February 11, 2020
Di Mana Perempuan Muda Indonesia?

Perempuan muda di Indonesia memainkan peran signifikan dalam ranah sosial dan politik namun sering dipandang sebelah mata.

by Annisa R. Beta
Issues // Politics and Society
Share:

Ada sekitar 31 juta perempuan muda berusia 16-30 tahun di Indonesia. Kiprah mereka banyak dielu-elukan di masyarakat ketika terkait dengan kreativitas, apalagi dunia mode.

Di tahun 2018, misalnya, industri mode menyumbang US$8,2 miliar untuk ekonomi Indonesia, dan pengusaha atau pekerja di bidang mode kebanyakan perempuan muda.

Di luar dunia mode, perempuan muda di Indonesia sebenarnya memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat, baik dalam ranah sosial dan politik. Sayangnya, karena ketidakpedulian akan peran perempuan—apalagi perempuan muda—yang berakar para ketidaksetaraan gender sudah meresap dalam sistem masyarakat, peran penting mereka sering dipandang sebelah mata.

Di media, misalnya, ketika nama Tsamara Amany muncul di pemilihan umum tahun lalu, liputannya justru fokus ke detail-detail sensasional, seakan-akan meragukan kualitas Tsamara sebagai seorang politikus.

Diskusi mengenai gerakan mahasiswa juga bias gender. ‘Wajah’ mahasiswa atau aktivis muda sering digambarkan sebagai kelompok yang maskulin. Padahal, banyak gerakan sosial yang progresif dan inovatif dipimpin oleh perempuan muda.

Menciptakan perubahan

Penelitian saya yang fokus kepada gerakan kelompok perempuan Muslim muda menunjukkan adanya ketidakpedulian masyarakat terhadap perempuan muda.

Padahal, komunitas seperti Hijabers Community, Dunia Jilbab, dan Peduli Jilbab sudah bertahun-tahun memberikan ruang bagi perempuan muda Muslim untuk berorganisasi, berbagi, dan belajar mengenai Islam.

Jumlah pengikut mereka di media sosial sudah jutaan, jauh lebih tinggi daripada kelompok yang dipimpin kebanyakan laki-laki. Ketika mereka mengadakan pengajian, ratusan, bahkan kadang ribuan, perempuan muda akan datang.

Sayangnya, liputan mengenai komunitas Muslimah ini justru berfokus pada gaya berpakaian dan mengesampingkan keseriusan mereka dalam mempelajari dan membagikan ajaran Islam.

Hal ini juga terlihat pada gerakan perempuan muda yang lain.

Gerakan feminis muda daring (online) “Lawan Patriarki”, misalnya, berperan penting dalam protes mahasiswa September 2019 lalu. Kelompok ini mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) secara konsisten, mengunggah berbagai post di akun media sosial yang menjelaskan isu-isu penting yang diangkat dalam protes, dan mendorong perempuan muda untuk berpartisipasi. Namun wacana dan representasi visual demo mahasiswa di media konvensional yang kita lebih banyak lihat justru didominasi anak muda laki-laki.

Baca juga: Pentingnya Dorong Keterlibatan Perempuan Muda dalam Sektor Pertanian

Bingkai baru

Saya melihat jarang sekali ada pembahasan serius tentang peran perempuan muda dalam dinamika sosial-politik masyarakat Indonesia. Kebanyakan penelitian berfokus pada perempuan muda sebagai subjek yang hidupnya penuh risiko. Seperti misalnya penelitian perempuan muda terkait pernikahan dan kehamilan muda, perdagangan manusia, atau rendahnya akses dan kualitas pendidikan mendominasi kajian tentang perempuan muda di negeri ini. Hal ini wajar karena Indonesia memang negara berkembang.

Di sisi lain, penelitian mengenai partisipasi perempuan Indonesia pada level politik formal cenderung didominasi kajian mengenai perempuan dewasa (mereka yang berusia lebih dari 30 tahun) dan melupakan perbedaan akses, kesempatan, kondisi finansial, modal sosial (social capital), dan modal budaya (cultural capital) yang dimiliki perempuan Indonesia dari generasi yang berbeda.

Menurut Stuart Hall, salah satu pendiri bidang cultural studies atau kajian budaya asal Inggris, kajian mengenai politik atau ekonomi tidak dapat lepas dari budaya. Budaya di sini tidak hanya terkait dengan yang tradisional. Budaya adalah berbagai hal dan tindakan yang kita gunakan dan lakukan sehari-hari. Dilupakannya budaya dalam kajian sosial dan politik adalah salah satu alasan kenapa peran perempuan muda dipinggirkan.

Anita Harris, peneliti dari Deakin University, Australia, melihat perempuan muda cenderung dipinggirkan dalam kajian politik, sehingga praktik politik yang dipimpin perempuan muda tidak perlu dan tidak dapat dianalisis menggunakan kerangka teori sosial dan teori politik yang konvensional.

Baca juga: Konferensi Iklim Didominasi Laki-laki, Saatnya Tingkatkan Keterlibatan Perempuan

Kelompok feminis muda seperti Lawan Patriarki atau kelompok perempuan Muslim muda seperti Hijabers Community tidak menggunakan teknik-teknik yang kontroversial yang banyak menarik perhatian media. Mereka justru menggunakan elemen-elemen kehidupan sehari-hari (everyday life) untuk menarik minat pengikutnya.

Melalui obrolan ringan, pengajian, tutorial, ‘sharing session’, pelatihan mengenai kewirausahaan, diskusi mengenai pentingnya ta’aruf dan menikah muda, kelompok Hijabers Community atau Peduli Jilbab berhasil meyakinkan pengikutnya kalau gaya hidup Islami bisa dijalani sejak dini dan oleh siapa saja. Terlebih lagi, ketika diperlukan, mereka pun dapat mengajak pengikutnya untuk mendukung kandidat politik tertentu.

Lawan Patriarki melalui kelompok diskusi di Whatsapp atau Line Chat dan juga unggahan mengenai feminisme menyalakan lagi bara api pergerakan feminisme di Indonesia. Kelompok ini membuka jalan untuk perempuan (dan laki-laki) muda di berbagai kota di Indonesia untuk memahami pentingnya menantang dominasi sistem patriarki di masyarakat.

Perempuan muda selalu dapat menemukan cara-cara dan ruang baru yang menantang cara berpikir lama. Potensi perempuan muda di bidang kreatif seperti di dunia mode atau kerajinan tangan tidak meniadakan kemampuan mereka dalam mendorong perubahan sosial. Karenanya, kajian tentang perempuan muda di Indonesia dan Asia pada umumnya memerlukan cara pandang baru yang lebih ramah pada perbedaan dan pembaharuan cara berpikir.

Aisha Amelia Yasmin berkontribusi pada penerbitan artikel ini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Annisa R. Beta adalah dosen Cultural Studies, School of Culture and Communication, Faculty of Arts, University of Melbourne.