November 05, 2019
Tara Basro: Permasalahan Perempuan Tidak Pernah Usang

Aktris Tara Basro bicara soal permasalahan perempuan yang tak pernah usang dan pentingnya menggunakan popularitas untuk menyuarakan hal yang positif.

by Elma Adisya, Reporter
Wo/Men We Love
TaraBasro
Share:

Aktris Tara Basro sangat tersentuh dengan film terbarunya, Perempuan Tanah Jahanam yang dirilis bulan lalu, yang menurutnya memiliki narasi perempuan yang sangat kuat. Adegan yang paling mengena di hatinya terutama saat karakter Dini (Marissa Anita) terkepung oleh beberapa laki-laki di sebuah desa.

“Ketika Dini bilang, ‘Kalau lu mau, enggak usah perkosa aku, tinggal minta aja baik-baik,’ hati aku sebagai perempuan pedih banget. Perempuan sampai harus berkata seperti itu hanya untuk merasa aman,” ujar Tara kepada Magdalene, dalam sebuah wawancara Senin (28/10).

“Mungkin kalau laki-laki mendengar dialog itu merasa lucu. Tetapi  buat aku sebagai perempuan, pedih banget mendengar perempuan berkata seperti itu in order to be safe atau in order to be in controlled. Aku merasa adegan Dini sering banget terjadi dan menjadi keseharian perempuan. I know how it feels.

Sejak memulai debutnya sebagai aktris di Catatan Harian Si Boy (2011), Tara Basro sering tampil sebagai perempuan badass dan berpendirian kuat, seperti pendekar silat dalam Pendekar Tongkat Emas (2014) dan atlet pemanah dalam 3 Srikandi (2016). Kemampuannya dalam seni peran juga menjadikan aktris yang  pernah menetap di Australia dan sempat mengenyam pendidikan fashion design di Bina Nusantara University itu semacam muse bagi sutradara Joko Anwar.

Tara Basro dan Christine Hakim saat diwawancara oleh reporter Magdalene

Empat kali sudah Tara, 29, mendapatkan peran utama dalam film-film Joko, yakni A Copy of My Mind (2014), Pengabdi Setan (2017), Gundala (2019), dan Perempuan Tanah Jahanam (PTJ, 2019). Dalam PTJ Tara berperan sebagai Maya, perempuan muda yang berusaha keluar dari jeratan kemiskinan namun mendapati sejarah kutukan keluarga.

Tidak hanya berperan sebagai perempuan mandiri dan berani merebut nasibnya, Tara secara sadar menggunakan popularitasnya untuk mengampanyekan hal-hal positif, seperti citra tubuh positif dan dukungan terhadap kelompok minoritas seksual.

I feel like, ini jadi salah satu tanggung jawab aku sebagai orang yang punya suara, punya platform untuk mulai berbicara. Ini penting banget untuk menyebarkan hal positif dalam hal apa pun,” ujar Tara.

Magdalene berkesempatan mengobrol dengan Tara Basro seputar tantangan perempuan di dalam masyarakat dan sebagai aktris industri perfilman. Berikut cuplikan dari obrolan tersebut.

Baca juga: ‘Perempuan Tanah Jahanam’: Kemiskinan sebagai Sumber Horor

Magdalene: Sebagai aktris dan juga perempuan, apa yang paling berkesan dalam karakter dan juga cerita dari Perempuan Tanah Jahanam?

Tara Basro: Perempuan Tanah Jahanam beda banget dari kebanyakan cerita film horor lainnya. Seperti yang  lo lihat juga, betapa menonjolnya peran perempuan dalam film ini, karena memang semua film Bang Joko ini banyak mengangkat soal perempuan ya, dan dia pun juga feminis.

Karakter-karakter perempuan di Tanah Jahanam sangat beragam menurut aku. Contohnya karakter Ratih, dia tinggal di sebuah desa, di mana dia terlahir dalam kondisi yang tidak bebas, tidak bisa mengekspresikan perasaan dia, dikucilkan dalam masyarakat. Jadi aku rasa setiap perempuan pasti bisa melihat representasi karakter mereka di Perempuan Tanah Jahanam.

Lewat film ini, sangat tergambar bagaimana perempuan merasa tidak aman itu sudah menjadi keseharian mereka. Seperti misalnya adegan Maya saat ditatap terus menerus oleh laki-laki, dan membuat dia takut. Dan juga, bagaimana sengsaranya ibu-ibu yang sedang hamil di desa tersebut.

Kalau untuk Tara, apa yang ingin disampaikan dari PTJ?

PTJ ini ngomongin ketulusan dalam berkarya sih, selain dalam hal cerita. Bang Joko sangat menggebu-gebu sekali dalam mengerjakan ini. Kami pemainnya juga sangat senang banget dalam tiap adegan, walaupun syuting-nya sampai jam delapan pagi, setiap hari.

Kita pengen penonton enjoy the ride. Datang ke bioskop jangan dengan ekspektasi tertentu, atau niat tertentu. Jadi enggak bisa menyerap apa pun dari film ini. Pokoknya, jangan berekspektasi apa-apa, karena ekspektasi akan selalu berujung enggak enak.

Ada sebuah ulasan mengenai PTJ di sebuah media, penulisnya mengatakan bahwa formula Joko Anwar yang bicara soal masalah keluarga dan perempuan itu sudah mulai usang. Bagaimana pendapat Tara dengan hal ini?

Nooo. Semua masalah keluarga dan juga perempuan di setiap film-film bang Joko sangat berbeda. Walaupun semuanya berkisar tentang perempuan, semua masalahnya enggak sama. And no, it’s not the same! Dan menurut aku, cerita tentang perempuan will never die! Deritanya perempuan itu banyak sekali, diperlihatkan di tiap-tiap film Bang Joko. We are all struggling!

Tara Basro dalam film Perempuan Tanah Jahanam

Tadi kita berbicara tentang beragam karakter perempuan di PTJ. Kalau di industri filmnya sendiri, bagaimana Tara melihat representasi perempuan di industri film?

Kalau aku sih lebih melihat pada karakter-karakter perempuan yang berada di film Indonesia. Walaupun saat ini kita banyak melihat karakter perempuan yang menjadi tokoh utama seperti Marlina (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, 2017), tetapi masih banyak perempuan dijadikan pemanis, objek, dan aksesori. Bukan hanya di film, tetapi di tiap acara televisi pun juga sama.

Aku pikir sekarang film Indonesia jauh lebih berkembang lagi. Dengan adanya Asmara Abigail, atau aku yang menjadi tokoh utama di film Indonesia, itu menandakan ada perubahan cara pandang produser dan sutradara menyangkut representasi perempuan yang beragam (dalam segi fisik).

Kalau soal karakter perempuan dalam film Indonesia, apakah Tara mengalami kesulitan saat mencari karakter yang lebih beragam?

Kalau aku melihat sekarang baru beberapa sutradara saja, atau penulis, bahkan produser yang visinya ingin memperbanyak karakter perempuan yang lebih beragam.

Apa pernah protes ke sutradara soal karakter perempuan yang diperankan ternyata banyak stereotip yang jelek?

Hmmn… sejauh ini belum sih, karena ibaratnya main film itu sudah susah banget. Janganlah disusahkan dengan bekerja bersama orang yang tidak satu frekuensi dengan kita. Biasanya aku melihat apakah dia satu visi dengan aku ketika aku membaca naskahnya. Di situ terlihat bagaimana cara pandang si penulis tentang masyarakat, dan lain sebagainya. Jadi sejauh ini, aku masih beruntung bisa bekerja sama dengan orang-orang yang memang cara pandangnya sama.

Baca juga: Hanung Bramantyo dan Kungkungan Mitos Kecantikan

Baru-baru ini Tara juga buka suara soal body shaming terhadap tubuh perempuan, apakah ini memang bentuk keprihatinan Tara?

Ya, itu menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian aku. Karena bagiku, perempuan adalah fondasi dari segala hal, mulai dari masyarakat, keluarga, juga negara. Kita perlu perempuan yang kuat dalam segala hal. Nah, bagaimana kita bisa mendapatkan perempuan yang kuat ketika medianya saja tidak memberdayakan perempuan? Kalau di negara lain, orang yang mengampanyekan self love sudah banyak, tetapi di Indonesia jauh lebih susah. I feel like, ini jadi  salah satu tanggung jawab aku sebagai orang yang punya suara, punya platform untuk mulai berbicara, ini penting banget untuk menyebarkan hal positif dalam hal apa pun.

Menurut Tara, standar kecantikan perempuan itu seperti apa sih?

Kamu cuma perlu merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Kalau dari dalamnya sudah kuat, orang mau ngomong apa pun juga, it doesn’t matter anymore. Dan perempuan Indonesia menurutku, punya beragam jenis kecantikan yang berbeda-beda. Mulai dari timur, Jawa, dan kita semua sangat kaya dalam hal budaya, hanya saja kita tidak sadar.

Baca juga: Perempuan dan Pernikahan dalam 'Ini Kisah Tiga Dara'

Bagaimana pengalaman Tara dengan standar kecantikan yang ada?

Aku pun hingga awal tahun 2019 ini masih punya insecurity. Misalkan, paha aku gede banget, tangannya gede banget. Aku pernah berada di titik kesehatan mental aku terganggu gara-gara harus kurus, harus ini, harus itu. Aku bekerja di Industri yang kompetitif di mana yang main makin muda, makin cantik. Selalu ada tekanan di mana aku harus bisa lebih dari mereka. Tetapi pada akhirnya aku enggak mau stop melakukan hal yang aku suka hanya karena aku merasa tidak pede, kayak misalnya masalah pakai baju. You know, I just want to stop thinking about what people say about me, because it’s tiring. We have to stop saying negative thing about ourselves, because when you say something negative about yourself it will become a reality.

Kemarin kita juga sempat melihat artikel tentang pandangan Tara yang secara terbuka mendukung LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Jarang loh ada public figure yang secara terbuka  membicarakan ini dan mendukung lagi. Apa enggak takut kena backlash?

Really? Kayaknya banyak deh yang mendukung. Sebenarnya beberapa bulan lalu aku mengunggah foto dengan bendera pelangi. Terus banyak banget nih yang kirim direct message ke Instagram aku, dan banyak yang kaget juga. I would like to be able to speak my opinion.  Karena itu kan juga masuk dalam salah satu sila di Pancasila. Selama support itu datang dari niat baik dan positif, I am not scared.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo