Horor, Tubuh, dan Perempuan: Dua Jam Bersama Intan Paramaditha
Sejak sekolah dasar, ruang kelas telah jadi tempat doktrin kebencian terhadap tubuh perempuan. Guru-guru mengajarkan tubuh ini adalah pusat dosa sekaligus objek hasrat, sesuatu yang harus dikendalikan, bahkan disembunyikan. Karena itu, tubuh perempuan ditutup rapat di balik kain jilbab panjang agar tak ada mata yang tergoda.
Saat pubertas tiba, darah menstruasi pun diberi cap sebagai darah kotor yang mengandung najis. Cairan merah kental yang datang tiap bulan itu harus segera dibersihkan, bahkan dibungkus plastik agar tak “dimakan jin”. Tubuh perempuan kembali diposisikan sebagai sumber ancaman, bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri.
Sebagai anak yang ingin dianggap salehah, saya patuh. Perlahan tapi pasti, saya mulai menjauh dari tubuh sendiri. Saya menutup lekuk tubuh, menghapus jejak pembalut, dan hidup dalam rasa takut bahwa Tuhan akan murka pada raga yang dianggap najis. Selama bertahun-tahun, rasa benci dan jijik itu menempel seperti beban tak terlihat.
Titik balik datang pada 2013, saat saya membaca Sihir Perempuan, kumpulan cerpen karya Intan Paramaditha. Membuka halaman demi halaman terasa seperti tersengat listrik. Cerita-ceritanya mengerikan, tetapi justru memantik rasa ingin tahu yang dalam.
Cerpen “Darah” segera menjadi favorit. Di sana, saya menemukan bayangan diri dalam tokoh Mara. Kami berbagi memori dan kebencian yang serupa: Tubuh yang dicap kotor, raga yang dianggap hina, rahim yang berdarah.
Pertemuan itu memicu gugatan dalam diri saya. Mengapa rasa benci ini terasa begitu akrab? Apakah perempuan memang sejak kecil diajarkan untuk membenci tubuhnya sendiri?
Melalui figur hantu, monster perempuan, dan dekonstruksi putri dongeng dalam karya-karya Intan, saya mulai mengurai bias lama dan mempelajari ulang arti menjadi perempuan.
Bagi Intan Paramaditha, horor bukan sekadar alat untuk menakut-nakuti. Ia adalah medium untuk menggugat. Di tangan Intan, horor menjadi cara untuk mengusik apa yang selama ini dianggap wajar. Berbeda dari penulis lain yang mengeksplorasi seksualitas secara terang-terangan, Intan memilih horor dan perjalanan sebagai kendaraan kritik.
“Seperti perspektif feminis yang mengganggu apa-apa yang kita anggap normal atau nyaman, horor juga bekerja dengan cara yang sama. Ia memaksa kita mempertanyakan asumsi kita tentang kenyataan,” ujar Intan saat ditemui tim Magdalene di sebuah kedai kopi di Cikini.
Siang itu, mengenakan gaun merah bermotif polkadot dan sepatu hitam, Intan datang dengan segudang cerita. Selama hampir dua jam, ia berbicara tentang horor, gender, dan politik tubuh. Melalui ceritanya, Intan membuka ruang baru untuk membicarakan feminisme.
Berikut petikan perbincangan Magdalene bersama Intan Paramaditha:
Baca juga: Mpu Uteun: Kelompok Perempuan Pelindung Hutan Aceh yang Melawan Patriarki
Bagaimana awal mula ketertarikan Kamu pada genre horor?
Ketertarikan saya pada horor bermula dari kegemaran membaca karya Edgar Allan Poe hingga Mary Shelley. Saat menulis skripsi tentang Frankenstein, saya menyadari bahwa Shelley menggunakan moda horor untuk menggugat norma-norma pada zamannya.
Pada masa Romantik tersebut, ada romantisasi berlebih terhadap sosok seniman atau ilmuwan sebagai “pencipta” yang mahakuasa. Namun, Shelley justru menggunakan horor untuk mengkritik konsep kreasi tersebut. Bagaimana jadinya jika seseorang menciptakan “kehidupan” namun gagal bertanggung jawab atas ciptaannya? Ini layaknya orang tua yang melahirkan anak namun menelantarkannya.
Dari sana, saya melihat horor bukan sekadar hantu, melainkan sarana kritik ideologi dan teknologi melalui spekulasi “what if”. Pemahaman ini membawa saya bersentuhan dengan feminist horror. Saya menyadari bahwa ada dua wajah horor. Horor konservatif yang melanggengkan dikotomi perempuan “baik” dan “nakal” seperti trope final girl di film slasher tahun 80-an serta horor subversif yang justru menantang kotak-kotak tersebut.
Saya memilih yang kedua. Bagi saya, ketakutan masyarakat sering muncul saat menghadapi perempuan yang tidak bisa dimaknai atau dijinakkan dalam definisi tertentu. Eksplorasi terhadap sosok yang “tidak bisa dimengerti” inilah yang menjadi inti karya saya.
Kapan titik balik yang memicu Kamu untuk mendalami lebih jauh hubungan antara horor, perempuan, dan kegilaan?
Setelah mendalami Frankenstein, saya mulai mengeksplorasi penulis lain seperti Charlotte Perkins Gilman melalui karyanya, The Yellow Wallpaper. Cerita itu horor sekaligus politis yang bercerita tentang seorang istri dikurung di kamar oleh suaminya karena dianggap sakit jiwa. Di kamar itu, ia mulai melihat perempuan yang mengendap-endap di balik corak kertas dinding kuning di kamarnya.
Cerita ini memaksa kita bertanya, mengapa ia dikurung? Kenapa perempuan di wallpaper itu ingin keluar? Dan kenapa perempuan itu menjadi gila? Melalui horor, Gilman menggugat normalitas patriarki yang sering kali menggunakan label “gila” untuk membungkam perempuan.
Menjelang penyelesaian buku Sihir Perempuan, saya juga mendalami karya Angela Carter, khususnya kumpulan cerpen feminist fairy tales miliknya. Ia mendekonstruksi dongeng klasik seperti Gadis Berkerudung Merah menjadi narasi yang gelap dan berdarah.
Dari jajaran penulis weird girls, saya belajar bahwa horor bisa menjadi medium yang sangat tajam untuk mengganggu kenyamanan pembaca. Dengan menghadirkan gangguan terhadap kenyataan, kita dipaksa untuk mempertanyakan kembali asumsi-asumsi yang selama ini kita anggap wajar.
Bagaimana perspektif feminisme serta horor membantu Kamu membedah kompleksitas karakter perempuan dalam karya-karya Kamu?
Sejak remaja, saya kerap merasa bingung saat berhadapan dengan perilaku ibu saya yang menurut saya tidak lazim. Pada usia yang masih sangat muda, pemikiran saya cenderung normatif. Saya sering bertanya-tanya mengapa ibu saya tidak seperti ibu-ibu lainnya, mengapa ia kerap bersikap aneh (dalam esai pendek Mother, Monster, Intan menggambarkan tentang sosok ibunya sebagai monster).
Namun, persinggungan saya dengan feminisme menjadi titik balik yang sangat krusial. Feminisme membantu saya membedah apa yang sebenarnya terjadi pada ibu saya dan perempuan-perempuan lain di generasinya.
Saya mulai memahami bahwa bagi generasi boomers di Indonesia, sistem patriarki bekerja dengan cara yang sangat menyesakkan. Ketika seorang perempuan mengalami tekanan hebat dalam pernikahan atau domestifikasi, mereka sering kali tidak memiliki support system.
Mereka dipaksa bertahan dalam diam, sehingga kemarahan yang tidak tersalurkan itu meledak dalam bentuk perilaku yang dianggap “aneh” oleh masyarakat. Dari sini, saya belajar bahwa “monster” bukanlah label moral, melainkan hasil dari cara sistem patriarki bekerja.
Eksplorasi terhadap horor dan feminisme ini akhirnya mengajarkan saya untuk melihat karakter manusia, khususnya perempuan, dengan jauh lebih subtil dan tidak menghakimi. Saya tidak lagi menyederhanakan perilaku seseorang dengan label “gila”, tetapi melihatnya sebagai dampak dari struktur sosial yang menindas, perpaduan antara patriarki dan kapitalisme.
Saya menyadari bahwa perempuan yang terlihat “baik-baik saja” di sebelah rumah pun bisa jadi menyimpan sisi “monster” yang sama, karena pada dasarnya, dalam sistem yang menindas, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi monster.
Pemahaman ini yang membuat karakter-karakter perempuan dalam karya saya menjadi lebih kompleks. Mereka bukan sekadar hitam atau putih, melainkan manusia yang sedang bernegosiasi dengan kegelapan di sekitar mereka.
Baca juga: Rambu Dai Mami, Pemimpin Perempuan dari Tanah Sumba
Bagaimana estetika horor membantu Kamu memotret trauma fisik dan psikis perempuan yang selama ini dianggap tabu atau tidak cukup “penting” dalam sastra realis?
Sebenarnya, hubungan antara horor dan realisme itu sangat dekat. Secara teknik, sesuatu bisa menjadi horor justru karena ada asumsi tentang apa yang kita anggap “nyata”. Kita harus membangun dunia yang realis terlebih dahulu agar elemen horornya bisa mengemuka dan memberikan efek kejut. Berbeda dengan fantasi seperti Harry Potter, di mana tangga yang berpindah adalah hal biasa, dalam horor, gangguan terhadap realitas itulah yang memicu ketakutan.
Bagi saya, horor selalu berbasis pada realisme, namun pertanyaannya, mengapa imajinasi kita atas realisme dalam sastra Indonesia sering kali terasa terbatas? Hal ini yang mendorong saya untuk melakukan pushing the boundaries of what is real atau menembus batas-batas kenyataan tersebut. Caranya adalah dengan mengelola representasi yang dianggap abject atau menjijikkan.
Saat saya menulis Sihir Perempuan pada tahun 2005, tren sastra saat itu dipenuhi dengan narasi seksualitas yang eksplisit, namun anehnya hanya menampilkan sisi yang “seksi” atau indah saja. Saya bertanya-tanya, bagaimana dengan sisi tubuh yang dianggap menjijikkan seperti menstruasi? Mengapa hal yang dianggap kotor itu tidak dibicarakan?
Akhirnya, saya memilih untuk menulis tentang hal-hal tabu itu, seperti mitos hantu yang menjilati pembalut. Dengan membawa elemen-elemen ini ke dalam narasi, saya sebenarnya tidak sedang meninggalkan realisme, melainkan sedang menggugat limitasi dari konvensi realisme itu sendiri.
Bagaimana definisi “monster” dalam tulisan Kamu berevolusi seiring dengan pergeseran peta politik gender di Indonesia selama dua puluh tahun terakhir?
Seiring berjalannya waktu, cara saya melihat konsep perlawanan menjadi jauh lebih kompleks. Pada awal karier saya, sosok “monster” adalah simbol perlawanan itu sendiri. Dalam Sihir Perempuan, misalnya ada ibu yang membunuh karena anaknya dibunuh, atau mereka yang melakukan aborsi. Perempuan-perempuan yang dianggap monster oleh masyarakat ini sebenarnya sedang melakukan perlawanan personal mereka sendiri.
Namun, proses saya bergelut di kolektif feminis dan Sekolah Pemikiran Perempuan membuat saya mulai memikirkan perempuan dalam hubungannya dengan komunitas. Kita tidak bisa terus-menerus melawan sendirian.
Pergeseran ini terlihat dalam novel Malam Seribu Jahanam. Di sana, saya menghadirkan kritik terhadap feminisme yang tidak interseksional melalui karakter Tiga Dara yang cenderung egois. Meskipun salah satu dari mereka natau bahkan pelaku bom bunuh diri dalam cerita tersebut memiliki agensi tertentu, mereka sering kali hanya fokus menyelamatkan diri sendiri. Di sisi lain, ada tokoh seperti Rosalinda yang justru ingin berbuat sesuatu untuk komunitas transpuan. Ini adalah bentuk autokritik saya terhadap gerakan feminis masa kini.
Dulu, feminisme adalah stigma yang berat, namun sekarang ia sudah mulai diterima, bahkan dikomodifikasi menjadi sebuah brand. Sayangnya, feminisme yang populer saat ini sering kali bersifat sangat individualis.
Saya ingin menggugat fenomena itu melalui karya saya. Apa gunanya kamu memerdekakan dirimu sendiri jika kebebasan itu dibangun di atas penindasan orang lain? Bagi saya, definisi monster kini juga mencakup ambiguitas moral tersebut ketika perjuangan untuk diri sendiri justru abai terhadap solidaritas kolektif.
Berbicara soal Rosalinda, mengapa Kamu memutuskan untuk menghadirkan karakter Rosalinda sebagai seorang transpuan di Malam Seribu Jahanam?
Keputusan menghadirkan Rosalinda bertujuan untuk menunjukkan bahwa meskipun tokoh Tiga Dara memiliki kualitas feminis, mereka mewakili jenis feminisme yang tidak interseksional. Rosalinda hadir sebagai perspektif counter-narrative untuk menunjukkan bagaimana praktik feminisme seharusnya bekerja. Melalui karakter Maya, anak kedua dari Tiga Dara. Saya sebenarnya sedang melakukan otokritik terhadap diri sendiri dan banyak orang.
Maya merasa dirinya sangat kritis dan revolusioner karena menentang pengetahuan kolonial, namun di saat yang sama ia abai terhadap realitas saudaranya sendiri, Rosalinda. Ia bahkan tidak tahu ke mana Rosalinda selama ini. Di sini saya ingin menggugat apakah kita benar-benar sedang berjuang jika kita kehilangan kepedulian terhadap orang-orang terdekat yang terpinggirkan?
Harapan saya justru terletak pada sosok Rosalinda. Saya sangat terinspirasi dari realitas komunitas transpuan di dunia nyata, seperti komunitas Bunda Rully (Shinta Ratri), yang setiap hari melakukan care work (kerja-kerja perawatan) di tingkat akar rumput. Mereka hidup dalam kondisi yang sangat rentan.
Di tengah lambannya institusi negara dalam memberikan dukungan, tindakan mereka untuk saling merawat dan berbagi sumber daya yang sangat terbatas adalah sebuah bentuk revolusi yang nyata.
Bagi saya, care work dalam keseharian teman-teman transpuan adalah esensi dari perlawanan itu sendiri. Karena dengan memilih untuk merawat diri sendiri, maka sebenarnya mereka sedang melakukan tindakan menolak penyingkiran atau pengabaian negara.
Bagaimana Kamu melihat fenomena kesalehan Islam kelas menengah di Indonesia yang berkelindan dengan cita-cita neoliberal dan mengapa fenomena ini penting dikritisi?
Sejak era 2000-an, identitas menjadi orang Indonesia semakin melekat dengan norma-norma kelas menengah Islam. Fenomena ini menciptakan stKamur baru tentang kesuksesan yang memadukan kesalehan religius dengan aspirasi kelas menengah, seperti pendidikan tinggi di luar negeri.
Karakter Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta adalah prototipe sempurna dari narasi ini. Ia cerdas, berpendidikan Barat, namun tetap menjaga kesalehan yang kaku. Di sini, kita melihat munculnya “Neoliberal Islam” yang mengadopsi slogan seperti man jada wa jada—sebuah gagasan bahwa siapa yang berusaha pasti berhasil.
Logika ini sangat sentral bagi kelas menengah karena mereka memiliki modal ekonomi dan sosial untuk bermimpi, berbeda dengan kelas pekerja yang fokusnya masih pada bertahan hidup.
Bagi kelas menengah, agama bukan sekadar spiritualitas, melainkan alat untuk menjaga reputasi dan respectability (kehormatan). Mereka sangat peduli pada citra “keluarga baik-baik”. Namun, di balik bungkus kesalehan dan bahasa-bahasa seperti keluarga sakinah, sering kali terdapat kekerasan yang tersembunyi.
Aspirasi kelas menengah ini justru menjadi ruang bagi nilai-nilai konservatif untuk tumbuh subur. Karena mereka memiliki kondisi ekonomi yang lebih lega, mereka punya kemewahan untuk memaksakan norma-norma tertentu seperti membatasi pendidikan perempuan dengan dalih “sudah cukup” atau “di rumah saja” yang secara subtil sebenarnya mematikan potensi individu demi menjaga citra keluarga di mata masyarakat.
Baca juga: Santi Warastuti dan Legalisasi Ganja Medis: Saya Takkan Berhenti
Terkait novel Malam Seribu Jahanam, mengapa Kamu memilih untuk membedah bagaimana kelas menengah justru menjadi agen reproduksi kekerasan?
Ide novel ini lahir saat tragedi bom Surabaya 2018, di mana pelakunya ternyata adalah keluarga kelas menengah yang tinggal di rumah mewah. Ini menghancurkan asumsi bahwa terorisme hanya dilakukan oleh para oknum
(dari kelas menengah ke bawah) yang dicuci otak. Hal ini membuat saya bertanya-tanya tentang peran kelas menengah dalam mereproduksi budaya kekerasan.
Di tahun yang sama, saya menyaksikan bagaimana anggota keluarga besar saya yang berpendidikan tinggi justru menyebarkan kebencian terhadap kelompok queer. Mereka menyebarkan berita-berita yang sangat homofobik.
Mereka keluarga menengah yang berpendidikan. Keluarga baik-baik, bukan teroris, namun perilaku mereka mereproduksi kekerasan sistemis. Inilah yang saya potret dalam Malam Seribu Jahanam, bahwa kekerasan itu sangat dekat, bahkan mungkin kita adalah bagian dari situ.
Kelas menengah sering kali menjadi kaki tangan patriarki dan konservatisme melalui gagasan respectability. Semua tindakan mereka didorong oleh ketakutan akan rusaknya citra keluarga.
Terhadap teman-teman queer, misalnya, pesannya jelas bahwa mereka boleh ada, asal jangan mempermalukan keluarga. Berbeda dengan kelas bawah yang tidak punya waktu memikirkan reputasi karena harus berjuang mencari makan, kelas menengah menggunakan kemapanan mereka untuk menjaga “kemurnian” norma.
Mereka bisa mengklaim diri sebagai Islam moderat yang menghamba pada kemajuan Barat, namun di saat yang sama mendukung eksploitasi alam atau membungkam suara perempuan atau queer.
















