19. Dalam sebuah pertemuan virtual, saya bertanya kepada sejumlah kawan perempuan tentang pembagian peran domestik. Saya tidak begitu terkejut saat sebagian besar dari mereka bercerita lebih lelah dari biasanya. Pasalnya, mereka harus mengerjakan tugas kantor dan melakukan pertemuan virtual dengan tim kerja, mengatur dan menyiapkan pertemuan virtual tadi, memasak untuk keluarga, menemani anak “bersekolah di rumah”, serta membereskan kesemrawutan rumah.

Tidak hanya kawan-kawan perempuan yang sudah menikah, mereka yang masih tinggal dengan orang tua pun akan lebih diandalkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ya, karena semata-mata mereka perempuan.

“Setinggi apa pun pendidikannya, perempuan akan berakhir di kasur, dapur, dan sumur” adalah racun patriarkal yang masih bercokol di kepala banyak orang sampai sekarang.

Kesadaran untuk mendorong peran laki-laki di dalam pembagian tugas dan peran rumah tangga atau domestik banyak disebarkan beragam pihak. Promosi, ajakan, dan kampanye dilakukan untuk mendorong laki-laki ke dapur, sumur, dan kasur. Dari jargon “laki-laki peduli” sampai berharap mewujud “laki-laki baru”.

Alexandra Bradner, profesor filsafat dari Universitas Kentucky, Amerika menulis makalah “Some Theories on Why Men Don’t Do as Many Households Tasks”. Ia memaparkan tiga hipotesis yang menjelaskan fenomena (bahkan kultur) tersebut. Jauh sebelum Bradner, sosiolog Ann Oakley dalam bukunya The Sociology of Housework (1974) telah menyinggung kondisi sosial tersebut.

Baca juga: 5 Cara Dobrak Stereotip Peran Gender dalam Keluarga

Menurut Bradner, terdapat sejumlah faktor, seperti pembagian kerja dalam rumah tangga dan kultur apresiasi, yang memengaruhi perbedaan setiap pihak dalam menilai peran dan kepuasan dalam rumah tangga. Namun masih sedikit penelitian yang bertujuan memahami alasan mengapa persepsi perempuan dan laki-laki kerap berbeda dalam hal proporsi pekerjaan rumah tangga.

Ada setidaknya tiga hipotesis yang patut dipertimbangkan untuk kita memahami situasi ini.

Pertama, hipotesis epistemik (the epistemic hypothesis). Dugaan ini kuat berasal dari pola pengasuhan yang diterima laki-laki dan perempuan sejak masa kecil. Saat kecil, mereka tidak melihat sang ayah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sementara ibu menjalankan semua tugas domestik tersebut. Pemahaman serta pengalaman masa kecil membentuk persepsi serta pola perilaku, baik laki-laki maupun perempuan. Ini membuat laki-laki merasa tidak perlu melakukan tugas rumah tangga karena perempuan (dengan inisiatif atau terpaksa) akan tuntas menyelesaikannya. Perempuan pun tidak berhenti merasa bersalah jika tidak terlibat dalam peran rumah tangga karena laki-laki tidak lihai mengambil perannya.

Kedua, hipotesis motivasi (the motivational hypothesis). Laki-laki bisa saja mengambil inisiatif dan tergerak untuk melakukan apa yang seharusnya dibenahi, namun mereka merasa pekerjaan tersebut tidak lebih penting dan terlalu remeh. Seorang ayah bisa saja menemani anaknya menyelesaikan tugas sekolah, tapi hal itu terlalu “kecil” dilakukan daripada pekerjaan mereka di ruang publik yang maskulin.

Keberadaan habituasi atau semacam komunitas yang isinya adalah para suami atau laki-laki melek gender juga penting. Bukan hanya untuk saling mengingatkan, tetapi menerapkan walk the talk.

Contoh lain wujud hipotesis kedua ini adalah laki-laki sering kali enggan menjalankan pekerjaan rumah tangga (meski saya lebih setuju menyebutnya “alasan”) karena mereka tidak ingin dikritik oleh perempuan di dalam rumah, baik oleh pasangan, ibu, maupun saudari perempuannya. Para laki-laki tidak sanggup menerima kritik dan keluhan dari pihak-pihak yang justru tidak suka pada hasil pekerjaan rumah tangga tersebut. Cuci piring yang memakan waktu lama, menyapu yang masih menyisakan kotoran, atau cucian yang tidak memisahkan pakaian putih dan berwarna, serta lain sebagainya.

Ketiga, hipotesis struktural (the structural hypothesis). Laki-laki sebetulnya mau mengambil peran dan menjalankan pekerjaan rumah tangga, mereka tidak malu dan tanpa ragu melakukannya. Hanya saja, aturan di tempat pekerjaan membatasi mereka. Laki-laki tetap diminta untuk lembur sampai malam bahkan akhir minggu. Laki-laki ditugaskan ke luar kota lebih sering daripada perempuan. Bahkan, jarang sekali perusahaan memberi cuti persalinan yang cukup lama bagi ayah untuk menemani istri dan berbagi peran menjaga bayi.

Ya, secara struktural, sosial, budaya, ekonomi serta politik, peran laki-laki untuk lebih banyak terjun di urusan rumah tangga masih lebih banyak dikampanyekan daripada dipraktikkan.

Dari diskusi menuju realisasi

Lantas apa yang semestinya dilakukan? Pertanyaan ini lebih tepat ditujukan kepada laki-laki untuk memahami kompleksitas peran rumah tangga yang dijalani perempuan. Membuka komunikasi setara bisa menjadi langkah awal. Percakapan tidak lagi berpusat pada “Apa kontribusi yang sudah dilakukan masing-masing?”, tetapi bergeser pada “Apa yang sudah saya lakukan untuk mengurangi beban peran serta pekerjaan rumah tangga yang dilakukan pasangan?”.

Baca juga: Peran Laki-laki dalam Isu Kesetaraan Gender

Budaya patriarkal juga memelihara pemahaman bahwa peran serta pekerjaan di ruang publik kerap dianggap lebih tinggi derajatnya daripada peran serta pekerjaan rumah tangga. Pada konteks di mana perempuan atau istri adalah juga ibu bekerja di ruang publik, tugasnya menjadi berlipat ganda. Apakah para suami menyadari kondisi dan kenyataan tersebut? Lantas, apakah para suami sudah mengambil peran yang adil untuk meringankan tugas domestik?

Keberadaan habituasi atau semacam komunitas yang isinya adalah para suami atau laki-laki melek gender juga penting. Bukan hanya untuk saling mengingatkan, tetapi menerapkan walk the talk. Dari pemahaman menjadi kenyataan. Ruang tersebut juga bisa digunakan untuk bertukar pemahaman dan pengalaman para laki-laki dan suami.

Terakhir adalah pentingnya apresiasi dan melakukan rutinitas bersama yang menguatkan pembagian peran di dalam rumah tangga. Tugas mendampingi anak menyelesaikan PR bisa dilakukan bersama berbeda hari; memasak bisa sesekali pesan delivery sehingga tidak harus dimasak oleh istri, membereskan rumah bisa saling bergantian istri dan suami; dan lain sebagainya.

Mengubah pola pikir membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Upaya mewujudkan dunia yang adil dan setara masih panjang, jadi mari sama-sama berjuang.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Lia Toriana adalah pegiat isu kesetaraan dan kemanusiaan. Hobi menulis di tengah waktu luang demi menjaga kewarasan menjalani peran sebagai ibu dari tiga anak perempuan. Bisa bertukar pesan dan tanggapan di IG @liatoriana