Women Lead
December 07, 2020

Drakor ‘Start-Up’ dan Pelajaran Soal Pola Asuh Helikopter

Drakor ‘Start-up’ tak hanya membahas cinta segitiga, tapi juga pola asuh helikopter.

by Pritta Damanik
Lifestyle
Share:

Drama Korea Start-Up baru saja berakhir. Selama dua bulan penayangannya sejak 17 Oktober 2020, serial ini telah berhasil membuat banyak orang tak sabar menunggu akhir pekan untuk mengikuti ceritanya.

Sebagai penggemar drakor pemula yang baru menceburkan diri sejak pandemi dan kerja dari rumah, saya turut larut dalam euforia Start-Up. Harus saya akui, drama Korea ini mampu meramu imajinasi komplet para Milenial di dunia 4.0, seperti yang sering tertulis dalam poster webinar. Tak hanya bicara cinta segitiga, ada kisah persahabatan, merintis bisnis berbasis teknologi, hingga relasi keluarga. Yang terakhir ini yang terutama membuat saya terkesan dan memberi catatan, terutama soal helicopter parenting alias pola asuh helikopter.

Kita mungkin banyak mendengar soal model pola asuh yang dianggap tipikal pengasuhan khas Asia ini. Salah satu ciri khas model pengasuhan helikopter adalah orang tua yang selalu ingin melihat prestasi anak dalam bidang akademik, hingga terbiasa membuat keputusan tanpa mempertimbangkan pendapat anak, dengan asumsi bahwa pilihan orang tua akan mengantar anak menuju prestasi akademik.

Hal ini terlihat jelas dalam relasi karakter Nam Do San. Dia bisa dibilang paket lengkap sosok cowok geek yang jatuh cinta pada komputer, dingin, kaku, dan tidak menyadari ketampanannya. Dalam salah satu episode, ayahnya bercerita bahwa Do San adalah anak jenius yang tidak punya ambisi, bahkan dijuluki Living Buddha.

Baca juga: Pola Asuh Otoritatif yang Hangat namun Tegas Bermanfaat Bagi Anak

Do San memenangkan Olimpiade Matematika, tetapi ia kemudian memberikan medali emasnya ke anak lain dan mengatakan bahwa dirinya lebih menikmati rasa kalah. Saya teringat pada teman saya yang dahulu sering mengikuti Olimpiade Sains, dan bagaimana orang tuanya mengalokasikan tenaga dan materi yang tidak sedikit untuk membekali anak dalam kompetisi tersebut. Hal itu juga dilakukan orang tua dalam drakor, termasuk orang tua Do San, dan betapa bangganya ketika mereka membuat acara syukuran atas kemenangan putra tunggalnya.

Saya sangat penasaran kenapa Do San yang terlihat hidup dalam kecukupan finansial dan kasih sayang justru bersikap tidak ambisius di sepanjang kehidupannya. Do San merasa lelah hidup dalam bayang-bayang untuk selalu tampil menjadi seorang juara, padahal dirinya adalah individu yang payah dan tidak sesuai dengan ekspektasi orang tuanya.

Selama bekerja dan mengamati isu perlindungan anak dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat bahwa banyak orang yang masa lalunya berada dalam pola asuh penuh tekanan seperti yang dialami Nam Do San.

Contoh lain adalah overcontrolling yang dialami Do San ketika orang tuanya turut menentukan mimpi meraih Hadiah Nobel saat bertemu dan meminta tanda tangan dari pemain bisbol favoritnya. Beberapa di antara kita hidup dalam pola asuh demikian atau juga sedang mengimplementasikan kepada anak sendiri. Kita mungkin terlalu fokus pada kemampuan akademik yang kemudian membawa kita pada pola asuh helikopter dan melupakan bahwa anak pun perlu mendapat penguatan dari segi life skill.

Baca juga: Melirik 3 Karakter Ayah Tunggal dalam 'Itaewon Class'

Life skill atau keterampilan hidup menggambarkan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, termasuk menjalin hubungan sosial, menyelesaikan masalah, mengelola risiko, membuat keputusan, dan bekerja sama dengan orang lain. Untuk menguatkan keterampilan hidup, tentu butuh pengasuhan yang demokratis di dalam keluarga, dan mengingatkan bahwa kecerdasan seseorang bukan hanya diukur dari kemampuan akademik namun ada banyak hal yang diperlukan dalam menjalani hidup.

Beruntunglah Nam Do San bertemu Dal Mi dan dibuat insecure oleh Han Ji Pyeong sehingga ia mendapatkan penguatan life skill secara ekspres di tengah quarter life crisis. Tentu kita tak perlu menunggu kehadiran Dal Mi dan Ji Pyeong dalam hidup anak-anak kita. Marilah kita membiasakan diri untuk menghidupkan demokrasi dan memperhatikan keterampilan hidup anak bukan hanya kompetisi akademik. Tidak perlu sampai twitwar tim Do San vs. Ji Pyeong karena faktanya ,setelah baku hantam hingga berdarah pun, mereka bisa kembali bekerja sama.

Pritta Damanik adalah lulusan Hubungan Internasional yang senang memikirkan perkembangan anak, saat ini bekerja di Sulawesi Selatan demi mencapai cita-cita masa kecilnya sebagai pahlawan bagi anak-anak Indonesia. Ikuti dia di Instagram @pritta_damanik.