June 26, 2020
Laki-laki Suka Agnez Mo, Ada yang Salah?

Laki-laki dianggap harus suka musik “maskulin”, bukannya musik Agnez Mo.

by Ahmad Zulfiyan
Lifestyle
Share:

Ketika mengetahui saya menggemari Agnez Mo, beberapa teman dengan cepat mengatakan bahwa tidak sepantasnya saya mengidolakan pelantung “Promises” itu karena saya laki-laki. Bagi mereka, laki-laki perlu memiliki idola dari kalangan musisi dengan genre musik maskulin, tidak seperti Agnez yang punya banyak karya balada yang “cengeng”.

Saya juga beberapa kali ditertawakan dan disebut banci karena preferensi musik saya yang mereka anggap terlalu feminin. “Kok Agnez Mo, sih? Kenapa enggak si itu yang lebih nge-rock?” tanya satu teman saya menyelidik.

Lain waktu, ada yang menyebut saya punya selera musik yang rendahan. Mereka punya keyakinan bahwa laki-laki lagi-lagi perlu lebih banyak mendengarkan musik yang macho.

Memangnya ada definisi baku tentang musik maskulin atau feminin? Orang-orang membuat definisi sendiri yang dikaitkan dengan norma gender yang berlaku dalam masyarakat. Dikotomi feminitas dan maskulinitas melekat erat pada diri seseorang membuat peran gender yang kita miliki terbatas.

Baca juga: Menjadi Perempuan dalam Skena Musik

Tidak hanya dalam memilih preferensi musik, secara umum, kesenian tradisional di Indonesia itu sendiri juga sarat akan bias gender. Dalam masyarakat Mappurondo di Bukit Tinggi, Sulawesi Selatan, terdapat upacara adat yang berisi lagu-lagu yang hanya boleh dinyanyikan oleh sekelompok laki-laki atau perempuan.

Dalam instrumen gamelan Bali, ada istilah kendang wadon (perempuan) dan kendang lanang (laki-laki). Dalam paduan suara pun, masih kental pandangan bahwa laki-laki yang bergabung dalam paduan suara patut dipertanyakan kejantanannya. Padahal, paduan suara memerlukan suara baik laki-laki maupun perempuan untuk menciptakan sonoritas (kenyaringan suara dengan teknik yang benar) dalam membawakan karya.

Bias gender dalam pemilihan preferensi musik dapat menciptakan ketimpangan gender dan memperkuat dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Dalam buku Gender in the Music Industry: Rock, Discourse, and Girl Power, Marion Leonard menyebutkan bahwa dalam pandangan tradisional, perempuan lebih banyak mengisi posisi vokalis dalam sebuah band karena peran tersebut dianggap sebagai feminine occupation. Hal ini berkaitan dengan stereotip perempuan sebagai sosok yang cantik, lembut, dan representatif.

Dalam temuannya, Leonard juga menyebut bahwa anggota perempuan dalam sebuah band rock jauh lebih sedikit dibanding laki-laki. Jika ada pun, perempuan tidak lebih dari sekadar representasi keindahan yang dianggap mampu mencuri perhatian penikmat musik, bukan karya musik itu sendiri.

Artinya, bias gender dapat ditemukan dalam karya musik, baik pelaku seni, instrumen yang digunakan, sampai orang-orang yang menikmati karya musik tersebut. Adanya pembagian peran gender yang mengacu kepada karakteristik fisik manusia memberi batasan-batasan yang dapat menghambat aktualisasi diri seseorang.

Bias gender dalam masyarakat berkaitan erat dengan konstruksi gender terhadap laki-laki dan perempuan. Laki-laki harus menonjol, kuat, dan tidak boleh cengeng seperti perempuan. Dalam tataran lanjut, hal seperti ini berbahaya.

Baca juga: Makanan dan Stereotip Gender: Apa Salahnya Laki-laki Tak Minum Kopi?

Bias gender dalam pemilihan preferensi musik dapat menciptakan ketimpangan gender. Bias gender tersebut membentuk perbedaan peran gender yang dapat menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Ketika laki-laki dilarang memiliki preferensi musik galau dan perempuan tak boleh punya selera musik “keras: seperti genre metal atau rock, sebenarnya sama saja melanggengkan ketimpangan gender dalam masyarakat. Jika kita sepakat dengan hal tersebut, artinya kita mengamini sekat-sekat yang diciptakan oleh dikotomi peran gender dalam masyarakat.

Memang kenapa sih, laki-laki tidak boleh suka musik galau? Apakah ada yang salah ketika perempuan menyukai musik metal dan hobi mendatangi Festival Hammersonic? Bagi saya, tak ada musik yang benar-benar bagus atau buruk. Musik adalah tentang selera. Musik yang bagi saya sangat bagus belum tentu bagus juga di kuping orang lain.

Ketika laki-laki dilarang memiliki preferensi musik galau dan perempuan tak boleh punya selera musik ‘keras’ seperti genre metal atau rock, sebenarnya sama saja melanggengkan ketimpangan gender dalam masyarakat.

Bias gender dalam masyarakat adalah masalah yang sistemis dan telah dikonstruksi sejak lama. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Dalam masyarakat patriarkal yang masih melihat posisi laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, bias gender tak bisa diatasi hanya dengan pergantian peran gender (gender roles switching).

Dalam jangka panjang, pemerintah, media, institusi pendidikan, dan masyarakat memiliki andil besar untuk mengubah situasi ketimpangan gender. Sebagai individu, kita bisa memulai belajar lebih banyak tentang konsep gender sehingga kita dapat memahami permasalahan yang ada di dalamnya. Butuh waktu lama, memang. Namun, untuk saat ini, bisakah kita sedikit saja membiarkan orang lain berbahagia dengan pilihannya?

Ahmad Zulfiyan adalah kandidat master di Program Ketahanan Nasional UGM. Penelitiannya berkaitan dengan konsep ketahanan, gender, dan gig economy.