June 22, 2020
Jakarta, Masih Tak Ada Anganku di Sana

Kompleksitas permasalahan di area megapolitan, membuat saya semakin canggung untuk beranjak ke pangkuan ibu kota.

by Pamungkas Adiputra
Lifestyle
Jakarta Ramah 78 Thumbnail, Magdalene
Share:

Mungkin setelah saya menulis tulisan ini, banyak yang berkomentar “Ah, kamu pengecut!”, “Survei dari mana tulisanmu itu?”, atau “Tuntutan hidup membuatmu harus keluar dari zona nyaman, Bro!”

Bisa dibilang, saya termasuk minoritas jika berbicara soal ibu kota Jakarta. Dalam percakapan pertama saya soal ini, dengan teman-teman saat akan lulus SMA, saya ditanya, “Mau lanjut di mana?” Lalu, saya menjawab, “Kota sebelah, kalo ga gitu ya di Jogja. Gimana kalo kamu?”

Ia pun merespons, “Jakarta. Enggak perlu tanggung-tanggung jadi orang. Akses di sana mudah. Apa pun yang kau cari ada. Banyak ‘relasi’ yang bisa kau dapat, Bro!”

Satu percakapan lagi dengan teman satu kuliah, kali ini, saya yang bertanya ke dia. “Ada rencana ke mana kelak setelah lulus kuliah?” Tanpa ragu, ia pun menjawab “Jakarta, aku tak ingin mempersulit diri. Di sana segalanya udah enak”. Seketika, saya menghentikan bahasan soal itu. Tanpa disadari, dahi saya mengernyit.

Saya begitu hormat dan menghargai berbagai pendapat soal provinsi dengan luas 661,5 kilometer persegi tersebut. Saya sangat paham, pasti orang-orang sudah menempatkan pilihannya dengan disandingkan berbagai risiko yang akan dihadapinya. Tak mungkin mereka menelan mentah-mentah suatu hal. Toh semua pilihan yang kita ambil juga sejatinya mengandung plus dan minus, bukan?

Jakarta, area megapolitan yang menawarkan sejuta kehidupan yang layak untuk masa depan atau masa tua. Tak sedikit orang pula yang tidak tergiur akan “iklan sosial” tersebut. Semuanya ingin tumpah ruah dalam balutan sistem ibu kota.

Bagaimana tidak, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2020 menurut Kementerian Ketenagakerjaan mencapai Rp 4.267.349. Belum lagi banyak gedung-gedung perusahaan multinasional atau swasta yang mampu membayar lebih karyawannya yang tengah mengadu nasib di Ibukota. Itu tadi jika kita berbicara soal materi, memang tak perlu diragukan lagi.

Baca juga: Ciptakan Kota Aman Bagi Anak Perempuan

Kalau hiburan sosial, banyak yang sekiranya beranggapan bahwa Jakarta pusatnya untuk segala mode. Akan memilih dari segala jenis yang pasti tersedia. Terlebih, jika di kampung halamannya tak banyak beraneka pilihan untuk melepas penat, seolah-olah berpikiran Jakarta akan memberikan “rasa” yang berbeda dari kampung halamannya.

Berbicara soal mentalitas, tak semuanya bisa disamaratakan, kita tahu itu. Pilihan mereka menjatuhkan diri ke Jakarta banyak yang berasumsi untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan infrastruktur kesejahteraan hidup. Namun, banyak yang belum berpikir soal kesiapan mental yang akan diadu dengan pesaing lainnya. Bagaimana mereka akan bertahan, bagaimana cara mereka bisa mengontrol tarikan dan embusan pergolakan rasa batin yang melanda, dan sebagainya. Alhasil, beberapa dari mereka tidak bisa bersaing dan kalah sebelum waktunya.

Penolakan lain mengapa Jakarta belum masuk ke dalam daftar kota tumpuan pada masa dewasa, yaitu bentuk permasalahan sosial yang sering kali terjadi dan sangat akrab dengan masyarakat: Banjir, demo massa, kemacetan lalu lintas akut, polusi udara yang tidak bersahabat dengan paru-paru, dan hal-hal lain yang bisa saja bertambah dengan bertambahnya tahun. Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050. Sampai-sampai ibu kota akan dipindahkan ke Pulau Kalimantan. Sungguh, kita semua tentunya tak mengharapkan jika Jakarta akan bernasib buruk.

Baca juga: Aktivis Dorong Kota Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas

Bagi saya, lebih baik mencari jalan aman memilih kota lain yang dalam bayangan masih bisa merangkul orang-orang seperti saya yang menginginkan atmosfer jauh lebih hangat. Saya berpikir, apa setiap manusia yang ingin hidup minimal dalam batas aman yang berada di Jakarta harus memiliki minimal kesanggupan sekian juta rupiah dalam hitungan minggu/bulan?

Saya meyakini, kejahatan dan halang rintang lain yang menghadang kita semua tak peduli kondisi dan lokasi. Tapi kembali lagi kepada tujuan awal kita, untuk apa merantau jauh dan meninggalkan kampung halaman kalau tidak dipergunakan dengan maksimal.

Saya sangat salut atas dedikasi setiap manusia yang membutuhkan pertaruhan apa pun itu. Tak melihat kondisi pribadi seperti apa, yang terpenting bisa membahagiakan orang-orang tersayang. Ya, mungkin salah satunya dengan pergi ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang dirasa jauh lebih menenangkan masa mendatang.

Saya meyakini pula, pemikiran itu bisa berkembang. Dalam artian, bisa saja saya tidak lagi mengukuhkan pemikiran saya soal tulisan ini, karena bisa saja ada hal lain yang jadi keharusan dan kesanggupan untuk menggapai sesuatu di Jakarta kelak.

Pamungkas Adiputra adalah pria 21 tahun yang berdomisili di Yogyakarta. Aktif mengikuti isu-isu patriarki dan feminisme. Tulisannya berfokus pada isu sosial sehari-hari dan peradabannya. Mari berteman dengan Pam di Instagram @99pamungkas.