Women Lead Pendidikan Seks
November 24, 2022

Jangan Asal Buang, Ini Cara Bijak Donasi Baju saat Bencana

Berikut cara bijak berdonasi baju saat bencana, termasuk gempa Bumi di Cianjur, agar tidak asal buang dan mencemari lingkungan.

by Anjani Tri Fatharini
Issues
Donasi ARMY
Share:

Gempa Bumi dengan magnitudo 5,6 yang berpusat di Cianjur, Jawa Barat, (21/11) memicu ratisan korban jiwa. Tak cuma itu, ratusan bangunan rusak parah, jumlah korban yang mengungsi pun melampaui 13 ribu jiwa.

Bencana ini memanggil para pegiat kemanusiaan untuk bergerak menggalang donasi uang maupun barang-barang, salah satunya adalah pakaian bekas.

Aksi cepat warga yang menggalang donasi ataupun memberikan sumbangan patut diacungkan jempol. Namun, langkah kita berdonasi – khususnya berbagi pakaian bekas – mesti hati-hati. Sebab, niat baik ini bisa menjadi masalah baru bagi lingkungan maupun penyintas bencana jika tidak dilakukan secara bijak. Tulisan ini akan mengulas bagaimana hal tersebut mungkin saja terjadi.

Baca juga: Gempa Cianjur, Gempa Dangkal yang Lebih Destruktif

Pentingnya Pemilahan Baju Bekas

Donasi pakaian dapat menjadi masalah baru ketika pakaian tidak dipilah saat didonasikan. Proses ini menjadi krusial karena tidak semua pakaian dapat digunakan dan dalam keadaan layak. Misalnya, pakaian yang berjamur, robek, hingga berlubang.

Donasi pakaian tidak melalui pemilahan justru dapat menambah jumlah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bahkan teronggok begitu saja di sekitar lokasi bencana.

Korban tsunami Palu
Warga penyintas tsunami Palu berburu pakaian bekas. Antara

Beberapa kejadian bencana menjadi contoh bagaimana niat baik kemudian berubah menjadi masalah di posko bantuan. Misalnya, penumpukan pakaian bekas di posko bantuan banjir bandang di Sukabumi pada 2020, banjir bandang di Jember pada 2021, dan bencana erupsi Gunung Semeru pada 2021. Tumpukan pakaian ini menjadi masalah baru dan menambah beban kerja bagi relawan posko.

Saya juga sempat mewawancarai salah satu kelompok masyarakat marginal di kota Semarang yang sering menerima donasi pakaian. Mereka justru mengeluhkan tumpukan pakaian hasil donasi yang tidak digunakan, sehingga menambah sesak gudang. Karena tertimbun terlalu lama, pakaian menjadi lembap dan berjamur.

Mereka akhirnya terpaksa membakar pakaian-pakaian bekas itu. Tentunya ini menjadi masalah lingkungan baru.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyoroti dampak donasi pakaian bekas. Mereka menyampaikan kepada masyarakat untuk berdonasi pakaian kepada korban bencana hanya jika diminta oleh penanggung jawab posko bantuan.

Sebelum menggalang donasi ataupun menyumbangkan barang, penting bagi publik untuk melihat kebutuhan dalam situasi bencana. Pasalnya, prioritas bantuan untuk memenuhi kebutuhan penyintas bencana tentunya berbeda-beda. Misalnya, saat gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 2018, para penyintas laki-laki akhirnya mengenakan pakaian daster yang biasanya dipakai perempuan.

Karena itulah, penting bagi calon donatur ataupun lembaga penerima donasi untuk memetakan kebutuhan pakaian di suatu lokasi bencana. Harapannya, donasi yang digelontorkan bisa lebih sesuai kebutuhan dan bermanfaat untuk para penyintas.

Baca juga: Perempuan Paling Rentan Bencana, Tapi Luput dari Kebijakan

Tak Harus ke Posko Bencana

Alasan kemanusiaan bukanlah satu-satunya pemicu kita untuk berdonasi pakaian. Terkadang, kita melakukannya untuk mengurangi tumpukan pakaian di lemari.

Sejumlah imigran etnis Rohingya memilih pakaian layak pakai di Meunasah usai dievakuasi warga di Desa Lhok, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Aceh. (Rahmad/Antara)

Namun, patut diingat posko bencana bukanlah satu-satunya saluran untuk berdonasi. Kita bisa saja mengandalkan sistem donasi yang sudah ada. Beberapa organisasi atau komunitas di Indonesia menerima donasi pakaian masyarakat untuk disumbangkan kembali atau diolah.

Misalnya Gombal Project, sebuah usaha sosial dari Yogyakarta untuk mengurangi limbah tekstil termasuk pakaian bekas. Mereka menerima donasi pakaian untuk diolah kembali menjadi produk yang dijual ke publik.

Gerakan ini menerapkan sistem donasi terbatas, yakni membuka saluran penyumbangan pakaian bekas berdasarkan kebutuhan produk yang akan dibuat. Sistem ini membantu dalam menghindari terciptanya sampah baru dengan pakaian yang kemudian tidak dapat dikelola. Selain itu, sistem ini dapat mendorong gerakan pilah pakaian dari rumah untuk mendorong rasa tanggung jawab dari para donatur pakaian.

Selain Gombal Project, beberapa inisiatif lingkungan lain seperti Zero Waste Indonesia juga memulai gerakan #tukarbaju. Caranya, warga dapat membawa pakaian yang sudah tidak dipakai untuk ditukarkan dengan pakaian dari peserta lain. Harapannya, upaya ini dapat menjadi gaya baru berdonasi sekaligus mendorong fesyen yang bertanggung jawab di masyarakat.

Terlepas dari hal tersebut, Indonesia membutuhkan sistem donasi pakaian yang mapan. Artinya, sistem ini dapat menampung pakaian bekas setiap waktu dengan tujuan penyaluran yang beragam. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat marginal ataupun korban bencana, usaha pengolahan pakaian, ataupun langsung dijual kembali. Di samping itu, donatur wajib memilah pakaian bekas sebelum disumbangkan.

Sistem ini penting untuk mengantisipasi kebutuhan pakaian bekas bagi penyintas bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Sarana penyaluran juga dibutuhkan untuk mengurangi timbunan limbah tekstil di Indonesia yang jumlahnya per 2021 sudah mencapai 2 juta ton.The Conversation

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Anjani Tri Fatharini, Pengajar, Universitas Diponegoro.