February 28, 2020
Marissa Anita Bercerita Lewat Akting dan Jurnalistik

Aktris Marissa Anita berharap bisa menyuarakan isu-isu perempuan, termasuk kekerasan seksual, ke dalam berbagai bidang yang digelutinya.

by Siti Parhani, Reporter
Wo/Men We Love
Marissa Anita
Share:

Kasus pemerkosaan oleh produser Hollywood Harvey Weinstein menimbulkan kesan mendalam bagi aktris/jurnalis Marissa Anita. Dengan ekspresi gemas bercampur jengkel, Marissa berbicara bagaimana posisi seseorang bisa membuatnya leluasa melakukan kekerasan seksual pada begitu banyak perempuan.

“Kejadian Harvey Weinstein, yang melahirkan gerakan #Metoo, bisa terjadi  karena posisinya sebagai produser yang membuat dia bisa mengatur segalanya sedemikian rupa, sehingga ia bisa memuaskan keinginannya,” ujar Marissa kepada Magdalene (13/2).

Hal lain yang membuatnya geram adalah bagaimana orang-orang di sekitar Weinstein yang turut menyaksikan kekerasan tersebut melakukan pembiaran .

“Dalam membicarakan isu kekerasan seksual, ada yang namanya enabler. Mereka ini orang-orang yang melihat kejadian itu tapi memilih diam,” ujarnya.

Tidak ingin menjadi enabler dalam kehidupan nyata, apalagi banyak perempuan di Indonesia pun menghadapi kekerasan seksual, Marissa kemudian mengiyakan ajakan produser Airin Efferin untuk bermain dalam drama musikal Belakang Panggung. Drama ini mengangkat isu kekerasan seksual di industri perfilman seperti layaknya kasus Weinstein.

Marissa, yang sudah sejak 2005 bergabung dengan grup teater berbahasa Inggris The Jakarta Players, mengatakan sangat senang bisa turut berkontribusi dalam penggarapan drama musikal yang akan dipentaskan di Jakarta tanggal 6-8 Maret 2020 itu. Menurutnya, cerita-cerita tentang para penyintas kekerasan seksual seharusnya mendapat ruang lebih, karena hal ini penting untuk disuarakan.

Belakang Panggung tidak hanya berbicara mengenai korban saja tapi juga orang yang turut menyaksikan dan membiarkan peristiwa itu terjadi, dan enggak tahu mesti ngapain,” ujar perempuan kelahiran Surabaya 36 tahun yang lalu itu.

Marissa merasa ada yang salah dengan perlakuan publik terhadap para penyintas kekerasan seksual, apalagi ketika mereka berani berbicara tentang kasus yang dialaminya. Pertanyaan-pertanyaan seksis dan menyalahkan korban acap kali dilontarkan publik kepada mereka.

“Saat ada pemberitaan di media tentang kekerasan seksual, selalu ada pertanyaan emang ceweknya pakai baju apa? Itu kan victim blaming, ada semacam penghakiman-penghakiman yang mengakar di masyarakat kita,” ujarnya.

Baca juga: Drama Musikal ‘Belakang Panggung’ Beri Ruang Bagi Penyintas untuk Bersuara

Menurut Marissa, adanya pembiaran dan normalisasi yang terus-terusan dilakukan seolah menjadi justifikasi bagi pelaku untuk bisa beraksi dengan leluasa.

“Sekarang, ada kasus begal payudara, begal bokong, diterima saja, ‘It’s okay mungkin karena pakaiannya terbuka’. Padahal it’s not okay, ada yang salah sampai bisa terjadi kasus begitu,” tambahnya.

Menyuarakan isu perempuan

Belakang Panggung mengisahkan tentang aktris pendatang baru Rani Gunawan (Mian Tiara) yang menghadapi kekerasan seksual dalam sebuah produksi pertunjukan. Digarap sutradara Andrew Trigg, yang adalah suami Marissa, dan produser Airin Efferin serta Dimas Subagio, drama ini berangkat dari kampanye #MulaiBicara dari Lentera Sintas Indonesia, sebuah kelompok pendukung penyintas kekerasan seksual.

Marissa berperan sebagai salah satu karakter yang membiarkan kejadian pelecehan seksual terjadi pada Rani. Ia mengatakan banyak belajar dari produksi pertunjukan ini mengenai bagaimana seharusnya ia merespons ketika kekerasan seksual terjadi, dan bagaimana saksi mata kekerasan seksual melalui pergolakan batin antara terus diam atau berbuat sesuatu.

“Ketika melihat kekerasan terjadi, ada rasa enggak tahu nih mau ngapain, padahal pembiaran itu membuat batin bergejolak. Ingin menegur pelaku tapi entah kenapa enggak jadi,” ujarnya.

Marissa sendiri, seperti banyak perempuan lain, pernah mengalami pelecehan seksual, terutama pelucahan atau catcalling di ruang publik.

“Saya sering mengalami catcalling. Pernah sehabis nonton acara kesenian di Taman Ismail Marzuki (TIM), saya digodain dan disuitin bapak-bapak. Gilanya, dia sedang jalan sama istrinya,” ujarnya.

“Saya saat itu syok dan memutuskan untuk membiarkannya. Dan itu reaksi orang-orang yang biasanya mengalami kekerasan seksual,” Marissa menambahkan.

Bagi Marissa, isu sensitif seperti kekerasan seksual akan lebih dapat menjangkau masyarakat jika disampaikan lewat karya seni.

Sejak terlibat dalam produksi drama musikal ini, keberaniannya tumbuh untuk menegur para catcallers dengan segera.

“Ketika catcalling terjadi, saya akan berbalik badan dan bilang, ‘Ada apa?’. Kita harus melatih respons lebih cepat. Ini penting agar pelecehan seksual tidak dianggap lumrah, padahal itu sesuatu yang salah,” katanya.

Bagi Marissa, bisa membawa isu kekerasan seksual ke panggung teater adalah sebuah kesempatan berharga. Ia percaya bahwa isu sensitif dan berat semacam ini akan lebih dapat menjangkau masyarakat jika disampaikan lewat karya seni.

“Contohnya, saat selesai menonton film bagus, biasanya akan melekat dan memengaruhi pikiran kita. Jika sudah begitu, biasanya akan menempel dan menjadi bagian dari kita, nanti jadinya bercerita itu ke orang lain,” ujar aktris yang telah membintangi enam film layar lebar, antara lain Selamat Pagi, Malam (2014); Istirahatlah Kata-kata (2016); dan Perempuan Tanah Jahanam (2019).

Media tentang pengembangan diri

Marissa menganggap Belakang Panggung sebagai langkah awal untuk menyuarakan isu-isu perempuan ke dalam berbagai bidang yang digelutinya.

“Saya senang bercerita, apakah itu dalam bentuk jurnalisme, film atau teater. Jadi saya akan menggunakan platform yang saya punya untuk tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memberikan konten yang membuat kita mikir, termasuk isu-isu perempuan,” ujarnya.

Pengalamannya sebagai jurnalis sejak 2008, bekerja di media seperti MetroTV dan Net TV, dimanfaatkannya untuk menciptakan media sendiri, yaitu Greatmind.id. Laman ini berisi esai dan wawancara dari para influencer dengan ragam latar belakang, mulai dari seniman sampai aktivis, yang berbagi pengalaman mereka untuk memperkaya perspektif pembaca.

Marissa, yang meraih gelar S2 dari jurusan Digital Media and Society, Loughborough University di Inggris, melihat bahwa kanal alternatif tentang pengembangan diri yang mengolah aspek psikologis sangat diperlukan di tengah arus informasi yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari.

Baca juga: Tara Basro: Permasalahan Perempuan Tidak Pernah Usang

“Hidup di era di mana kita dibanjiri arus informasi itu bisa membingungkan manusia. Hal ini karena kemampuan otak kita tidak secepat internet dalam memproses sesuatu. Jadi akhirnya orang share berita sensasional di WhatsApp misalnya, padahal belum tahu kebenarannya seperti apa,” ujarnya.

Dengan menampilkan konten-konten yang kaya akan perspektif, Marissa berharap dapat mengajak orang-orang untuk lebih mengolah emosi-emosi dalam diri mereka, sehingga menjadikan mereka lebih reflektif dalam menjalani hidup.

Ia juga rajin mengajak orang untuk giat bermeditasi agar lebih tenang dalam menghadapi kekacauan dunia dan untuk membantu menyembuhkan luka.

“Ketika kita punya momen lima menit saja, kita bisa diam, kasih waktu untuk diri sendiri. Meskipun perasaan-perasaan enggak enak itu keluar, hadapi aja. Karena kalau kita selalu hidup dengan denial, kita tidak akan pernah bisa mengenal diri sendiri,” kata Marissa.

Ia menambahkan bahwa meski identik dengan kegiatan duduk dan memejamkan mata, meditasi pada dasarnya adalah kegiatan apa saja yang bisa membuat kita tenang. Marissa, misalnya, senang mencuci piring dan membersihkan rumah karena itu adalah kesempatan untuk berdialog dengan pikirannya.

“Mungkin karena memang dari kecil saya dibiasakan cuci piring sama Ibu. Itu kemudian jadi waktu untuk diri sendiri, me time, dan kegiatan yang meditatif buat saya,” ujar Marissa.

Marissa mengatakan ia sangat menikmati bentuk karya yang sekarang ini ditekuninya, meski ada kesan ia merambah berbagai profesi. Bagi Marissa, inti dari apa yang dia lakukan adalah bercerita, hanya medium yang ia lakoni cukup beragam.

“Saya sangat menikmati bentuk jurnalisme yang saya hadirkan sekarang ini. Dengan membuat video tentang topik-topik tertentu, saya bisa berbagi soal mencintai diri, menyembuhkan luka masa kecil, atau trauma yang dialami,” ujarnya.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.