Feminism A to Z Issues

Hati-hati Mikroagresi yang Ancam ‘Sisterhood’ dan Gerakan Perempuan

Kadang, upaya sesama perempuan untuk mengoreksi dan mengritisi perempuan lainnya, seringkali dilakukan bukan untuk memberdayakan, tapi justru menjatuhkan.

Avatar
  • January 9, 2023
  • 5 min read
  • 730 Views
Hati-hati Mikroagresi yang Ancam ‘Sisterhood’ dan Gerakan Perempuan

Dalam percakapan WhatsApp Group (WAG), 22 Desember 2022, teman perempuan saya “Ani” mengucapkan Selamat Hari Ibu dengan rangkaian kata dan emoticon manis. Beberapa anggota WAG merespons positif pesan Ani, bahkan ada yang menambahkan foto hasil tulisan tangan sang anak yang mengucapkan Hari Ibu kepadanya. WAG pagi itu riuh dan hangat.

Baca juga: ‘Sisterhood’ dan Hal-hal yang Tak Selesai

 

 

Berselang beberapa saat, seorang teman lainnya, sebutlah “Ina”, mengirim artikel panjang beserta pesan koreksi yang menjelaskan, 22 Desember bukanlah Hari Ibu, melainkan Hari Pergerakan Perempuan Indonesia. WAG yang tadinya cukup ramai bertukar pesan mendadak sunyi setelah pesan Ina masuk.

Saya adalah satu dari kurang lebih 30-an anggota WAG tersebut. Semua anggotanya perempuan, dari beragam profesi, latar belakang ekonomi, sosial, minat, bahkan referensi hiburan kesukaan. Satu yang menyatukan kami: Alumni pelatihan gender yang difasilitasi salah satu organisasi gerakan perempuan senior.

Saat ini, sebagian dari kami ada yang telah berkeluarga, ada pula yang melanjutkan kuliah S2 hingga S3. Beberapa menjadi pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), berbisnis, ibu rumah tangga penuh maupun paruh waktu, peneliti cum aktivis, bekerja di lembaga donor, dosen, dan sebagainya.

Kembali kepada pesan Ani dan Ina di atas. Bukan kali pertama pula debat dan dinamika terjadi di WAG itu. Namun satu yang saya sayangkan: Upaya sesama perempuan untuk mengoreksi dan mengritisi perempuan lainnya seringkali dilakukan bukan untuk memberdayakan, tapi justru menjatuhkan. Ini tidak hanya terjadi di WAG, media sosial yang berisi netizen maha benar pun sama saja. Belum lagi pertemanan sekolah, kampus, bahkan pekerjaan. Sesama perempuan tapi saling menjatuhkan. Sesama perempuan tapi kerap menyakiti. Sesama perempuan tapi saling membenci.

Baca juga: Ketika Perempuan yang Lebih Berdaya Sudutkan Sesama Perempuan

Mengapa Fenomena ini Terus Terjadi?

Saya bukan pendukung Ani dan tidak akan sekonyong-konyong menyalahkan Ina. Keduanya benar. Ani memiliki cara pandang dan pemahaman mengenai Hari Ibu yang telah dimaknainya bertahun-tahun. Karena Ani seorang Ibu dan setiap 22 Desember ia merayakan dirinya sebagai seorang Ibu. Ina juga seorang Ibu, namun Ina berupaya mengoreksi agar narasi laten domestifikasi perempuan yang terjadi berpuluh tahun sebagai produk Orde Baru dapat terkikis, dan suatu hari dapat betul-betul kita putus. Keduanya memiliki paradigma yang berbeda.

Cara Ina mengoreksi Ani di dalam pesan berantai WAG bisa jadi adalah bentuk mikroagresi. Aksi diam seribu bahasa WAG atas pesan Ina dapat dikatakan juga sebagai bentuk mikroagresi. Keduanya berpotensi saling menyakiti dan justru berujung tidak produktif di dalam komune yang mengatasnamakan persaudaraan. Apalagi jika kita tarik lagi dalam gerakan moral lebih besar bernama: Feminisme. Sikap-sikap mikroagresi inilah yang justru menjadi ancaman pelemahan bagi upaya kita untuk saling menguatkan dan berdaya di dalam gerakan.

Apa itu Mikroagresi?

Mikroagresi (microaggresions) dalam “Featured Commentary: Trayvon, Troy, Sean: When racial biases and microaggressions kill” (2012) diterjemahkan Kevin Nadal sebagai sikap merendahkan dan/ atau mengalienasi/ memperlakukan berbeda seseorang atau kelompok karena ras, gender, seks, orientasi seksual, referensi, pandangan dan identitas politik mereka. Semua individu dan kelompok berpotensi mengalami mikroagresi, tapi secara umum hal ini sering terjadi pada kelompok rentan. Misalnya, perempuan, orang muda, teman-teman disabilitas, kelompok minoritas (baik itu atas nama suku, agama, ras, dan kepercayaan), imigran, dan lainnya.

Beberapa bentuk mikroagresi selain studi kasus di atas yang sering kita temui tapi dianggap biasa dan bahkan tidak kita sadari adalah:

Contoh: “Ke luar kota terus, anak-anak gak jadi panggil tante kan ya karena jarang ketemu ibunya?”

  • Memberikan pujian kepada kelompok disabilitas atas dirinya yang berdaya namun membandingkan kualitasnya dengan kelompok lain.

Contoh: “Aku salut sama kamu sebagai teman Tuli yang mandiri tidak seperti teman Tuli lainnya yang masih butuh pertolongan.”

  • Mengabaikan fakta bahwa terjadi rasisme dan menganggap semua ras adalah sama dan tidak ada yang mengalami opresi.

Contoh: “Apa yang dialami teman-teman di Papua juga kan bisa dialami oleh kita semua (Suku Jawa) yang tinggal di Indonesia.”

  • Mempertanyakan kualitas teman perempuan tentang pemahamannya mengenai feminisme.

Contoh: “Kan sudah ikut pelatihan gender, masa’ masih belum paham juga mengenai gerakan perempuan di Indonesia.”

Bentuk sikap mikroagresi kerap terjadi dan diabaikan karena seringkali kita tidak sadar, sikap-sikap tersebut termasuk ke dalam mikroagresi. Padahal, dampak mikroagresi tidak sederhana. Sebuah studi kualitatif dari University of New York menemukan, mikroagresi yang dialami kelompok rentan dan teropresi dapat berakibat buruk bagi kesehatan fisik dan mental korban.

Baca juga: Feminisme untuk Keadilan, Bukan Feminisme Pengakuan

Apa yang Bisa Dilakukan?

Kembali pada konteks percakapan Ani dan Ina di WAG di atas serta praktik mikroagresi yang terjadi tanpa kita sadari, apa yang bisa dilakukan? Kita perlu mengingat, tidak semua perempuan memiliki pengetahuan, tingkat literasi, referensi, pengalaman, serta cara pandang yang sama.

Semua pengalaman yang kita alami sangat khas dan otentik dari masing-masing kita. Semua berbeda satu sama lain, empati menjadi cara awal untuk memulai mendengarkan dan memahami. Untuk kemudian kita genapi dengan bersama-sama memaknai persaudaraan sebagai salah satu jawaban untuk kita mulai mengurai bias dan juga penghakiman kepada sesama perempuan.

Lia Toriana adalah pegiat isu kesetaraan dan kemanusiaan. Hobi menulis di tengah waktu luang demi menjaga kewarasan menjalani peran sebagai ibu dari tiga anak perempuan. Bisa bertukar pesan dan tanggapan di IG @liatoriana.Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Avatar
About Author

Lia Toriana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *