Women Lead
September 27, 2021

Janda Batak, Kau Tak Kehilangan Kepala

Pandangan bahwa janda sosok tak berharga adalah pemikiran lawas dalam tradisi Batak. Itu tak lagi relevan di masa kiwari.

by Elvina Simanjuntak
Lifestyle
Share:

Baru-baru ini seorang teman, perempuan Batak, janda dengan tiga anak, mengunggah status di Facebook, “Terasa sekali memang, yang lengkap dan yang tidak lengkap. Yang lengkap tentu lebih berharga.” 

Saya segera paham apa arti status teman yang keturunan Batak itu. “Yang tidak lengkap” maksudnya adalah dia sebagai perempuan yang tidak lagi bersuami karena ditinggal mati. “Yang lengkap” tentu maksudnya pasangan istri dan suami yang masih hidup. 

Membaca status teman saya itu, saya langsung menarik napas, masygul.

Masih banyak masyarakat Batak yang mempunyai pemahaman semacam itu dalam menilai perempuan janda. Seperti halnya dalam masyarakat bukan Batak yang patriarkis, janda cenderung dipandang miring: Perempuan yang sudah tidak bersuami cenderung dipandang “bisa diajak macam-macam” karena dianggap “perempuan kesepian”. Perempuan dianggap makhluk lemah. Ketika ia tidak punya lelaki sebagai “pelindung”, ia seakan boleh diremehkan, boleh untuk kurang diperhitungkan dalam kegiatan masyarakat.  

Dalam budaya Batak Toba, seorang perempuan yang suaminya mati disebut na matipul ulu, artinya “orang yang kehilangan kepala”. Sementara, seorang laki-laki yang istrinya mati disebut na matompas tataring, artinya “orang yang tempat memasak atau urusan memasak di dapurnya hancur berantakan”. Dari sini, jelas sekali ketimpangan gender dalam penggambaran status janda dan duda ini. 

Janda disebut “kehilangan kepala” karena dalam rumah tangga laki-laki adalah kepala, pemimpin, sementara istri, anak, dan harta benda berada di bawah kekuasaannya. Suami/ ayah adalah pembuat keputusan utama dan terpenting, yang lain pelaksana. Maka, orang yang kehilangan kepala berarti kehilangan pemimpin, kehilangan pengayom, kehilangan pegangan. 

Baca juga: Reggy Lawalata dan Stigma Sebagai Janda

Duda disebut “orang yang urusan memasak di dapurnya hancur berantakan” karena ada pembagian kerja yang ketat berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Memasak adalah tugas istri/ibu. Maka begitu istri meninggal, terancam sudah kemaslahatan perut satu keluarga. 

Dalam pembagian kerja patriarkis seperti ini, walaupun istri bekerja seharian di sawah, di pasar, atau di kantor untuk mencari nafkah, dia tetap harus mengurus semua urusan domestik. Ini yang disebut beban ganda perempuan. Maka tak salah kalau ada yang mengatakan, jam kerja perempuan itu sejak matahari hendak terbit sampai mata suami terpejam.

Zaman dulu, janda di keluarga Batak memang dianggap kurang lengkap, sehingga boleh (malah cenderung harus) dikawini oleh saudara laki-laki almarhum suaminya atau kerabat semarga suami. Bahkan, ia boleh juga dikawini oleh ayah mertuanya yang berstatus duda supaya dia kembali lengkap. 

Namun, tradisi berubah seiring waktu. Sekarang, seorang janda yang mempunyai anak, sepanjang dia tetap bertahan sebagai janda, tidak menikah lagi dengan marga lain, ia tetap mendapat posisi terhormat di keluarga Batak. Dia sama sekali tidak kehilangan status dan hak apa pun di keluarga suaminya meski suaminya sudah meninggal. Tidak ada lagi keharusan baginya untuk dinikahi oleh saudara laki-laki almarhum suaminya agar dia disebut “lengkap”, kecuali kalau kedua belah pihak atas kemauan sendiri bersedia menjadi suami istri.  

Baca juga: Memang Kenapa Kalau Janda?

Bagaimana dengan perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya tanpa anak? Ia kembali menjadi perempuan bebas. Secara adat, dia boleh pulang dengan status terhormat ke rumah orang tuanya dan bebas untuk menikah lagi dengan siapa pun yang dia mau. Tidak ada keharusan untuk menikah dengan kerabat almarhum suaminya. 

Kembali kepada janda yang mempunyai anak, bagi keluarga Batak zaman sekarang, dia tetap ditempatkan dan dihitung sebagai bagian sah, sebagai subjek utuh dalam silsilah keluarga sang suami. 

Dengan demikian, semua hak dan kewajiban dalam keluarga suaminya boleh diikuti persis sama, seperti ketika suaminya hidup. Saat suaminya dan dia mendapat tugas menjadi pemimpin di keluarga itu, dia sebagai janda tetap bisa menjalankan tugas kepemimpinan tersebut. Penghormatan yang pada galibnya diberikan kepada suaminya juga diberikan kepadanya sebagai representasi sang suami. Warisan yang menjadi hak suaminya tidak berkurang untuk dia warisi meski sudah menjanda. Tentu soal kewajiban juga demikian, apa yang menjadi tugas wajib suaminya di keluarga itu, kini menjadi kewajibannya. 

Maka dalam situasi yang baru ini, istilah “kehilangan kepala” sebenarnya sudah tidak relevan lagi bagi janda Batak yang punya anak. Secara faktual dan legal, sekarang dialah yang menjadi kepala untuk memimpin anak-anak dan kelak juga para cucunya. Kepala untuk hal-hal yang menuntut kepemimpinannya di keluarga suaminya. Ya, orang Batak harus mencari istilah baru untuk janda menggantikan istilah matipul ulu itu. 

Demikian juga buat lelaki yang terlibat dalam urusan domestik dan sudah menghidupi konsep “tugas ganda laki-laki”–dan ini trennya makin banyak. Meski ia menduda, tidak lagi relevan jika ia disebut matompas tataring.

By the way, “tugas ganda laki-laki” adalah pasangan dari “tugas ganda perempuan”. Ini adalah pencapaian kemajuan dalam gerakan kesetaraan dan keadilan gender, di mana atas nama keadilan, tugas-tugas domestik bukan lagi menjadi tugas perempuan semata melainkan dibagi menjadi tugas bersama laki-laki dan perempuan. Ketika ada pembagian tugas yang adil, maka “beban” berubah menjadi “tugas”. Dengan demikian, apa yang dulu menjadi “beban ganda perempuan” kini berubah menjadi “tugas ganda laki-laki” dan “tugas ganda perempuan”. 

Kembali ke teman saya tadi, jelas masalah dia sebenarnya adalah soal mindset. Dia hidup pada abad ke-21 tapi mindset-nya masih bertahan di abad ke-18 dengan masih menganut keyakinan patriarkis Batak lama. 

Aiiiihhhh… temanku sayaaaang… kalau saja kita dekat, kan saya ajak Dikau untuk piknik melihat kehidupan para janda Batak dan bukan Batak yang perkasa, pejuang-tangguh, yang bertaburan di muka bumi ini. Yang tidak pernah menyebut diri “kurang berharga” atau “tak punya kepala” hanya karena enggak ada laki-laki yang merasa berhak merecoki hidupnya di rumah dan wajib dihormati serta diberi pelayanan kelas satu siang malam. 

Sangat banyak dari mereka yang menjadi orang tua tunggal yang sukses mengasuh anak-anaknya hingga berhasil, juga bertani, berkarier atau berbisnis dengan moncer. Banyak sekali para janda yang menjadi kepala keluarga itu, meski miskin dan hidup pas-pasan, dengan sangat mengherankan mampu menyekolahkan 5-7 bahkan ada 10 anak hingga sarjana dan bekerja. 

Mereka adalah para janda yang sangat percaya diri. Yang sangat tahu bahwa nilai dan makna dirinya terletak di tangannya, tergantung apa yang dia putuskan. Mereka bukan perempuan baperan. Mereka ogah tunduk pada penilaian orang lain, mereka tak sudi didikte oleh pihak eksternal yang merasa punya otoritas  menentukan apa yang pantas dan tak pantas bagi seorang perempuan atau seorang janda. Mereka menetapkan tujuan hidup lalu bekerja keras banting tulang mengejarnya, dan itu membuat mereka bahagia! 

Terus, kehilangan kepala? Ah, buang ke laut! Cakap kotor itu! 

Elvina Simanjuntak adalah pegiat kesetaraan gender di Sibolga, Sumatra Utara.