July 02, 2020
Feminisme dan Budaya Pop: Jangan Hanya Mengganti Saluran

Isu feminisme yang ada di media dan dalam budaya pop sering kali disederhanakan dan disesuaikan dengan selera audiens.

by Hera Diani, Redaktur Pelaksana
Issues // Feminism A-Z
Share:

Kampanye Victoria’s Secret. Serial The Bachelor dengan alurnya yang enggak mutu. Iklan baju anak-anak yang menggambarkan laki-laki sebagai “anak pintar” dan perempuan sebagai “anak cantik”. Ini hanya beberapa contoh dari bagaimana medium budaya pop dipenuhi gambaran stereotip gender.

Budaya pop sering kali diremehkan, dilihat sebagai banalitas dan sekadar hiburan. Namun berbagai penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa budaya pop memiliki dampak besar terhadap anak-anak dan remaja. Sebuah penelitian dari lembaga Amerika bernama Media Education Foundation menunjukkan bahwa lebih dari US$2 miliar dihabiskan setiap tahun untuk konten dengan target konsumen remaja, dan bahwa rata-rata anak Amerika akan telah menyaksikan lebih dari 200.000 perilaku kekerasan di televisi pada usia 18 tahun.

Statistik lain tentang cara media dan budaya pop memengaruhi anak-anak muda mengungkapkan bahwa 42 persen murid perempuan kelas 1-3 SD ingin mengurangi berat badan mereka, dan sekitar 81 persen anak perempuan usia 10 tahun takut menjadi gemuk. Anak-anak muda menerima lebih dari 5.260 pesan tentang kecantikan per tahun hanya dari iklan di televisi,;73 persen anak perempuan menyalahgunakan pil diet; dan 79 persen remaja perempuan yang punya kebiasaan memuntahkan lagi makanannya sering membaca majalah perempuan dan kebugaran.

“Sekitar 12 tahun lalu, ada laporan yang dikeluarkan Gugus Tugas Asosiasi Psikolog Amerika tentang seksualisasi anak perempuan. Dari situ ditemukan bahwa seksualisasi telah dimulai ketika mereka masih semuda dua tahun dan bahwa gambaran-gambaran dalam iklan dan budaya pop terbukti membahayakan bagi citra diri dan perkembangan anak perempuan dan perempuan muda,” kata Andi Zeisler, salah satu pendiri dan direktur kreatif/editorial Bitch Media, lembaga media feminis nonprofit yang berpusat di Portland, Oregon, AS.

“Laporan ini melihat konsekuensi seksualisasi sejak dini dan dampaknya terhadap perkembangan perempuan serta identitas mereka. Menariknya, laporan ini menemukan bahwa tidak peduli apa pun yang mereka pelajari di rumah dan di sekolah tentang potensi mereka untuk menjadi pemimpin dan individu-individu berdaya, pesan-pesan media dan budaya pop tentang perempuanlah yang menyentuh mereka.”

Zeisler berbicara dalam konferensi video di Kinosaurus pada 22 April 2017 tentang dampak budaya pop, sebuah acara kerja sama Bersama Project, Magdalene dan Kinosaurus. Ia menegaskan pentingnya melihat medium budaya pop karena hal ini tidak bisa dihindari, dan bagaimana kita hidup di dunia yang sangat terpengaruh oleh media sehingga kita tidak dapat menjauhinya walau kita mau.

Hera Diani · Bitch Media's Andi Zeisler on Pop Culture Impact and Feminism

“Budaya pop dan media sangat berperan dalam membentuk impresi kita tentang dunia. Melalui kedua hal itulah anak muda belajar mengidentifikasi diri dan teman-teman mereka. Jadi, sangat penting untuk menganggap serius budaya populer dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan nyata, tetapi sebagai sesuatu yang menginformasikan dan mencerminkan hidup itu,” kata Zeisler, yang telah menulis beberapa buku tentang budaya pop dan feminisme.

“Ketika kami memulai Bitch, yang banyak kami dengar adalah, ‘ini hanya budaya pop, ini hanya sekadar hiburan, tidak menampilkan kenyataan, jadi jangan anggap terlalu serius, ganti saja salurannya.’ Dan kami selalu mengatakan bahwa tidak penting apakah kita mengonsumsi budaya pop dan media atau tidak. Yang penting adalah bahwa keduanya ada pada skala yang masif, diperjual-belikan, dan berdampak sangat nyata kepada kita semua.”

Feminisme yang sesuai selera

Dalam beberapa tahun terakhir, telah terlihat diskusi global yang lebih luas mengenai feminisme, banyak di antaranya muncul berkat masuknya gagasan-gagasan feminis dalam budaya pop. Penampilan Beyonce dalam MTV Video Music Awards tahun 2014 mengubah feminisme menjadi sesuatu yang aspirasional dan diidamkan hanya dalam hampir semalam. Dalam 24 jam setelah penampilan tersebut, Beyonce disebut dalam dua pertiga twit dan muncul lonjakan jumlah pencarian mengenai Beyonce dan “Feminist Beyonce”. Tak lama setelah itu, aktris Emma Watson berpidato di Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang pentingnya kesetaraan gender. Sementara itu di acara Paris Fashion Week, panggung Chanel menunjukkan demonstrasi para feminis di akhir pertunjukan.

Walau demikian, Zeisler merasa bahwa fenomena yang baru terjadi ini masih berfokus untuk membuktikan bahwa feminisme tidak seburuk anggapan orang-orang, alih-alih lebih menggali lapisan-lapisan patriarki.

Baca juga: ‘RuPaul’s Drag Race’ Ajari Soal Toleransi, Keberagaman, dan Inklusivitas

“Banyak selebritas seperti Emma Watson yang beberapa tahun belakangan ini buka suara dan membahas tentang feminisme cukup dikenal karenanya sebab mereka tidak seperti yang dibayangkan banyak orang tentang feminis dan feminisme. Jadi, yang mereka lakukan adalah membuat feminisme mudah dicerna oleh orang luar, lebih mudah diakses, tetapi juga lebih sederhana. Kelemahan feminisme yang dibuat mainstream dan lebih terlihat ini menjadikan feminisme itu sendiri lebih sedikit berbicara tentang aktivisme dan lebih banyak soal identitas personal,” kata Zeisler.

Perusahaan-perusahaan besar mulai membuat kampanye iklan seputar pemberdayaan anak perempuan dan tiba-tiba, media dipenuhi tajuk feminisme dan feminis. Namun yang lebih sering terjadi, menggunakan daya tarik feminisme dan feminis menjadi cara lain untuk menjual produk-produk kepada perempuan. Pada awalnya, Dove memperlihatkan kampanye cukup bagus tentang keberagaman perempuan, tapi sekarang hal itu telah “menjadi jauh lebih normatif dan menggebu-gebu untuk menggeser ekspektasi kultural dan standar kecantikan kembali kepada para perempuan sendiri. Kampanye Dove itu masih memusatkan kecantikan sebagai kualitas terpenting dari perempuan,” kata Zeisler.

“Yang saya anggap bermasalah dan saya lawan selama ini adalah aspek feminisme yang saat ini diberi ruang dalam budaya pop dan media adalah aspek yang paling sederhana. Yang sebagian besar berpusat pada budaya kecantikan dan hubungan heteroseksual dalam pernikahan, atau pada keberhasilan ekonomi yang tidak menantang struktur kapitalisme yang ada. Misalnya, pidato Emma Watson di Konferensi PBB adalah bagaimana membuat laki-laki punya andil dalam feminisme untuk melegitimasinya secara lebih baik. Jadi, harapan saya adalah, orang-orang yang tertarik pada feminisme menggunakan popularitas mereka untuk membahas feminime yang lebih mendalam dan kompleks.

Baca juga: ‘Frozen 2’ Baik Dikonsumsi Anak Laki-laki

Menurut Zeisler, fakta bahwa ikon-ikon budaya pop seperti Beyoncé menggunakan feminisme sebagai bagian dari personal branding mereka dapat menjadi hal yang luar biasa, tapi juga punya potensi berbahaya. Mereka mampu menarik perhatian secara masif dengan cara yang tidak dapat dilakukan gerakan perempuan selama satu abad terakhir. Namun, memilih feminisme sebagai bagian dari personal branding artinya berisiko membuat hal itu selaras dengan selera banyak orang sekaligus. Tidak dapat dihindari, ini tentunya berarti feminisme akan disederhanakan.

“Jadi, misalnya ada Taylor Swift, bintang pop internasional yang feminismenya diterjemahkan menjadi punya sahabat-sahabat perempuan—itu seharusnya bukan menjadi nilai feminis, melainkan sesuatu yang memang seharusnya demikian. Itu adalah sikap yang tak terhindarkan, bukan suatu kebijakan. Untuk orang-orang seperti Taylor Swift atau selebritas lain, benar-benar terlibat dalam feminisme sebagai gerakan transformatif menuntut mereka untuk bekerja di sistem yang mendukung karier mereka, dan sistem-sistem ini dibangun terbangun dari ketidaksetaraan kuasa yang fundamental. Feminisme semacam itu tidak bisa berjalan lebih jauh,” ujarnya.

Cultural jamming

Zeisler mengatakan bahwa penting untuk melihat media dan budaya pop serta memikirkan bagaimana keduanya bisa positif sekaligus menjadi wadah yang baik untuk merespons tantangan-tantangan ini. Budaya pop dapat menjadi hal yang sangat menyenangkan, dan ketika kita bisa membuat orang-orang tertawa sekaligus berpikir, itu bisa menjadi jalan yang lebih baik untuk mengubah pikiran orang daripada laporan dan advokasi yang kaku.

Media sosial telah memberi banyak peluang untuk membantu mengubah budaya pop. Dalam beberapa dekade terakhir, telah terlihat contoh-contoh bagaimana budaya pop menjadi “dihajar” publik yang cerdas. Zeisler menunjuk pada tagar #Oscarsowhite di Twitter selama dua tahun terakhir sebagai kritik terhadap Academy Awards dan praktik pemungutan suaranya.

“Tidak penting apakah kita mengonsumsi budaya pop dan media atau tidak. Keduanya ada pada skala yang masif, diperjual-belikan, dan berdampak sangat nyata kepada kita semua.”

Ada banyak juga lembaga-lembaga pengawas yang melakukan studi mengenai representasi dan stereotip. Temuan mereka lebih banyak disebarluaskan di media sosial dan blog.

Zeisler berpendapat, “Jelas, korporasi besar, orang-orang TV dan produser film tidak tertarik untuk berubah, terutama jika mereka tidak tahu dampaknya terhadap keuangan mereka. Jadi, sangat penting untuk menekankan bahwa konsumen memiliki kekuasaan besar dan dapat menggunakan kekuasaan mereka—sebagai konsumen dan sebagai subjek periklanan—untuk menarik perhatian kepada hal-hal seperti seksisme, rasialisme, transfobia, homofobia. Ini bukan cara yang ideal untuk melakukannya karena sering kali berakhir dengan mempermalukan perusahaan atau orang atau film atau apa pun di muka umum. Tetapi untuk saat ini, sepertinya itu adalah cara paling efektif untuk betul-betul membuat perubahan.”

Media dan budaya populer selalu menjadi tempat yang subur untuk aktivisme dan apa yang disebut culture jamming, kata Zeisler, atau menggulingkan budaya konsumerisme dengan cara memodifikasikannya secara eksplisit. Ia menyebut contoh sebuah kolektif feminis Inggris bernama The Vagenda, yang mengundang pembaca untuk menulis ulang judul tabloid yang seksis dan berlebihan, untuk menyoroti betapa konyolnya cara mereka membahas penampilan perempuan.

Sebuah kelompok yang berpusat di Baltimore, Maryland, bernama Force selama beberapa tahun melakukan cultural jamming besar-besaran dengan membuat celana dalam Victoria’s Secret betulan untuk menarik perhatian kepada pesan-pesan yang digaungkan Victoria’s Secret. Mereka juga meretas situs Playboy yang mengeluarkan panduan tahunan untuk berpesta buat mahasiswa. Force dengan efektif mempermalukan kedua perusahaan tersebut yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan bahwa produk-produk mereka tidak mempromosikan consent.

Baca juga: Putri Duyung Disney Berkulit Hitam, Kenapa Tidak?

“Semua contoh ini menonjol karena bahkan dalam sekejap pun, mereka mempertanyakan narasi dominan tentang realitas yang dicekokkan kepada kita, dan yang telah dihadirkan untuk kita sebagai sesuatu normal dan bahkan diidamkan,” katanya.

“Selama lebih dari 21 tahun saya menggeluti ini, saya telah melihat sisi budaya pop yang buruk, banyak stereotip, banyak hinaan, banyak perburuan nyata untuk orang-orang di dunia nyata... tetapi saya juga melihat bahwa budaya pop menjadi lebih beragam sekarang ini, lebih menarik, dan stereotip berkurang dan lebih mencerminkan dunia nyata. Untuk membuat budaya pop lebih baik, kita harus peduli dan membahasnya. Harapan saya adalah, orang-orang yang terlibat dalam budaya pop, baik sebagai pencipta maupun penggemar, akan tetap berusaha membuatnya lebih adil, baik, dan cerdas secara keseluruhan.”

Bagaimana dengan Indonesia?

Masih jauh dari menyerap nilai feminisme, budaya pop di Indonesia masih marak dengan pesan-pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, seperti disampaikan musisi dan aktivis Kartika Jahja dalam diskusi yang sama di Kinosaurus.

Salah satu contohnya adalah sebuah band punk dari Bandung bernama Love Chaos yang menciptakan lagu “Ewe Paksa”, yang liriknya adalah tentang cara memperkosa. Kemudian, ada penyebaran meme-meme seksis, termasuk yang menggambarkan transformasi “ugly duckling” (anak bebek buruk rupa) Aurel Hermansyah, putri dari penyanyi Anang Hermansyah dan Krisdayanti, dengan tulisan “sulit dipercaya dia bisa cantik.”

“Dia (Aurel) masih anak-anak, 14 tahun pada saat itu,” kata Kartika. “Budaya pop masih sangat mengobjektifikasi perempuan secara seksual, bukan karena pakaian kita, tapi karena kita perempuan. Ketik saja ‘cewek jilbab’ di Google dan hasilnya akan mengandung konotasi-konotasi seksual.”

“Fenomena feminisme dalam budaya pop masih berfokus untuk membuktikan bahwa feminisme tidak seburuk anggapan orang-orang, alih-alih lebih menggali lapisan-lapisan patriarki.”

Para perempuan yang membela diri mereka sering kali perlu meminta maaf setelah dirundung, seperti kasus aktris Dian Sastrowardoyo, yang ditegur karena menolak berfoto dengan salah seorang penggemarnya. Penggemarnya, seperti terlihat dalam sebuah video yang viral, memegangnya secara paksa, lalu Dian melepaskan pegangan itu dan terlihat bergidik.

“Difoto dengan penggemar bukanlah tugas moral selebritas. Ia dirundung karena ia melindungi ruang dan tubuhnya sendiri,” katanya.

Sebagai musisi dan penyanyi, Kartika percaya bahwa budaya pop adalah sebuah senjata yang kuat dan sebuah jalur untuk memasukkan pesan-pesan feminisme. Ia paling dikenal melalui aktivismenya dengan grup Mari Jeung Rebut Kembali dan pesan body positivity mereka yang termaktub dalam lagu “Tubuhku Otoritasku”.

“Saya berhati-hati untuk tidak membuat feminisme sebagai sekadar branding. Saya sudah sering didekati oleh merek-merek kosmetik yang berusaha untuk mempersembahkan gambaran positif terhadap tubuh, tetapi penyampaian mereka disederhanakan. Saya membatasi diri dari mereka yang tidak mau mendalami lapisan-lapisan patriarki,” katanya.

Sama dengan Zeisler, Kartika setuju untuk menggunakan humor dan pendidikan untuk mengampanyekan feminisme, alih-alih mempermalukan suatu pihak di muka umum dan menyinggungnya.

“Ini lebih penting bagi kita, para feminis, untuk bersatu, karena kita sedang menghadapi tekanan yang besar,” katanya, merujuk pada konservatisme yang meningkat di negara ini.

Artikel ini diterjemahkan oleh Tabina Amarilla dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Hera Diani, seperti banyak orang Indonesia lainnya, memiliki dua nama dan ia senang karena perempuan Indonesia tidak perlu menggunakan nama belakang ayah dan suami mereka. Ia pencinta budaya populer, namun kritis terhadap aspek-aspek buruk budaya tersebut, seperti konten-konten yang mengandung pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, serta The Kardashians.