November 20, 2020

Film Horor Feminis ‘RONG’ Ingin Hantu Perempuan Menang

Film pendek horor ‘RONG’ menggiring penontonnya untuk melihat hantu perempuan bukan sebagai entitas yang harus dikalahkan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Screen Raves
Share:

Waktu malam hari, apalagi malam Jumat, identik dengan hal-hal berbau mistis yang mengintai manusia-manusia kurang beruntung. Untuk perempuan, sebenarnya yang lebih seram dari malam hari adalah risiko lebih besar untuk mendapatkan kekerasan seksual.

Film pendek horor RONG menyampaikan ancaman itu dengan twist memuaskan ketika pelaku, Lingga, yang merasa takut akan kekuatan gaib dari Yoni, perempuan yang dikuntit dan dilecehkannya. Dengan durasi hanya 13 menit, RONG menunjukkan dirinya sebagai film horor feminis yang mengajak penonton untuk melihat hantu perempuan bukan sebagai hal yang ditakuti apalagi dikalahkan. Namun sebagai perwujudan kekuatan perempuan yang patut didukung.

Film dibuka dengan gambaran orang yang bekerja, bergerombol, dan mencari hiburan di Jakarta pada malam hari. Adegan lalu berpindah pada Yoni (Maryam Supraba) yang menyaksikan pertunjukan tari ronggeng. Ketika Yoni meninggalkan pertunjukan ronggeng itu, salah satu penonton, Lingga (Ancoe Amar) mengikutinya ke sebuah gang pertokoan yang sepi.

“Kaum kalian ini suka sok sama laki-laki padahal mau!”

“Sok jadi korban padahal yang mengundang kalian. Aku ini cuma tamu yang memenuhi undangan kalian.”

Baca juga: 5 Film Horor Rekomendasi Joko Anwar

Lingga terus meneriakkan kalimat-kalimat sarat budaya pemerkosaan tersebut kepada Yoni yang menghindar dan terpojok. Meskipun begitu, Yoni bukan manusia dan lebih dari apa yang ia tunjukkan kepada Lingga maupun penonton.

Yoni tiba-tiba menghilang dan muncul sebagai seorang penari ronggeng ‘sakti’ yang membuat Lingga ketakutan dan lari terbirit-birit. Adegan ketika Yoni “memangsa” Lingga sedikit mengingatkan pada aksi kanibalisme Jennifer (Megan Fox) dalam film Jennifer’s Body yang menyantap remaja laki-laki sebayanya. Momen itulah premis “pemburu tiba-tiba menjadi yang diburu” yang digadang-gadang pembuat film menjadi masuk akal.

Unsur feminis dalam film horor

Sutradara RONG Indira Iman menyatakan film ini terinspirasi dari film seram tahun 70-an dan 80-an, terutama film dari ratu horor Suzzanna. Ia menilai banyak unsur feminis dalam film horor, seperti tema kekerasan seksual, tokoh perempuan sakti, progresif, dan berdaya. Sayangnya, tokoh perempuan kalah oleh simbol patriarki dan konservatif yang datang dari tokoh bijak maupun pemuka agama laki-laki.

Baca juga: Film Horor Simbol Ketakutan Atas Kekuatan Perempuan

“Perempuan kuat ujung-ujungnya dilihat hanya sebagai gangguan dan ancaman yang harus dikalahkan. Tidak peduli apakah mereka dulunya adalah korban kekerasan laki-laki,” ujar Indira dalam press release film tersebut,

RONG sendiri diambil dari kosa kata bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti lubang, gorong-gorong, atau lorong. Makna rong, menurut Indira, merujuk pada alat kelamin penari perempuan yang memiliki lubang. Isu feminis dalam ronggeng sendiri berkaitan dengan citra negatif penari ronggeng yang berasal dari objektifikasi perempuan oleh laki-laki. Dulu pertunjukan ronggeng dilakukan pada seremonial sakral dan mengharuskan penarinya untuk melakukan ritual. Lambat laun fungsi tersebut dieksploitasi karena pengaruh faktor sosial, politik, dan ekonomi, sehingga pertunjukan ronggeng diidentikkan dengan praktik seks terselubung dan memberikan stigma negatif pada penari perempuan.

“Padahal kalau dipikir yang seharusnya dikritik adalah budaya patriarki yang menjadikan perempuan objek dan komoditas seksual,” kata Indira.

Baca juga: Film Pendek Counterfeit Kunkoo Efektif Gambarkan Kekerasan terhadap Perempuan

“Selain itu, ronggeng juga menarik karena melawan stereotip perempuan Jawa yang pasif dan jinak,” lanjutnya. Dalam konteks historis perempuan memiliki privilese yang terbatas, sedangkan penari ronggeng independen secara ekonomi dan berkuasa akan seksualitas mereka.

Selain itu, RONG juga merupakan kritik akan male gaze pada adegan seksual yang sengaja ditujukan atau ditampilkan dari perspektif dan kepuasan laki-laki heteroseksual. Kritik itu berasal dari keresahan atas sineas laki-laki yang mengangkat film bermuatan seksual yang tidak memiliki fungsi, urgensi, maupun pernyataan yang jelas.

Indira ingin penonton laki-laki merasa tidak nyaman saat melihat adegan bersifat seksual  dalam RONG, dan merefleksikan betapa mengganggunya objektifikasi seksual yang di produksi maupun konsumsi tanpa pikir panjang. 

“Di film ini saya mencoba bagaimana kalau yang diobjektifikasi itu laki-laki,” ujarnya.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.