October 03, 2019
Masalah Konten, Kompetensi, Ekspansi Bioskop Hambat Film Indonesia

Jumlah film dan penonton yang tumbuh pesat tidak diikuti dengan kualitas konten dan kompetensi pekerja film di Indonesia.

by Shafira Amalia, Reporter
Culture // Screen Raves
Bioskop_Alternatif_SarahArifin
Share:

Artikel ini disarikan dari Buku Pandangan Umum Industri Film Indonesia 2019 yang diterbitkan oleh filmindonesia.or.id.

Dalam dasawarsa terakhir, jumlah layar bioskop di Indonesia meningkat hampir tiga kali lipat. Demikian juga jumlah penonton yang mencapai 51,2 juta pada tahun 2018. Namun sebuah diskusi tentang perfilman Indonesia baru-baru ini menunjukkan bahwa konten yang kurang beragam, rendahnya kompetensi dan kesempatan pekerja film, serta ekspansi bioskop yang tidak merata masih menghambat perkembangan industri film di Indonesia.

J.B. Kristanto, pengamat film dan penggagas laman film.indonesia.or.id, mengatakan bahwa industri film di Indonesia sebetulnya mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Salah satu indikasi lainnya kemajuan industri film Indonesia hari ini adalah partisipasi aktif produser film untuk mengembangkan budaya data dalam perfilman Indonesia, ujar Kristanto.

Selama ini, ujar Kristanto, data penonton hanya dapat dikumpulkan dari jejaring bioskop dan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Tetapi kini, produser juga secara aktif melakukan verifikasi ulang data agar akurat. Pada 2018, misalnya, 67 persen data penonton diperoleh langsung dari produser.

Dengan partisipasi aktif ini, kita dapat melihat peningkatan pada aspek penonton dan distribusi dari tahun ke tahun, ujar Ifa Isfansyah, sutradara dan produser film. Dulu, film yang dianggap non-komersial jarang mendapatkan lebih dari 1.000 penonton selama masa edarnya. Kini film-film ini dapat memperoleh 15.000 hingga 30.000 penonton, ujarnya.

Namun pertumbuhan ini masih dihambat tiga faktor yang telah disebut di awal, yang menurut kritikus/pengarsip film Lisabona Rahman harus diatasi secepatnya. Jumlah bioskop dan layar memang tumbuh pesat di Indonesia. Data yang dikumpulkan filmindonesia.or.id menunjukkan bahwa dari 145 bioskop dengan 609 layar pada 2012, angka ini meningkat tajam menjadi 343 bioskop dan 1.756 layar.

Tetapi kebanyakan bioskop ini hanya tumbuh pesat di kota-kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan kota-kota metropolitan lainnya, kata Lisabona, yang juga merupakan editor filmindonesia.or.id.

Persebaran bioskop di Indonesia masih 80 persen di kota dan hanya 20 persen di kabupaten, ujarnya. Kalau kita tidak mencapai ke orang-orang di kabupaten dan tetap tidak memiliki bioskop di daerah-daerah luar kota, film Indonesia kehilangan kesempatan besar untuk berkembang, tambah Lisabona.

Baca juga: Hiburan Sekaligus Literasi Film di Bioskop Alternatif

Menurut Kristanto, hal ini memperlihatkan ketimpangan dalam penyebaran bioskop juga potensi penonton. Kota-kota provinsi sudah terisi semua kecuali Banda Aceh, tetapi belum cukup merata karena konsentrasi di Jawa masih mencapai hingga 69 persen, katanya.

Turnover tinggi, konten seragam

Hambatan kedua adalah jumlah pekerja film, serta kesempatan dan kompetensi mereka dalam pekerjaannya. Sampai 2017, jumlah orang yang pernah terlibat sebagai pekerja film di Indonesia mencapai 23 ribu orang.

Kenaikan ini terus meningkat tetapi turnover-nya juga tinggi, yakni 64 persen. Yang berarti sering kali setelah terlibat di sebuah film, mereka tidak bekerja lagi di bidang ini, kata Lisabona.

Tingginya tingkat perputaran ini menunjukkan bahwa banyak pekerja film yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaannya di industri ini setelah produksi pertamanya. Akibatnya, pekerja film jarang yang berpengalaman karena keahliannya yang kurang diasah.

Ini berbahaya untuk industri kita. Kita mengasah keahlian dan skill kita di dalam perfilman ya dengan bekerja di perfilman. Tetapi kalau begini keahliannya tidak bisa terasah dan itu membahayakan industri film nasional kita, lanjut Lisabona.

Gunawan Paggaru dari tim sertifikasi kompetensi pekerja film sekaligus salah satu pengurus Badan Perfilman Indonesia (BPI) mengatakan, sertifikasi adalah salah satu solusi untuk memecahkan persoalan perputaran pekerja film.

Sertifikasi akan membantu memverifikasi SDM (sumber daya manusia) berkualitas sehingga produser film dapat dengan mudah mengetahui kompetensi pekerja film yang akan terlibat dalam produksi, katanya.

Keberagaman konten juga menjadi salah satu tantangan besar untuk industri perfilman Indonesia. Data filmindonesia.or.id menunjukkan bahwa satu dari empat judul film yang tayang di bioskop adalah genre horor yang disisipi unsur komedi dan seksual. Pada 2018, ada 132 judul film yang ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia, 46 persen di antaranya adalah film drama, sementara horor 31 persen.

Baca juga: Dicari: SDM Mumpuni untuk Industri Perfilman Indonesia

Drama dan horor memang penggalang jumlah penonton yang terbesar. Dari sisi kekayaan budaya, perfilman kita masih miskin. Ini karena belum ada yang berani dengan pemilihan konten dan juga terus mengulang formula yang aman, kata Lisabona.

Ia mendorong investor untuk memberikan akses permodalan untuk film-film yang tidak main aman. Konten yang lebih beragam akan menjadi lokomotif terkuat untuk mendorong perfilman kita, ujarnya.

Sebagai catatan, keseragaman konten ini pernah turut mendorong perfilman di Indonesia mati suri pada tahun 1990an. Maraknya film horor dan esek-esek (atau keduanya) membuat film Indonesia tidak dapat bersaing di tengah distribusi film asing lewat VCD serta bioskop multipleks kala itu.

Pandu Birantoro, investor film dari Ideosource, mengatakan dominasi genre drama, horor, dan komedi Indonesia adalah wajar karena sejak lama pasar penonton Indonesia disuguhkan film-film dengan genre itu.

Film adalah karya estetika, tetapi juga sebuah produk ekonomi yang membutuhkan transaksi. A good story has to be backed up with a good business plan, katanya.

Lewat film-film ini, jumlah penonton domestik meningkat sekitar 20 persen menjadi 51,2 juta orang pada 2018. Karena kesuksesan film dinilai dari jumlah perolehan penonton, banyak pembuat film dan juga investor yang memilih untuk “main aman” di genre mayoritas, seperti horor dan drama.

Kritikus film Adrian Jonathan Pasaribu mengatakan harus ada titik temu antara karya dan penonton untuk mewujudkan keragaman konten film nasional. Sarana pertunjukan non-bioskop sebenarnya adalah sumber yang bagus untuk melihat film-film yang beragam genre, ujarnya, namun sayangnya film-film ini sering dipandang sebelah mata.

Ini dikarenakan belum ada metode atau wadah untuk mendata film Indonesia yang tayang di sarana pertunjukan ini. Ini sayang sekali karena outlet eksibisi alternatif ini memiliki peran strategis dalam menjangkau penonton lokal, mendorong budaya literasi dan apresiasi film, kata Adrian.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Shafira Amalia is an International Relations graduate from Parahyangan Catholic University in Bandung. Too tempted by her passion for writing, she declined the dreams of her young self to become a diplomat to be a reporter. Her dreams is to meet Billie Eilish but destroying patriarchy would be cool too.

Follow her on Instagram at @sapphire.dust where she's normally active.