Women Lead
December 17, 2020

Pacar Tukang ‘Gaslighting’ Menjebakku dalam Hubungan Toksik

Selama lima tahun aku tinggal dalam hubungan bermasalah, baru sekarang aku sadar telah mendapat kekerasan emosional dari mantan pacarku.

by Aulia Ardista
Lifestyle
Toxic Relationship_KarinaTungari
Share:

Pacar Suka Bohong - Dari awal hubungan saya, intuisi saya mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang tepat untuk saya. Namun, butuh lima tahun bagi saya untuk melewati kekerasan emosional dari mantan pacar saya sebelum saya bisa membebaskan diri darinya. Waktu yang cukup untuk membuat saya menyadari bahwa saya telah menormalisasi kekerasan tersebut dan khawatir bila saya mencari bantuan, saya akan mencemarkan nama baiknya.

Jadi, bagaimana saya bisa sampai menjalin hubungan seperti ini? Hubungan ini dimulai dengan tekanan sosial dari teman-teman saya. Mantan saya adalah laki-laki yang populer, jadi semua orang ingin saya menerimanya sebagai pacar. Seorang teman memarahi saya karena bersikap sombong. Yang lainnya berkata bahwa saya tidak layak dikejar olehnya jika saya terlalu jual mahal karena saya tidak begitu cantik atau menyenangkan. Sejauh yang saya ingat, tidak ada yang meyakinkan saya bahwa tidak apa-apa untuk mengatakan tidak jika saya tidak ingin bersamanya. Semua orang ada di pihaknya. Begitulah cara saya memutuskan untuk menjalin hubungan bersamanya, dengan harapan bahwa intuisi saya hanyalah prasangka buruk semata.

Baca juga: Aku Berhasil Memutus Rantai Kekerasan dalam Pacaran

Pada tahun pertama, hubungan kami berjalan dengan baik, tetapi setelah itu segalanya mulai berubah. Bahkan saat saya masih berjuang untuk mencintainya, dia berharap banyak dari saya dan dia akan membuat saya merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi harapannya, dan karena saya tidak mencintainya seperti dia mencintai saya. Ketika saya memberi tahu dia tentang masalah psikologis saya, dia menuduh saya mengada-ada. Itulah kenapa penilaian diri saya semakin hari menjadi semakin rendah.

Saya tidak menyukai diri saya sendiri ketika saya bersamanya. Alih-alih menjadi versi terbaik dari diri saya, saya menjadi yang terburuk. Saya mengisolasi diri saya sendiri dan merasa seperti dimiliki olehnya. Dia memberi tahu saya keburukan orang-orang dan sebagai orang yang tertutup, saya percaya padanya. Saya percaya bahwa dia adalah satu-satunya yang bisa saya percayai. Saya percaya bahwa saya tidak boleh memberi tahu siapa pun bahwa dia mengancam akan melakukan "sesuatu yang bodoh" jika saya meninggalkannya.

Pacar Suka Bohong

Pada suatu titik, saya bertemu dengan seorang teman laki-laki dan mulai berselingkuh dengannya. Saya bingung dengan perasaan saya, saya jadi pacar suka bohong. Tetapi saya melihat sosok penyelamat dalam diri teman saya ini. Dari dia, saya menjadi sadar akan segala kebohongan yang dicekoki pacar saya: Bahwa saya sulit untuk dicintai, saya tidak akan pernah menemukan laki-laki yang lebih baik, dan bahwa setiap hubungan itu sama saja. Saya percaya kata-kata pacar saya bahwa yang terbaik adalah tetap bersamanya daripada harus memulai hubungan yang baru meskipun masalah terus menghujani kami. Kata dia, toh relasi baru tidak akan ada bedanya.

Baca juga: Pelajaran Berharga dari Hidup Bersama di Usia 19

Saya juga mulai memikirkan apa yang teman-teman saya katakan, dan menyadari bahwa pendapat mereka seharusnya tidak penting. Teman-teman saya telah berkontribusi menjebak saya dalam situasi ini, dan saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk "melarikan diri" dari pacar saya. Jadi, ketika saya sekolah di luar negeri, saya memutuskan hubungan dengan pacar saya untuk selamanya. Saya juga tidak melanjutkan perselingkuhan saya dengan teman laki-laki saya tadi karena dia juga sebenarnya punya pacar waktu itu.

Namun, saya masih belum menyadari bahwa selama ini saya berada dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan emosional sampai pada akhirnya saya membicarakan hal ini dengan teman dekat saya setahun lalu. Aneh rasanya, selama berpacaran dengan orang tersebut, tidak pernah terlintas gagasan bahwa saya telah terjebak di dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan. Bagaimana bisa saya begitu buta? Mungkin karena saya tidak memiliki panutan hubungan yang sehat. Mungkin juga karena saya terjebak di zona nyaman, bahkan saat sebenarnya tidak ada yang membuat saya nyaman sama sekali di hubungan ini. Apa pun alasannya, hal ini menjelaskan keinginan bawah sadar saya untuk lari dari pacar saya dan memulai hidup baru.

Agar tidak kembali dalam siklus hubungan yang sama, sadari sepenuhnya masalah yang timbul dari hubungan terdahulu. Jangan menyangkalnya, belajar darinya, dan pahami apa yang sebenarnya membuat suatu hubungan menjadi penuh kekerasan atau tidak.

Mantan Abusive Minta Balikan

Saat mantan saya mulai merundung saya lagi, kali ini secara online, teman saya berkata, “Abaikan saja dia. Dia hanya mencoba menjadi pahlawan kesiangan lagi. Dia menyalahkan dirimu, tetapi pada akhirnya dia pasti akan membuatmu memohon agar kembali rujuk dengannya. Tentu saja, dia akan menerimamu. Tapi setelah itu, dia mungkin akan memberi tahu semua orang betapa pemaafnya dia dan betapa tidak bersyukurnya kamu karena telah menyakiti pacar seperti dia.”

Nasihat lain dari teman saya adalah, “Bukan urusan kamu jika dia bersumpah untuk tidak memiliki pacar lain setelah kamu. Dia adalah laki-laki dewasa yang harusnya tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Saya yakin dia hanya mencoba meyakinkanmu bahwa dia adalah orang yang luar biasa setia”. Kata-kata teman saya ini adalah pukulan keras bagi saya, mendorong saya untuk mengevaluasi kembali segalanya dan memberikan saya keberanian untuk move on.

Baca juga: Kekerasan dalam Pacaran Fenomena Sunyi di Indonesia

Sekarang, bahkan setelah saya mempunyai pacar baru yang juga merupakan sahabat saya, saya terkadang masih merasa gelisah. Masalah kepercayaan membuat saya sering bertanya-tanya apakah saya telah membuat keputusan yang salah. Saya juga membaca bahwa perempuan yang sebelumnya pernah terjebak dalam hubungan penuh kekerasan cenderung masuk ke dalam lingkaran yang sama. Namun, psikolog saya mengatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi pada saya karena saya sepenuhnya menyadari masalah yang timbul dari hubungan saya dulu. Saya tidak menyangkalnya, saya telah belajar darinya, dan saya paham apa yang sebenarnya membuat suatu hubungan menjadi penuh kekerasan atau tidak.

Saya secara terbuka membahas masalah ini dengan pacar saya dan dia berkata, "Jika kamu atau psikologmu menganggap saya abusive, kamu boleh meninggalkan saya." Jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa saya tidak akan meninggalkan dia, tetapi saya merasa kata-katanya menghibur. Bagaimana pun, saya tahu bahwa saya tetap bersamanya karena saya ingin, bukan karena ketakutan bahwa saya tidak punya pilihan lain.

Artikel ini diterjemahkan dari versi aslinya dalam bahasa Inggris oleh Jasmine Floretta V. D.

Aulia Ardista mempelajari Cultural Policy di Skotlandia. Saat ini dia menjadi sukarelawan di peternakan di Inggris, mewujudkan impiannya menjalani hidup minimalis di alam. Dia berutang budi pada filosofi Zen, hewan, dan Game of Thrones.