August 13, 2019
Kita Lupa Mendoakan Hal-hal Ini

Daripada mendoakan agar si lajang cepat menikah, gereja lebih baik mendoakan jemaat agar jauh dari KDRT.

by Christian Paskah Pardamean Situmorang
Issues // Politics and Society
Share:

Umat Kristen percaya bahwa doa adalah napas. Di dalam doa, manusia akan menemukan ketenangan dan membangun dirinya agar senantiasa menjalani kehidupan ini tanpa kegentaran.

Salah satu bentuk doa yang biasa dilakukan oleh umat Kristiani adalah doa syafaat, yakni dalam keadaan di mana kita “datang di hadapan Tuhan dengan menggantikan posisi seseorang”. Doa syafaat dalam bahasa Inggris disebut sebagai “intercession” atau “perantara”. Lalu, siapakah pendoa syafaat? Pendoa syafaat adalah orang yang “menggantikan posisi orang lain”, biasanya pendeta. Dalam ibadah-ibadah kategorial (ibadah kaum perempuan, laki-laki, pemuda, dll.), para pendoa syafaat ini biasanya fleksibel, bisa saja pendeta atau orang-orang lain yang ditunjuk untuk berdoa secara bergiliran. Alternatif lain, doa syafaat bisa dilakukan secara berkelompok.

Di dalam doa syafaat, biasanya ada pokok-pokok pergumulan (permasalahan) yang hendak didoakan. Sayangnya, pokok doa ini sering tidak peka terhadap kehidupan jemaat, dan budaya heteronormatif terasa kental di dalamnya. Salah satu yang sering mencuat adalah doa agar umat yang masih “sendiri” segera mendapatkan jodoh yang “sepadan” menurut kehendak Tuhan. Bagi saya, pokok doa ini betul-betul mengganggu dan justru malah mempermalukan mereka yang lajang dalam ritus beragama. Tidak semua orang memiliki kapasitas untuk membangun hubungan bersama sebagai seorang kekasih. Tidak semua orang juga adalah heteroseksual.

Menurut saya, daripada mendoakan yang masih lajang, lebih baik gereja mendoakan pernikahan jemaatnya agar jauh dari bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sahabat saya dari Fakultas Universitas Kristen Satya Wacana telah membuktikan bagaimana seorang pendoa syafaat memosisikan dirinya dengan baik, saat ia melakukan praktik pendidikan lapangan akhir di sebuah dusun di Sulawesi Utara. Sahabat saya itu mendoakan agar para perempuan di dusun ini terhindar dari kekerasan dari suami-suami yang cenderung pulang dalam kondisi mabuk usai berkebun. Sahabat saya ini juga mendoakan agar para suami juga tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan tidak pulang dalam keadaan mabuk. Suami yang pulang dalam keadaan mabuk adalah “mimpi buruk” bagi para istri di dusun itu.

Baca juga: Adakah Ruang Bagi LGBT untuk Beragama?

Hal ini menurut saya lebih substansial dalam doa syafaat. Dalam konteks kaum muda, doa serupa bisa diterapkan agar kaum muda yang berkomitmen sebagai sepasang kekasih terhindar dari kekerasan dalam berpacaran (dating violence). Mendoakan agar tangan tidak melayang, tidak ada emosi yang meledak-ledak, tidak memaksa berhubungan seks, dan lain sebagainya, adalah pokok-pokok doa yang, kemungkinan besar, memiliki kekuatan yang tidak kecil untuk mengubah hubungan dan kondisi seseorang menjadi lebih aman. Mendoakan komitmen mereka untuk tetap setia juga adalah hal penting, sama seperti doa agar satu sama lain tidak berzina.

Substansi doa semacam ini menurut saya penting karena gereja mengemban misi yang tidak kecil pengaruhnya. Gereja hendaknya tidak menjadi institusi yang hanya tahu bagaimana menikahkan para pasangan-pasangannya, tetapi lupa bagaimana membantu menjaga kehidupan pernikahan itu agar terhindar dari berbagai risiko yang mampu merongrong keutuhan sebuah pernikahan. Mendoakan adalah cara paling sederhana tetapi memiliki dampak yang besar bagi para pasangan.

Mendidik pasangan muda untuk peka terhadap berbagai permasalahan dan menentukan arah sikap yang tepat juga menjadi tanggung jawab bagi gereja, termasuk terkait masalah kekerasan dalam berpacaran (dating violence). Selain mendoakan jemaat, gereja juga perlu menyingkap tabu mengenai seksualitas. Pendidikan seksualitas di gereja hendaknya tersusun secara komprehensif dan terbuka tanpa penghakiman apa pun, dan bebas dari pola pandang patriarkal.

Tulisan ini saya sifatkan juga sebagai doa agar gereja mau menjadi jendela yang terbuka, baik hati maupun benak, untuk dapat melihat keluar. Agar gereja dapat melihat masalah-masalah apa yang sedang terjadi dan mau mengambil sebuah tindakan terbuka tanpa penghakiman agar tercipta sebuah masyarakat yang damai dan menjaga spiritualitas kedamaian itu sendiri.

Amin.

Christian Paskah Pardamean Situmorang adalah seorang transpuan yang ingin terus bersuara untuk ke-Kristen-an yang kadang, dengan segala kesuramannya, ia imani. Jumpai dia di akun Instagramnya, @xsitumorang.