Women Lead
November 24, 2020

‘Start-Up’ Membuat Cinta Segitiga Menjadi Adiktif

Cinta segitiga dalam drama Korea ‘Start-Up’ membuat banyak orang ketagihan dan memicu peperangan di media sosial.

by Candra Aditya
Culture // Korean Wave
Share:

Kalau kamu membuka Twitter akhir-akhir ini, kamu akan menemukan banyak warganet “berperang” tentang siapa Seo Dal-Mi (Bae Suzy) akan berakhir dalam drama Korea Start-Up. Apakah Nam Do-San (Nam Joo-Hyuk) atau Han Ji-Pyeong (Kim Sun-Ho)? Perdebatan ini lumayan panas dan saya sendiri terkadang ikut terjerumus ke dalamnya. Tidak jarang bahkan saya beneran emosi saat meladeni orang-orang yang lebih memilih Han Ji-Pyeong daripada pilihan saya, Nam Do-San.

Ditulis oleh Park Hye-Run dan disutradarai oleh Oh Choong-Hwan, Start-Up menampilkan banyak hal yang disukai oleh penonton masa kini: Obsesi anak muda untuk sukses, hubungan orang tua dan anak yang tidak baik, persaingan antar saudara, dan tentu saja kisah cinta dengan bumbu cinta segitiga yang memikat.

Start-Up adalah sebuah drama yang lumayan realistis dan cukup relevan di zaman sekarang, menggambarkan tentang betapa bersemangatnya anak-anak muda untuk membuat gebrakan di dunia teknologi, di Silicon Valley fiktif bernama Sandbox. Tapi secara jenius, para pembuatnya membungkus semua itu dengan kisah percintaan yang mendayu-dayu. Resep ini terbukti berhasil karena sejauh ini, belum ada satu pun episode yang membosankan. Setidaknya bagi saya, ini satu-satunya drama Korea yang setiap episodenya ditulis dan dibuat dengan baik di tahun 2020 ini setelah The World of the Married.

Baca juga: 7 Drama Korea Layak Tonton Buat Kamu yang Skeptis

Start-Up dimulai dari dua saudara perempuan, Seo Dal-Mi dan Won In-Jae (Kang Han-Na), yang hidup berpisah menyusul perceraian orang tua mereka. Dal-Mi tinggal dengan neneknya yang hidup sederhana, sementara In-Jae hidup bergelimang kemewahan berkat ayah tirinya.

Selain Dal-Mi, ada anak laki-laki pintar yang yatim piatu bernama Ji-Pyeong yang tinggal bersama neneknya. Suatu kali sang nenek meminta Ji-Pyeong pura-pura menjadi sahabat pena bagi cucunya yang kesepian. Mereka berdua memilih nama Nam Do-San, seorang bocah jenius yang mereka lihat di koran, untuk menjawab surat-surat Dal-Mi. Meskipun dia belum pernah bertemu Do-San versi surat, Dal-Mi menganggap cowok tersebut adalah cinta pertamanya.

Beranjak dewasa, Dal-Mi yang berambisi sukses dan In-Jae yang ingin mandiri dari ayah tiri, bergabung untuk mengikuti kompetisi start-up. Sambil bekerja keras mengejar mimpi, Dal-Mi yang masih terkenang akan Do-San, mengatakan pada neneknya bahwa ia ingin bertemu “pacarnya” itu. Sang nenek pun meminta Ji-Pyeong, yang (surprise-surprise) sudah tajir melintir dan sukses, untuk mempertemukan Dal-Mi dengan Do-San.

Namanya juga drama Korea ya, tiba-tiba saja si Do-San muncul di internet dan dikisahkan sedang membangun perusahaan rintisan. Ji-Pyeong kemudian memintanya untuk berpura-pura jadi sahabat pena Dal-Mi dengan imbalan modal perusahaan. Bisa ditebak, Do-San jatuh cinta betulan pada Dal-Mi. Tinggal menunggu waktu sebelum drama meledak di depan mereka semua.

Baca juga: Melirik 3 Karakter Ayah Tunggal dalam 'Itaewon Class'

Karakter-karakter juara

Tentu saja ada banyak plot lain dalam Start-Up ini selain cinta segitiga. Proses membangun usaha teknologi di sini sangat menarik untuk disimak. Begitu juga dinamika hubungan antar karakter—antara orang tua anak, nenek-cucu, nenek-cucu angkat, dua saudara perempuan, persahabatan—yang asyik untuk dikulik. Tapi memang kisah cinta segitiga dalam Start-Up lah yang membuat banyak penonton betah (atau lebih tepatnya terobsesi) menonton serial ini.

Alasannya? Kedua karakter laki-laki dalam Start-Up ini sama-sama menarik simpati dan ditulis dengan sangat baik. Mereka memiliki plus minus yang seimbang.

Han Ji-Pyeong digambarkan sebagai tsundere yang keras dan dingin namun mau melakukan apa saja untuk sang nenek angkat yang telah menyayanginya dan perempuan yang ia cintai. Kepercayaan dirinya tinggi, namun ia membangun pagar untuk melindungi diri dari orang-orang yang biasanya hanya menyakiti dan mengecewakannya. Ketika ia jatuh cinta pada Dal-Mi, ia menunjukkannya dengan tindakan, lewat bantuan atau membalas ratusan pertanyaan dengan sabar dan senyum lebar (yang tentu saja membuat rekan kerjanya terheran-heran).

Do-San adalah kebalikan dari Ji-Pyeong. Si jenius matematika ini tipe yang tidak menyadari dirinya ganteng (yang membuatnya semakin ganteng), dan berusaha agar dirinya tidak menonjol dengan bersuara pelan dan menyembunyikan diri di bawah hoodie. Tapi Do-San adalah teman yang sangat baik dan rela berbuat apa saja untuk sahabat-sahabatnya. Dia sopan dan tahu bagaimana cara membuat orang lain nyaman dengannya, bahkan dengan orang yang baru dia kenal, seperti neneknya Dal-Mi.

Baca juga: Ini Satu Alasan Lagi Mengapa Harus Menonton Drama Korea

Seperti halnya dengan Ji-Pyeong, ketika Do-San menyukai seseorang, dia akan menunjukkannya lewat tindakan. Tapi tidak seperti Ji-Pyeong, Do-San akan mengatakan dengan jujur kalau dia menyukai orang lain. Dia akan merengkuh wajah orang yang dia sukai dan menciumnya di atas rooftop saat matahari tenggelam (ya, namanya juga drakor, mas). Dia juga tahu persis apa yang ingin didengar oleh orang yang dia sayangi.

Terakhir, alasan kenapa saya menasbihkan Start-Up sebagai drama Korea terbaik nomor dua setelah The World of the Married tahun ini adalah karena kecanggihan penggarapan di berbagai aspek. Dalam 12 episode yang sudah saya tonton, drama Korea ini memiliki visual yang membuat para pembuat film iri karena nilai produksinya yang mewah. Musik dan lagu-lagunya benar-benar menempel di telinga. Hampir semua karakter dimainkan oleh aktor-aktor yang pas. Penyutradaraannya jenius. Bagaimana dia bisa menampilkan satu episode yang ada unsur humor, persahabatan, dan perjuangan tapi juga memaksa penonton menangis adalah sebuah pencapaian yang tinggi.

Oh, dan tentu saja, baru Start-Up yang sejauh ini bisa membuat saya menangis di setiap akhir pekan tanpa gagal.

‘Start-Up’ dapat disaksikan di Netflix setiap hari Sabtu dan Minggu.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.