January 30, 2020
Dokumenter ‘Semesta’ Soroti Para Perempuan Penjaga Alam

Dokumenter ‘Semesta’ memperlihatkan langkah dan perjuangan dua perempuan dari Jakarta dan Papua dalam merawat alam.

by Selma Kirana Haryadi
Culture // Screen Raves
#FilmSemesta
Share:

Alam dan lingkungan selalu dikatakan memiliki keterkaitan dengan perempuan dan berbagai pembawaannya. Dalam esainya yang berjudul “Women, Ecology, and Health: Rebuilding Connection”, ekofeminis Vandana Shiva mengatakan bahwa besarnya perjuangan yang harus dilakukan untuk menghasilkan makanan membuat perempuan dapat menawarkan wawasan ekologis yang lebih dalam, ketimbang para pakar internasional maupun laki-laki di dalam lingkungan mereka sendiri.

Alam merupakan senyawa yang menjaga sekaligus memberi manusia kehidupan, seperti perempuan yang memberi kehidupan sekaligus menjaga dan merawat anak-anaknya dengan segenap jiwa.

Pesan itulah yang berusaha ditampilkan dalam dokumenter Semesta, dengan turut mengangkat kisah dua perempuan yang mengimplementasikan konsep mengenai keterkaitan perempuan dan alam melalui langkah nyata di lingkungan sekitarnya.

“Perempuan dan alam is a match made in heaven. Perempuan punya keterkaitan yang unik dengan alam,” kata Siti Soraya Cassandra, atau Sandra, salah satu sosok yang kisahnya diangkat dalam Semesta garapan Tanakhir Films, yang ditayangkan di bioskop mulai 30 Januari.

Dokumenter Semesta, yang diproduksi oleh aktor Nicholas Saputra dan produser Mandy Marahimin, berusaha menampilkan berbagai lapisan di dalam masyarakat Indonesia yang multikultural. Keutamaan merawat alam dalam perspektif agama bukanlah satu-satunya pesan yang mengemuka, tapi juga pesan-pesan toleransi, gotong royong, dan keadilan dalam kehidupan sosial manusia.

Dari tujuh sosok yang disorot, dua sosok perempuan hebat yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga alam. Sandra berusaha menciptakan ruang hijau di tengah bangunan-bangunan tinggi dan semburan asap gas buangan yang tiada henti di kawasan urban. Sementara Almina Kacili dari Papua Barat, berjuang menjaga kekayaan laut dengan berpegang teguh pada agama dan peninggalan leluhur. 

Sandra menggagas kegiatan pertanian perkotaan Kebun Kumara di Cilandak, Jakarta Selatan. Almina adalah pelopor dan pengelola sasi, sebuah tradisi menjaga kekayaan laut yang langka, sebagai sistem turun-temurun di sebuah desa di Papua Barat. Keduanya berjuang dengan caranya masing-masing, tapi dengan satu tujuan besar untuk menjaga alam tetap lestari.

Sutradara Semesta, Chairun Nissa, mengatakan peran perempuan dalam melestarikan alam sangat besar.

“Kita menemukan bagaimana perempuan di daerah juga memiliki struggle yang sama untuk mewujudkan kesetaraan, dalam artian untuk mengolah lahan dan kesetaraan untuk berbagi peran bahkan dalam keagamaan. Dua cerita dari Jakarta dan Papua ini cukup mewakili bagaimana peran perempuan bisa berdampak besar,” ujarnya pada acara Press Screening Semesta (22/1).

Baca juga: Dokumenter ‘Semesta’ Tampilkan Sisi Lain Agama yang Merawat Alam Indonesia

Dari langkah sederhana

Keresahan Sandra timbul ketika dirinya merasa tidak cocok dengan alur kehidupannya sebagai pegawai korporat. Awalnya, tak pernah terlintas di benak Sandra untuk mendirikan ruang hijau di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta. Apalagi untuk mendirikan Kebun Kumara yang berusaha melibatkan banyak orang untuk melakukan hal yang tidak lumrah dilakukan orang kota kebanyakan. Tapi Sandra semakin menyadari bahwa orang kota tidak menyadari hal-hal sederhana, seperti cara bertindak pada alam, apa yang dimakan, dibeli, sampai dibuang.

“Itu bertepatan dengan ada lahan di kantor Dira (suami Sandra), yang pemiliknya sudah kita kenal. Kita ngobrol, gimana kalau lahan ini kita jadikan tempat yang asri di mana orang kota bisa belajar tentang alam. Jadi orang kota enggak harus jauh-jauh kalau mau belajar tentang alam,” kata Sandra kepada Magdalene (23/1).

Berdiri sejak 2016, Kebun Kumara bukan berjalan tanpa hambatan. Berbagai kendala harus Sandra hadapi, mulai dari keengganan orang untuk belajar berkebun, sampai kualitas lahan yang tidak terlalu baik.

“Awalnya enggak ada orang yang mau belajar sama kita. Orang kota ‘kan, kayak, ngapain kita berkebun? Mereka mungkin ngeliat kita kayak ngapain sih ini bocah-bocah berkebun, kita juga bukan ahli. Lahan kita juga dulu enggak bagus-bagus banget,” ujar Sandra.

“Apalagi kita bukan kayak jualan sepatu yang kalau enggak laku, besoknya bisa ganti jualan kaos. Kita jualan ide, sebuah gagasan, dan sebuah nilai. The business is about the value dan kita berharap impact-nya juga ada,” tambahnya.

Tapi, satu hal yang Sandra yakini adalah sebuah hal yang diawali dengan niat baik, pasti akan membukakan jalan-jalan terhadap berbagai solusi.

“Ketika kita hampir putus asa, ada saja jalannya. Kita ketemu banyak mentor bisnis di sepanjang jalan,” jelas Sandra.

Saat ini, Kebun Kumara telah berkembang menjadi bisnis yang menawarkan jasa pelatihan berkebun dan membuka ruang hijau, di antaranya di sekolah-sekolah di Jakarta.

Baca juga: Nicholas Saputra Soal Pencerahan Lewat Alam dan ‘Selfie’

Merawat alam

Awalnya, Almina dan para perempuan Desa Kapatcol di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, hanya bisa menonton para lelaki desa menjalankan sasi. Lama-kelamaan, Almina merasa kurang tepat bila ia dan perempuan lainnya hanya berdiam diri menunggu para lelaki pulang ke rumah.

“Bapak-bapak pulang (dari melakukan sasi) dengan membawa lola (hewan laut) yang dimasukkan ke dalam karung-karung. Kita rasa, kenapa bapak-bapak bisa, tapi kita perempuan tidak bisa? Jadi kami meminta tempat (untuk melakukan sasi) itu langsung dari pemiliknya,” kata Almina kepada Magdalene (23/1) di Jakarta.

Tekad kuat dan keterampilan para perempuan dalam menjalankan sasi membuat seluruh warga desa sepakat untuk mengalihkan sasi sepenuhnya diurus para perempuan. Di bawah komando Almina, para perempuan Desa Kapatcol berkomitmen menjalankan tradisi turun-temurun itu sampai hari ini.

Almina juga mengelola pembagian kerja para perempuan ketika sasi dilaksanakan. “Ada yang menyelam, memasak, mencatat, ada bagian konsumsi. Ada juga yang bertugas mengundang bapak-bapak untuk melayani (menyiapkan makanan dan minuman) ketika kami pulang,” tambahnya.

Sistem sasi ternyata tak terlepas dari ajaran agama dan adat setempat. Proses pelaksanaannya selalu diawali dengan ibadah gereja untuk memohon berkah Tuhan.

“Kalau (sasi) mau kita buka, kita adakan ibadah di gereja. Sebelumnya sudah kita informasikan, kita sudah panggil ibu-ibu. (Biota atau hewan laut hasil sasi) kita bawa ke gereja untuk didoakan. Kita minta kepada Yang Mencipta, Yang Maha Kuasa. Di mana pun kita berada, kita tetap doakan tempat sasi itu,” kata Almina.

“Adatnya, kita taruh sirih, pinang, dan kapur ke laut. Mama bilang, kalau dalam bahasa, artinya ‘buka sasi, Yang Maha Kuasa, Yang Menjaga laut ini. Ini kami punya persembahan berupa sirih pinang’,” tambahnya.

Sandra dan Almina hanyalah dua dari banyaknya perempuan lain yang berkontribusi dalam menjaga alam di sekitarnya. Keduanya membuktikan bahwa kedekatan manusia dengan alam merupakan sebuah keniscayaan yang seharusnya tak pernah terputus. Terlebih dengan perempuan, yang memiliki berbagai karakteristik yang menyerupai karakteristik alam.

Nature disebut mother nature karena it’s motherly, it’s giving, it’s about love, and it’s nurturing. Karakter itu bukan enggak ada di pria, tapi sangat kuat ada di perempuan,” kata Sandra.

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Di tengah tumpukan tugas kuliahnya, Selma suka mendalami isu-isu politik, gender, dan hak asasi manusia. Hubungi Selma di Instagram @selma.kirana.