November 13, 2019
Jojo dan Zio: Angin Segar untuk Dunia Fiksi

Karakter Jojo dan Zio yang merupakan laki-laki feminin merupakan terobosan segar dalam dunia fiksi.

by Fitriani Dewi
Culture // Screen Raves
Share:

Dalam film Bebas karya Riri Riza dan Mira Lesmana, yang merupakan adaptasi dari box office Korea, Sunny, ada karakter Jojo yang sukses membuat film Bebas terasa lebih lokal.

Sumber: kapanlagidotcom

Jika pada versi Korea ditampilkan pertemanan antar perempuan di sekolah khusus perempuan, sosok Jojo dalam Bebas menghadirkan cerita pertemanan antara laki-laki dan perempuan seperti yang biasa kita temui di sekolah-sekolah negeri, yang tentunya lebih relevan dengan situasi Indonesia di masa yang digambarkan film tersebut.

Jojo dengan karakternya yang lucu berhasil membuat penonton terpingkal dengan tingkahnya yang kocak serta mampu memberikan warna tersendiri di dalam film.

Jojo berbeda dari karakter laki-laki yang biasa kita temui. Ia tidak dibuat menjadi karakter laki-laki yang tampan, gagah, dan menjadi incaran perempuan.  Jojo adalah seorang anak laki-laki yang jago menari dan bercita-cita menjadi seorang koreografer terkenal.

Sebagai satu-satunya anggota laki-laki di geng Bebas, Jojo kerap diejek karena berbeda dari anak laki-laki kebanyakan. Omongan-omongan seperti melambai, bencong, dan banci kerap Jojo dengar dari sekitarnya. Namun, cowok itu berhasil membalasnya dengan celetukan-celetukan sassy yang membuat karakternya sangat lovable.

Selain memberikan warna tersendiri pada film tersebut, ada hal lain yang saya sadari saat Jojo muncul di layar lebar. Biasanya masyarakat kita akan mengernyit dan memandang sebelah mata bila melihat sosok seperti Jojo, namun yang saya temui saat menonton Bebas adalah sebaliknya. Penonton sangat menikmati adegan-adegan yang dimiliki oleh karakter tersebut, terhibur oleh celetukan-celetukannya, dan pulang dengan harapan untuk memiliki sahabat seperti Jojo juga.

Karakter Jojo mengingatkan saya dengan Zio, karakter utama dalam novel teenlit berjudul The Name of the Game karya Adelina Ayu yang baru saya baca.

Baca juga: Protes Atas Film ‘Pretty Boys’ Terlalu Sensitif?

Sumber: Instagram Bhuana Sastra

The Name of the Game bercerita tentang Zio, seorang cowok yang kesulitan untuk fit in dalam konstruksi sosial yang menuntut laki-laki untuk mengadopsi nilai-nilai patriarki dalam dirinya dan berusaha untuk mencari apa arti menjadi laki-laki. Dalam novel tersebut, Zio yang adalah seorang mahasiswa Teknik Arsitektur kerap dicibiri karena berbeda. Zio tidak bisa bela diri, tidak jago olahraga, seorang skin care junkie, jago bahasa banci dan berteman dekat dengan perempuan.

Awalnya, Zio merasa nyaman-nyaman saja dengan dirinya. Namun lama-lama ia muak dan jadi bertanya-tanya, kenapa ia harus dicemooh hanya karena dirinya berbeda?

Dalam masyarakat kita, Jojo dan Zio dilihat sebagai sosok “laki-laki setengah matang” yang kurang jantan, cupu, dan lembek. Namun bagi saya, dua karakter ini memperlihatkan warna dan keberanian yang lain.

Jojo dan Zio sama-sama memilih untuk tetap menjadi diri sendiri entah seperti apa keadaan sosial melihat mereka. Diejek seperti apa pun, Jojo dan Zio tidak membohongi diri sendiri hanya untuk diterima.

Mungkin Jojo dan Zio akan langsung kalah bila diajak berantem atau bertanding olahraga, tapi dua-duanya memiliki mental baja yang kuat sehingga tidak lagi tersinggung dan terpengaruh oleh ejekan-ejekan yang setiap hari mereka dengar. Selama bisa menjadi diri sendiri dan memiliki sahabat-sahabat yang menerima mereka, Jojo dan Zio hanya menganggap lalu toxic masculinity dan nilai-nilai patriarki yang berusaha untuk menjerat mereka.

Dan hanya orang-orang pemberani yang dapat melakukannya.

Baca juga: ‘Bebas’ dan Pilihan untuk Tidak Mempromosikan Kebencian

Melihat karakter seperti Jojo dan Zio dalam karya fiksi memberikan angin segar tersendiri untuk saya. Keduanya tidak hanya “menjual” sifat-sifat maskulin yang selalu dipuja-puja, melainkan mengadopsi sifat-sifat feminin dan mengenalkannya kepada publik dengan cara yang positif dan mudah dicerna, sehingga dapat menghibur dan mengubah pandangan seseorang yang berkenalan dengan mereka.

Dalam The Name of the Game, ada satu karakter perempuan yangbertanya pada Zio, “Mengapa cewek tomboy itu dilihat keren, sementara cowok melambai sering dikata-katai? Mengapa cewek yang jago sepak bola itu keren, tapi cowok yang mengerti make up itu enggak?” 

“Bukan masalah cewek atau cowoknya, melainkan sifat yang mereka adopsi. Siapa pun atau apa pun yang mengadopsi sifat feminin itu sudah pasti diremehkan karena kesadaran sifat feminin di masyarakat itu masih rendah. Mereka pikir, feminin itu berarti lembek, lemah, dan cengeng. Padahal, feminin juga berarti hangat dan penyayang. Enggak kalah keren kan dari maskulin?”

Dengan kemunculan dua karya fiksi ini, saya berharap opini masyarakat terhadap laki-laki seperti Jojo dan Zio dapat membaik dan tidak hanya dilihat sebagai karakter pemanis semata. Keduanya punya potensi untuk memperbaiki pandangan masyarakat, menaikkan kesadaran mereka terhadap sifat-sifat feminin dan menghapuskan toxic masculinity dan juga nilai patriarki yang telah bercokol lama.

Fitriani Dewi adalah penggemar seni dan kecantikan yang gemar berdiskusi soal isu perempuan dan laki-laki. Ia senang memotret keindahan manusia lewat seni dan suka mengumpulkan tanaman sukulen.