‘Jagad’e Raminten’: Saat Nia Dinata Memotret Queer Tanpa Tragedi
Film dokumenter kerap dianggap mewakili sebuah kebenaran, karena ia bukan fiksi yang bisa dikarang-karang. Namun, banyak yang tak paham kalau ia juga proses memilah mana yang layak masuk lensa kamera, mana yang dibuang dan ditinggalkan untuk tidak diceritakan.
Misalnya, saat lensa kamera diarahkan merekam komunitas queer, subjek dan narasi yang sering tampil dibingkai dalam bentuk tragedi. Tentang stigma yang mereka hadapi, penolakan keluarga, hingga normalisasi pembatasan kerja atau diskriminasi lainnya.
Efeknya: mudah bagi publik untuk mengamini realitas semu itu. Bahkan, buat kelompok queer sendiri, tak sedikit yang jadi kesusahan membayangkan hidup mereka di luar bingkai tragedi. Kadang, alasannya cuma karena tak pernah melihat narasi lain dalam budaya populer dan tontonan mereka.
Sutradara Nia Dinata, lewat dokumenter terbarunya, Jagad’e Raminten punya cara bingkai lain. Dalam dokumenter yang masuk nominasi Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia 2025 itu, ia menunjukkan bahwa kelompok minoritas tidak selalu hidup dalam penderitaan.
Sebaliknya, mereka tidak hanya mampu berdaya secara ekonomi, tetapi juga mampu menghidupi kelompok sosial mayoritas yang dahulu menindas mereka.
Baca juga: Dua Dekade ‘Banyu Biru’: Mengunjungi Lagi Teddy Soeriaatmadja yang Reflektif
Menjadi Queer Tidak Harus Berarti Tragis
Salah satu film dokumenter yang paling dikenal dalam memotret komunitas transgender adalah Paris Is Burning. Film ini berlatar tahun 1980-an, ketika kematian akibat AIDS telah menjadi endemik di New York. Pada saat yang sama, ball culture dan voguing mulai muncul, sebuah budaya di mana kelompok queer berjalan di atas catwalk dengan mengenakan busana sesuai tema malam itu. Mereka melenggang diiringi musik, dinilai dengan skor satu hingga sepuluh, dan berkesempatan memenangkan piala.
Dari luar, praktik ini kerap terlihat kekanak-kanakan dan tidak penting. Namun, kelompok queer sering kali tidak memiliki ruang untuk menampilkan diri mereka dan diterima di ruang publik. Ballroom kemudian menjadi tempat di mana mereka dapat menunjukkan diri sepenuhnya dan diterima tanpa rasa takut akan penolakan.
Dokumenter tersebut menampilkan kontras tajam kehidupan kelompok sosial yang paling rentan pada 1980-an. Dalam realitasnya, banyak anggota komunitas queer bekerja sebagai pekerja seks. Selain itu, karena kampanye pencegahan HIV belum berkembang, banyak kelompok LGBT meninggal dunia akibat komplikasi AIDS.
Konteks ini terasa begitu kuat sehingga, meskipun tidak selalu disorot secara eksplisit melalui lensa pembuat filmnya, elemen tragedi tetap membayangi keseluruhan narasi.
Di dalam film, komunitas queer tidak hanya harus menghadapi diskriminasi dan epidemi AIDS, tetapi juga kerentanan ekonomi akibat bekerja sebagai pekerja seks. Salah satu subjeknya bahkan meninggal dunia dan tidak lagi muncul hingga akhir film.
Meski sering dipuji karena keberhasilannya menangkap jukstaposisi dan realitas pahit tersebut, Paris Is Burning tetap mengamini narasi bahwa menjadi queer kerap diasosiasikan dengan akhir tragis.
Pakem inilah yang kemudian ditantang oleh Nia Dinata. Dengan memilih almarhum Bapak Hamzah Sulaiman sebagai subjek, film ini berhasil memotret komunitas queer yang tidak sekadar mengenakan kostum untuk berpura-pura atau mencari validasi agar diterima, melainkan menjadikan performativitas tersebut sebagai bentuk kerja yang dapat dimonetisasi dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal.
Baca juga: Menjelang 2 Dekade ‘Realita, Cinta, dan Rock’n Roll’: Membaca Hubungan Ipang-Nugi
Konsep Chosen Family yang Lebih Lokal
Dalam dokumenter Paris Is Burning, banyak subjek dari komunitas queer yang masih berusia remaja. Cerita mereka cenderung serupa: orang tua mengetahui identitas queer mereka dan kemudian mengusir mereka dari rumah. Serial Pose karya Ryan Murphy (Glee, American Horror Story) mempertegas fenomena ini. Mereka melarikan diri ke New York, hidup di jalanan, dan bertahan dengan mencuri atau bekerja sebagai pekerja seks.
Sebagian anggota komunitas queer yang lebih dewasa, telah memiliki pekerjaan, dan mampu membayar tempat tinggal, kemudian membawa para remaja ini ke dalam rumah mereka. Dari sinilah muncul istilah house mother dan house father.
Para remaja ini diperbolehkan tinggal tanpa harus membayar sewa dan mendapatkan makan. Setiap rumah memiliki aturan masing-masing, tetapi umumnya para anggota rumah, bersama house mother atau house father mereka, akan berkompetisi di ballroom.
Dalam Jagad’e Raminten, Nia Dinata memotret praktik serupa. Para penampil mengenakan kostum dan riasan terbaik mereka, memilih lagu-lagu dari penyanyi terkenal, dan melakukan lip-sync seolah-olah merekalah yang benar-benar membawakan lagu tersebut.
Penonton menyambut pertunjukan itu dengan tepuk tangan meriah dan penuh antusiasme. Mereka datang ke kabaret dengan tujuan yang kurang lebih sama: mencari kehidupan melalui seni pertunjukan.
Tidak seperti banyak teman-teman LGBT yang dibuang orang tua mereka, subjek-subjek queer dalam dokumenter ini dapat menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa harus hidup di jalanan. Namun, hal tersebut tidak serta-merta membebaskan mereka dari rasa keterasingan.
Salah satu subjek mengisahkan bahwa ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menari, ia pernah tidak diikutsertakan dalam sebuah acara prestisius karena dianggap berbeda. Subjek lain memulai karier kabaretnya dengan bekerja di Toko Batik Hamzah. Meskipun datang dari latar belakang yang beragam, mereka memiliki harapan yang sama: dapat menghidupi diri melalui seni.
Ketika bergabung dalam kabaret, mereka pun menyadari bahwa ruang ini tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menjelma menjadi keluarga, sebuah keluarga yang sebelumnya tidak mereka sadari telah mereka butuhkan.
Baca juga: Queer Joy Is Real, But Why Must We Always Prove It Through Pain?
Kabaret sebagai Roda Ekonomi
Hal yang berhasil dilakukan Bapak Hamzah melalui kabaret tidak hanya sebatas mengumpulkan talenta-talenta, tetapi juga menciptakan sebuah model bisnis yang mampu menghidupi komunitas queer sekaligus masyarakat cisgender heteroseksual di sekitar kawasan Malioboro.
Banyak staf kabaret yang bukan berasal dari komunitas LGBT, mulai dari kru teknis panggung hingga akuntan. Namun, pada saat yang sama, sentimen paling pahit yang kerap muncul dari sebagian warga lokal ketika mendeskripsikan kabaret ini adalah, “Oh, itu tempat yang bencong dikasih panggung itu, ya?”
Padahal, ketika pertunjukan kabaret usai dan para penonton hendak pulang, mereka kerap menggunakan jasa becak di sekitar lokasi. Kehadiran pertunjukan kabaret mendatangkan pengunjung ke Malioboro dan pada akhirnya turut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Setelah menonton film ini, saya tidak bisa berhenti membandingkannya dengan Paris Is Burning. Realitas yang dihadirkan dalam Paris Is Burning terasa jauh lebih pahit untuk dicerna. Meskipun terdapat kisah-kisah inspiratif dan pilihan subjek yang menegaskan bahwa hidup mereka bukan semata tragedi, komunitas queer tetap dipotret dalam bingkai penderitaan.
Nia Dinata menolak pendekatan tersebut. Ia memilih membangun narasi yang membuktikan bahwa di negara yang masih mendiskriminasi komunitas queer, mereka tidak harus hidup dalam tragedi. Mereka dapat menghidupi diri melalui seni, membangun sebuah bisnis yang berdampak pada ekonomi sekitar, serta tetap bersenang-senang dalam prosesnya.
Secara teknis, dokumenter ini memang tampak sederhana. Banyak adegan kabaret direkam menggunakan kamera ponsel dengan kualitas audio yang tidak selalu jernih. Terdapat pula adegan ketika Nia Dinata merekam Bapak Hamzah yang hendak masuk ke dalam mobil, sementara pantulan dirinya terlihat sedang melambaikan tangan.
Bahkan, ketika di akhir film disampaikan kabar wafatnya Bapak Hamzah, film ini tetap menggunakan pendekatan sederhana dengan menampilkan rekaman percakapan pesan singkat yang memuat berita tersebut.
Namun, dokumenter ini pada akhirnya bukan soal kematangan teknis, melainkan tentang otentisitas. Saya berharap film ini dapat diputar dan didiskusikan di lebih banyak forum, atau bahkan dialihwahanakan menjadi serial televisi, sebagaimana Pose.
Jagad’e Raminten memperlihatkan bahwa kisah queer tidak selalu harus ditutup dengan penderitaan, kematian, atau keterasingan. Lewat potret kabaret yang hidup, hangat, dan sangat berakar pada keseharian Yogyakarta, Nia Dinata membuka kemungkinan lain: sebuah komunitas yang mampu membangun ruang aman bagi dirinya sendiri, membentuk keluarga pilihan, dan pada saat yang sama menggerakkan ekonomi, tanpa kehilangan kegembiraan maupun martabat.
Alih-alih mengulik luka sebagai tontonan, dokumenter ini justru memilih merayakan keberlangsungan hidup. Di tengah masyarakat yang masih menyimpan prasangka dan diskriminasi, Jagad’e Raminten mengingatkan bahwa bentuk perlawanan tidak selalu hadir sebagai kemarahan atau tragedi. Ia bisa muncul lewat tawa di atas panggung, kostum yang gemerlap, kerja bersama, dan seni yang memberi nafkah bagi banyak orang. Pada titik inilah film ini tidak hanya memperkaya cara kita memandang komunitas queer, tetapi juga mendorong sinema dokumenter untuk berani keluar dari kebiasaan lama yang terlalu sering mengurung queer dalam narasi duka.
















