May 01, 2020
Galau Sama Kerjaan dan Karier? Tonton 5 Romcom Ini

Tonton lima film komedi romantis yang cocok dilihat saat galau dengan pekerjaan dan karier.

by Hera Diani, Redaktur Pelaksana
Culture // Screen Raves
Share:

Hari-hari karantina seperti sekarang ini, mungkin banyak yang jadi merenungkan pekerjaan dan kariernya. Ada yang baru lulus kuliah dan pusing karena jangankan mendapatkan pekerjaan, lowongan pekerjaan pun banyak yang dibekukan selama pandemi. Ada yang selama ini tampak glamor pekerjaannya tapi ternyata sangat rentan posisinya. Dan tentunya yang paling sedih adalah yang dirumahkan tanpa gaji atau di-PHK.

Bagaimana dengan saya?

Maret kemarin adalah tepat 20 tahun sejak pekerjaan pertama saya sebagai reporter di The Jakarta Post, beberapa bulan setelah lulus kuliah. Konsistensi dan kesetiaan bekerja di bidang jurnalistik boleh lah ya, tapi bohong kalau saya bilang tidak pernah berpikir ingin pindah jalur. Alasannya karena jam kerja yang panjang dan finansial.

Saya sempat bekerja di jalur non-jurnalistik, yakni sektor pembangunan, tapi tidak bertahan lama. Akhirnya selalu kembali ke media, dengan pekerjaan sambilan menjadi penerjemah atau penulis.

Sahabat saya yang sudah beralih ke bidang investment banking suka mengejek, heran kenapa saya selalu memilih pekerjaan di jalur kering yang bikin saya enggak mampu beli mobil sampai sekarang (saya enggak pernah marah dengan ejekannya karena dia rajin memberi hadiah ulang tahun/oleh-oleh/traktiran mahal). Ayah saya juga tidak pernah menyembunyikan kekecewaan kenapa saya memilih ikut jejaknya dia sebagai wartawan, bukannya bekerja sesuai pendidikan saya sebagai tukang insinyur.

Saya tidak pernah menyesali jalur karier saya. Tapi, damn it, pandemi ini memang membuat sangat khawatir dengan masa depan finansial yang tidak pasti. Selain berpikir dan bekerja keras demi kecukupan uang dalam bulan-bulan mendatang, jadi mulai membayangkan, seandainya saya punya rumah luas dengan halaman, karantina ini akan lebih nyaman dan aman. Kalau saja ada mobil, bisa sesekali bawa anak keluar rumah biar tidak stres. Coba ada pesawat pribadi... well, ini terlalu ngayal babu dan tidak ramah lingkungan.

Saat sedang gelisah seperti ini, atau ketika berada di persimpangan lainnya, saya selalu mencari penghiburan dari budaya pop (sesuai dengan bio saya di bawah ini). Ada beberapa film yang suka saya tonton ulang jika sedang galau soal pekerjaan. Tapi khusus di saat pandemi, saya cuma mau menikmati hiburan tanpa mikir, jadi komedi romantis alias romcom-lah yang jadi pilihan.

Berikut adalah lima film yang mewakili. Ya memang belum ada nuansa keragaman, masih sangat kulit putih, tapi bolehlah sebagai hiburan. Mudah-mudahan bisa membantu meringankan kegalauan.

  1. Working Girl (1988)

Ini romcom klasik yang cukup iconic dan jadi box office di masanya. Film ini dianggap sebagai terobosan, karena merepresentasikan perempuan kelas pekerja di AS secara realistis.

Tess McGill (Melanie Griffith, ibunya Dakota Johnson for you millenials and gen yeet) adalah sekretaris trengginas yang bekerja keras meningkatkan kariernya dengan sekolah malam dan seminar sana sini. Dia harus berhadapan dengan pelecehan seksual (salah satunya dari the creepy Kevin Spacey), atasan yang mencuri idenya, dan pacar yang tukang selingkuh.

Baca juga: 7 Drama Korea Layak Tonton Buat Kamu yang Skeptis

Saya sempat menonton lagi film ini baru-baru ini, untuk melihat apakah ceritanya masih relevan atau sudah terasa usang dan seksis. Ternyata masih tak lekang oleh zaman dan enak ditonton, serta relevan. Kekurangannya, karakter Tess diadukan dengan bos perempuan (Sigourney Weaver), padahal si bos juga punya pergulatan sendiri memecahkan langit-langit kaca di dunia bisnis yang maskulin (setelah itu pekerjaan dan pacarnya “direbut” Tess pula).

Ada detail-detail yang asyik di sini, seperti bagaimana para pekerja perempuan pelaju memenuhi kapal ke Manhattan dengan memakai sepatu olahraga, dan menggantinya dengan sepatu hak tinggi di kantor. Selain itu, rambut mekar gaya 1980an yang bikin ngakak (tapi dipikir-pikir rambut saya selama karantina sekarang seperti itu).

Bonus point: Harrison Ford dan Alec Baldwin masih muda.

  1. Two Weeks Notice (2002)

Sandra Bullock berperan sebagai pengacara SJW lingkungan hidup yang suka demo dan mengikat diri di pohon atau buldoser, sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme. Saat mengkonfrontasi bos konglomerat yang diperankan si charming Hugh Grant, dia disodori dan menerima tawaran pekerjaan di perusahaannya dengan tekad melakukan perubahan dari dalam.

Perubahan tidak terjadi, well sedikit, tapi yang paling bertransformasi adalah si atasan yang kemudian menjadi pacarnya, yang rela sedikit lebih miskin dan keluar dari mesin kapitalisme.

Film romcom yang baik biasanya memiliki karakter-karakter sampingan yang mencuri perhatian. Demikian juga dengan film ini (dan semua dalam daftar ini). Ada orang tua Bullock yang tak kalah SJW-nya, sahabat setia yang mengabaikan suami demi mendengar curhatan, sampai calon sekretaris yang disangka hamil oleh Grant.

Bullock sendiri cukup meyakinkan jadi aktivis sederhana di sini, tidak seperti aktris-aktris di film lain yang super cantik jelita dan sok dressing down tapi masih tampak glamor.

  1. In Good Company (2004)

Banyak dari kita pernah merasakan pedihnya saat atasan-atasan di tempat kerja lebih terpukau dengan darah-darah muda nan segar lulusan luar negeri yang pengalamannya minimal tapi bacot maksimal. Pasti ada yang tahu persis perasaan karakter Dennis Quaid di sini, senior account executive berpengalaman bertahun-tahun, yang kalah pamor sama anak kemarin sore (Topher Grace) yang mendadak jadi atasannya saat perusahaan dicaplok grup besar.

Di zaman startup seperti sekarang ini di mana presentasi canggih dianggap kunci daripada hasil kerja nyata, dan kemudaan menjadi sesuatu yang diagung-agungkan, film ini sungguh masih relevan sangat. Lalu romcom-nya di mana? Di hubungan antara Grace dan Scarlett Johannson, yang berperan jadi anak perempuan Quaid. Kasihan sekali memang karakter dari aktor favorit sejak zaman The Big Easy (1986) ini.

Meski dia kemudian bangkit dan keadilan pun ditegakkan. Pengalaman yang matang ternyata lebih berguna daripada gaya sejuta. Escapism sekali bukan? LOL.

Referensi serupa: Shattered Glass (2003) dengan Peter Sarsgaard sebagai pegawai senior berpengalaman dan berdedikasi, dan Hayden Christensen, anak muda penuh bacot tapi dipuja bos.

Baca juga: ‘Fleabag’ dan Narasi Perempuan yang Tak Sempurna

  1. The Devil Wears Prada (2006)

Ya, Merryl Streep memang dahsyat. Film ini juga laris karena dianggap berhasil menggambarkan kesadisan editor fashion ternama Anna Wintour, juga mengintip dunia mode secara jeli dan tidak satu dimensi saja.

Tapi bagi saya, yang menarik juga adalah melihat perjalanan karakter Anne Hathaway sebagai anak baru lulus kuliah yang ingin sekali bekerja di media “serius” idamannya tapi terdampar di media “dangkal”. Bagaimana pergulatan batinnya karena sebetulnya dia menikmati sektor yang tadinya dia cerca, tapi terus dia sangkal. Penggambarannya buat saya menyentuh dan manusiawi.

Adegan favorit saya adalah ketika Hathaway berantem dengan pacarnya, yang dianggapnya tidak mengerti bahwa dia “tidak punya pilihan” dalam pekerjaan (sedikit informasi: kita selalu punya pilihan). Ini buat saya relatable banget. Berikut dialognya:

HATHAWAY: I didn't have a choice, OK? I -- Miranda asked me and I couldn't say no.

GRENIER: I know. I know. That's your answer for everything lately. I didn't have a choice. Like this job was forced on you. Like you don't make these decisions yourself.

HATHAWAY: You're mad because I work all the time and because I missed your birthday party and I'm sorry.

GRENIER: Oh, come on, what am I, four?

HATHAWAY: You hate Runway and Miranda and you think fashion is stupid. You've made that clear.

GRENIER: Andy, I make port wine reductions all day. I'm not exactly in the Peace Corps. You know, I wouldn't care if you were out there pole dancing all night, as long as you did it with a little integrity.

Yes, own it, my friend. Own it.

  1. Confession of a Shopaholic (2009)

Para kritikus membenci film ini, tapi saya sendiri suka dan menikmatinya. Bukan hanya karena faktor Hugh Dancy (bagian dari trifecta Hugh favorit saya selain Grant dan Laurie). Tapi juga karena saya bisa relate sama dunia media yang digambarkan di sini, serta keinginan membeli barang-barang bagus karena enggak pernah punya uang saat tumbuh remaja dan sebelum kerja (alhamdulilah enggak terjerumus jadi shopaholic banyak utang).

Isla Fisher juga pas dan lucu aktingnya sebagai reporter pintar yang sebetulnya lebih “dalem” tapi tertarik sama hal-hal shallow. Dancy pun meyakinkan sebagai editor/jurnalis investigatif ganteng idealis idaman (yang tak pernah saya temui di dunia nyata). Ada isu-isu soal integritas dan kejujuran yang mencuat, juga kritik terhadap kapitalisme yang menurut saya digambarkan dengan cukup baik di sini meskipun bungkusnya adalah romcom.

Hera Diani, seperti banyak orang Indonesia lainnya, memiliki dua nama dan ia senang karena perempuan Indonesia tidak perlu menggunakan nama belakang ayah dan suami mereka. Ia pencinta budaya populer, namun kritis terhadap aspek-aspek buruk budaya tersebut, seperti konten-konten yang mengandung pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, serta The Kardashians.