Women Lead
April 29, 2021

Lelaki Kepala Rumah Tangga, Jangan Banyak Gaya Sedikit Bekerja

Perempuan turut menghasilkan uang untuk membantu perekonomian keluarga sementara laki-laki tidak merasa perlu untuk melakukan pekerjaan domestik.

by Pratiwi Juliani
Lifestyle
Bapak rumah tangga dan hubungan tidak setara
Share:

Hari ini, apa saja, sih, tugas perempuan modern selain mengurusi pekerjaan domestik di rumah mereka? Banyak. Seiring diberikannya hak perempuan untuk setara secara berkala, perempuan kini tidak hanya boleh memberikan suara di pemilihan umum, namun juga telah diberi porsi meskipun, ehm, sedikit, di ajang pemilihan umum itu sendiri. Singkatnya, ketika pendidikan dan pekerjaan telah menjadi salah satu tolak ukur kesetaraan, para perempuan berlomba-lomba untuk mencapainya.

Ada kebanggaan tersendiri ketika perempuan bisa menjadi yang pertama di bidang yang sebelnya didominasi oleh laki-laki. Misalnya, menjadi perempuan pertama di keluarga yang sekolah hingga sarjana. Namun, sadarkah kita, bahkan dalam menuju kesetaraan itu pun, kita masih mengejar konsep kesetaraan gender dalam perspektif laki-laki. Ya, kita ingin mendapatkan apa yang laki-laki dapatkan agar mereka mengakui bahwa kita setara dengan mereka.

Sekilas, kita merasa bahwa, ya, akhirnya kaum perempuan mendapatkan apa yang menjadi haknya. Namun, berbanding lurus dengan didapatkannya predikat berdikari itu, siapa saja yang mendapatkan keuntungan selain perempuan itu sendiri? Tentu saja, laki-laki. Contoh paling sederhana, ketika dulu laki-laki harus mengusahakan seluruh pengeluaran rumah tangga dari keringat mereka sendiri, sekarang mereka bisa meminta pasangan perempuan mereka untuk patungan mencukupi kebutuhan mereka. Itu semudah mengucapkan, "Gajiku buat bayar cicilan, ya, gaji kamu buat belanja dapur."

Baca juga: Hai Perempuan, Kamu Tidak Sendirian: Beban Mental Menjadi Seorang Ibu

Sekarang, bayangkan sebuah situasi terbalik, bagaimana jika tolok ukur kesetaraan gender distandarkan melalui kinerja perempuan. Berapa banyak laki-laki yang paham bagaimana cara memisahkan pakaian luntur dan tidak luntur, kemudian merendamnya dalam takaran detergen yang pas, lalu mengatur waktu pencuciannya, menjemurnya dengan rapi, mengangkatnya tepat ketika kering agar harum pewangi pakaian tidak hilang, lalu menyetrikanya satu persatu dan terakhir menaruhnya dengan paripurna di dalam lemari? Itu baru satu. Masih ada 700 pekerjaan domestik lainnya yang harus dikejar jika ingin setara dengan perempuan.

Kesetaraan dalam Pekerjaan Domestik Masih Dongeng

Banyak artikel telah membahas ini, pekerjaan domestik adalah kegiatan dasar yang harus dikuasai oleh semua orang, apa pun gendernya. Sayangnya, ini masih dongeng. Sebagian laki-laki mengklaim telah melakukannya, namun perwujudan itu kebanyakan masih berupa upaya mencari nafkah, seperti keahlian memasak dan mencuci piring bagi mereka yang bekerja di restoran, mencuci pakaian bagi mereka yang bekerja di binatu, atau keahlian bersih-bersih ruangan bagi pekerja hotel. Di luar kegiatan mencari nafkah itu, apakah mereka melakukan hal serupa di rumah mereka untuk turut meringankan beban domestik istrinya yang juga turut membantu mencari nafkah?

Di sini lah ketimpangan yang lumrah terjadi hari ini: Perempuan turut menghasilkan uang untuk membantu perekonomian keluarga sementara laki-laki tidak merasa perlu untuk melakukan pekerjaan domestik dalam rumah tangga mereka. Ini seperti tugas perempuan dan laki-laki dalam keluarga adalah dua banding satu.

Dalam dongeng-dongeng yang telah usang diceritakan bahwa laki-laki pergi berburu, melindungi perempuan dari bencana alam, mengatur strategi perang, membangun rumah dengan kapak mereka sendiri, mengajari anak-anak mereka berburu, dan bercocok tanam. Mereka mengemban tanggung jawab mengeksekusi hal yang bersifat fisik dan strategi bertahan hidup seorang diri, sedangkan istrinya hanya tersenyum sambil merajut karena ia tidak perlu memikirkan apa yang harus mereka makan besok sebab suaminya pasti datang dengan hasil buruan. Saya kira, dari catatan demikianlah muncul gagasan laki-laki adalah kepala rumah tangga. Sebab, ya, di masa itu perempuan memang tidak banyak berkontribusi.

Baca juga: Mi Instan Ala Bapak dan Adik Lelaki yang Tak Perlu Cuci Piring

Sayangnya, meski sekarang perempuan telah juga turun ke lapangan demi turut berjuang mengisi meja makan keluarga, sekaligus memutar otak dengan penuh strategi agar keluarga memiliki simpanan dana darurat, ikut membayar setengah dari cicilan KPR setiap bulannya, juga merangkap mengajar anak di masa pandemi, ditambah beban domestik yang diwariskan sejak dulu di pundak mereka tak juga hilang, apakah masih patut para laki-laki menyandang gelar sebagai kepala rumah tangga ketika mereka hanya pergi bekerja sebentar keluar rumah, menghasilkan uang yang tidak begitu banyak lalu menghabiskan sisa hari mereka dengan menonton YouTube karena merasa kewajiban mereka sebagai kepala keluarga sudah rampung?

Tidak semudah itu, Ferguso.

Ini serba sulit, sebab sedari awal, tidak ada laki-laki yang menyuruh perempuan untuk mengambil peran mereka. Tapi ini harus terjadi, sebab kita membicarakan hak yang sama sebagai manusia. Yang luput dari pemahaman kita adalah, setara bukan berarti menaruh dunia laki-laki sebagai titik yang harus kita kejar, namun setara berarti menaruh nilai hak dan kewajiban setiap orang di luar dari standar gender apa pun. Setara adalah meleburkan batas-batas kebiasaan antar gender yang telah usang dan membuat standar baru berdasarkan fungsi dan kebutuhan yang paling lentur dan paling mutakhir.

Baca juga: Kenapa Perempuan Dianggap Sebagai Pencari Nafkah Tambahan Saja?

Sepanjang tulisan di atas, sebenarnya saya hanya berusaha menghindari ucapan “kasar” seperti ini: Laki-laki harus mencuci piring ketika perempuan menghadirkan makanan di meja. Laki-laki harus ikut membersihkan rumah ketika perempuan turut membayar iuran KPR. Laki-laki harus ikut mengganti popok, membersihkan muntah, memandikan, menidurkan, dan mengurus semua keperluan anak mereka. Sebab apa? Sebab mereka memproduksinya bersama-sama.

Dan masih banyak lagi. Masih ada 700 pekerjaan domestik lainnya yang harus dipelajari oleh laki-laki yang mengaku mendukung kesetaraan gender, sementara itu perempuan telah sampai ke bulan. Perihal siapa yang patut mendapatkan gelar kepala rumah tangga saat ini, mari kita sematkan kepada siapa saja yang paling banyak berpikir dan bekerja dalam satu keluarga. Ini fleksibel. Bisa saja seorang ibu yang pasti perempuan, bisa saja anak perempuan, bisa juga menantu perempuan, atau mungkin adik perempuan. Yang pasti tidak untuk mereka yang tidak mencuci piring kotor setelah mereka makan makanan yang dibeli dari uang istrinya.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Pratiwi Juliani lahir di Kalimantan Selatan, memiliki taman baca gratis yang bergerak dalam misi mengenalkan dan meningkatkan minat baca untuk anak dan perempuan di desa-desa terpencil di provinsi tersebut. Telah menerbitkan dua buku “Atraksi Lumba-lumba dan Cerita Lainnya” (KPG) dan “Dear Jane” (KPG). “Dear Jane” menjadi satu-satunya naskah novel yang lolos kurasi Ubud Writers and Readers Festival 2018.