Women Lead
August 05, 2021

Intoleransi Bersemi dari Pembelokan Doktrin ‘Masuk Surga Sekeluarga’

Cita-cita masuk surga sekeluarga kerap diboncengi narasi intoleransi. Contoh nyatanya ada pada kasus bom Gereja Surabaya tiga tahun silam.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Share:

Selama pandemi, orang tua sering mengandalkan internet untuk cari tahu tips membina keluarga atau pengasuhan anak. Namun, mereka lupa, jagat maya menjanjikan segalanya, tak cuma tips pengasuhan anak, tapi juga narasi kekerasan yang bersembunyi di balik kedok agama. Misalnya, tragedi bom di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Maret 2021 atau pengeboman Polrestabes Surabaya, Jawa Timur pada 2018 lalu. Dua kasus itu dilakukan oleh satu keluarga, motifnya serupa: Bersama-sama mencari surga.

Dalam publikasi riset Bhinneka Kultura Nusantara bertajuk “Narasi-narasi Pengasuhan untuk Mempromosikan Toleransi dalam Keluarga di Indonesia”, (4/8), narasi kekerasan yang seliweran di internet biasanya bersifat eksklusif. Itu diproduksi oleh kelompok agama, totalnya tak kurang ada 37 pembuat konten.

Direktur Program Bhinneka Kultura Nusantara, Ki Joyo Sardo menjelaskan, narasi tersebut akan menutup ruang dialog antarumat beragama dan antargolongan di Indonesia. Karena itulah ia menyarankan agar diabaikan saja, tak perlu terlibat dalam debat kusir dalam konten itu. Sebab, semakin banyak adu argumen di sana, semakin besar pula peluang narasi bisa tersebar luas.

Baca Juga: Favoritisme dan Represif: Pemerintah Salah Kaprah Tangani Intoleransi Agama

Masuk Surga Sekeluarga

Adapun salah satu narasi intoleransi dalam tema pengasuhan digital di internet adalah “masuk surga sekeluarga.” Dalam praktiknya, narasi ini bersifat imajinatif karena setiap pembuat konten memiliki gambarannya masing-masing tentang surga, mulai dari berkumpul di surga, bersama ke surga, berkumpul di akhirat, dan menganalogikan situasi itu dengan sensasi hangat nan menyenangkan kala mudik Idulfitri.

Menurut peneliti Bhinneka Kultura Nusantara, Irma Rahmayuni, sepintas tak ditemukan masalah dalam doktrin ini. Namun sebenarnya, penafsiran yang salah atas doktrin itu di mana seluruh anggota keluarga harus masuk surga, membuat ihtiar untuk mencapainya jadi ikut keliru. Di sinilah berlaku prinsip kolektivitas, yakni ayah sebagai pemimpin utama, ibu sebagai pengasuh, dan anak-anak harus berbakti pada orang tuanya. Apabila ditemukan suatu kesalahan dari anggota keluarga, artinya ia cuma bakal menghalangi anggota lainnya untuk masuk surga. Wajar jika kemudian masuk surga lewat jalan kekerasan: Bunuh diri lewat bom pun dilakukan berjamaah satu keluarga.

Pendiri Rumah Kitab, Lies Marcoes membenarkan, pendefinisian hubungan orang tua dengan anak selama ini direpresentasikan secara hierarkis. Ini ibarat relasi Tuhan dengan ciptaannya, sehingga interaksi keduanya dalam posisi tak setara. Di sinilah letak masalahnya, karena rentan membuka praktik kekerasan dalam keluarga. Kekerasan yang dimaksud banyak ragamnya, dan cenderung mengarah pada perilaku ekstrem. Misalnya, suami memukul anak dan istri, suami berpoligami, dan orang tua memukul anak. Lebih ekstrem lagi, menyangkut narasi yang berkaitan dengan jihad dan syahid.

“Ada juga kekerasan simbolik, ini termasuk dominasi laki-laki terhadap perempuan dan orang tua terhadap anak,” jelas Irma.

Pada dasarnya, situasi ini membebani laki-laki dan menyengsarakan perempuan. Sebagai kepala keluarga, laki-laki diwajibkan memastikan seluruh anggota keluarganya masuk surga, sedangkan perempuan kembali didomestikasi lantaran harus bekerja di rumah, menutup aurat, dan kecilnya peluang untuk berkarier. Sementara dalam mengasuh dan mengajarkan nilai pada anak, semua dilakukan berdasarkan hitam dan putih, benar dan salah, surga dan neraka. Padahal faktanya, ada kompleksitas peran yang harus dicek ulang.

Baca Juga: Riset: Generasi Z Tunjukkan Toleransi Beragama yang Tinggi

Doktrin Masuk Surga Sekeluarga Tak Salah Asal...

Sebenarnya, narasi “masuk surga keluarga” tidak buruk, tetapi operasionalisasi yang kaku menghasilkan peraturan hierarkis, absolut, dan patriarkis. Menurut Lies, kedudukan laki-laki dalam keluarga bersifat ideal normatif. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemakluman pada keterbatasan seorang suami, hal yang tak berlaku untuk istri. “Laki-laki sebagai imam, kepala keluarga, dan pencari nafkah itu sifatnya ideal normatif. Mereka akan dimaklumi seandainya tidak bisa bekerja, kalau sebagai imam tapi suka memukul anggota keluarga juga dianggap enggak apa-apa,” tutur Lies.

Baca Juga: Intoleransi Sistematis Halangi Komunitas Sunda Wiwitan Jalankan Keyakinan

“Tapi, kalau istri sebagai pendamping, sifatnya harus. Mereka harus jadi pengurus keluarga, kalau anak-anaknya tidak naik kelas, tidak bisa mengaji, pasti dibilang ibunya yang lalai mendidik anak,” lanjutnya.

Dari contoh ini, kita akhirnya paham, penafsiran keliru terhadap doktrin “masuk surga sekeluarga”, akhirnya lebih banyak menempatkan perempuan lewat peran istri, ibu, dan individu sebagai korban. Sementara, lelaki lebih banyak cuci tangan.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.