Women Lead
August 26, 2020

Masa ‘School from Home’ Ajarkan Prestasi Akademis Bukan Segalanya

Jadi ruang belajar nilai kehidupan, periode ‘school from home’ mengajarkan bahwa prestasi akademis bukan segalanya.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Share:

Di tengah pandemi ini, banyak orang tua merasa khawatir capaian akademis anaknya menurun karena sistem school from home atau sekolah dari rumah. Hal ini merupakan dampak dari sistem pendidikan di Indonesia yang selama ini cenderung hanya menitikberatkan pada hasil dan prestasi akademis anak.

Psikolog Keluarga Alissa Wahid menyayangkan hal ini, dengan mengatakan bahwa momentum school from home ini justru bisa orang tua manfaatkan untuk mengajarkan banyak hal penting pada anak yang selama ini absen disampaikan di sekolah.

Menurut Alissa, saat ini adalah waktu yang tepat bagi orang tua untuk lebih mengenal anak juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada mereka.

Baca juga: Masuki ‘New Normal’, Siapa yang Temani Anak Belajar Virtual?

“Orang tua bisa memfokuskan pada hal apa yang ingin ditumbuhkan pada diri anak, misalnya pengembangan diri. Fokus pada tumbuh kembangnya. Perilaku apa yang baik, apa yang buruk, dan apa konsekuensinya,” kata Alissa dalam webinar ‘School From Home: How to Support The Parents?’ yang diselenggarakan Magdalene dan BINUS School (18/8).

Alissa mengingatkan lagi pada empat pilar pendidikan yaitu learning to know (mengetahui), to do (melakukan sesuatu), to be (menjadi seseorang), dan to live together. Selama ini penekanan pendidikan kebanyakan pada dua poin pertama, jadi ini kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan dua poin yang terakhir, ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa saat ini adalah momen yang tepat bagi orang tua untuk mengenal anak, terlebih gaya belajar (learning style) dan bahasa kasih (love language)-nya. Ada anak yang lebih bisa menangkap pelajaran lewat visual, diiringi suara atau musik (auditory), atau ada yang memang harus bergerak atau tidak bisa tinggal diam (kinestetis), ujarnya. Hal ini penting agar pola pengajaran yang dilakukan orang tua sesuai dengan apa yang anak butuhkan dan inginkan, menurut Alissa. 

Baca juga: ‘Working from Home’ bagi Ibu Bekerja adalah Mitos

“Memahami bahasa kasih anak juga merupakan faktor pendukung besar dalam proses belajar. Bahasa kasihnya apa? Kalau kata-kata (words of affirmation), ya kasih kata-kata dorongan, jangan service (act of service). Belajar bantu anak mengendalikan diri. Orang tua tidak perlu terlalu khawatir target kurikulum, karena knowledge tidak terlalu berat kalau anak sudah tahu learning style-nya,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kita lagi panen dari sistem pendidikan yang buruk. Di masa kayak gini, orang tuanya pada stres karena enggak tahu apa-apa. Lepaskan beban akademis. Fokuskan pada hal-hal yang bisa jadi room for growth dan life skill. Backpack-nya turunin. Keluarkan batu-batunya. Biar lebih enteng naik ke gunungnya.”

Hal itu dibenarkan oleh aktris dan ibu empat anak Mona Ratuliu. Ia mengatakan bahwa bebannya terasa ringan dan ia merasa sangat terbantu saat menurunkan tuntutan dan mengesampingkan target akademis anak dan dirinya sendiri.

“Namanya orang tua kan, ya maunya yang terbaik untuk sekolah anaknya. Tapi ini jadi lebih mudah kalau kita agak lebih santai, banyak maklum. Maklum sama anak, situasi, dan guru. Karena bukan cuma anak, guru dan orang tua juga gagap dengan situasi seperti ini. Belakangan aku nemu cara bahwa sebagai orang tua kita harus santai, deh,” kata  Mona.

Ia menambahkan, “Pada kesempatan ini, aku jadi bisa melihat anakku kalau di kelas kayak gimana. Biasanya cuma dengar dari gurunya. Jadi lebih tahu karakter anak.”

Penyesuaian pihak sekolah

Bukan hanya anak dan orang tua, sekolah juga harus melakukan banyak penyesuaian di tengah kondisi saat ini. Head of ECY/EL Guidance Counselor BINUS School Gloria Siagian, misalnya, menyinggung pentingnya sekolah untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kondisi pandemi ini, baik bagi anak, guru, dan orang tua.

“Enggak semua anak bisa duduk manis dikasih teknologi. Ada yang harus sambil mendengarkan, harus sambil bergerak. Selama ini proses belajar mengajar dilakukan di sekolah, jadi orang tua tidak tahu. Sekarang kan jadi tahu,” ujarnya.

Sama dengan Alissa, Gloria juga menekankan pentingnya pembelajaran life skill dalam kurikulum penyesuaian ini. Hal ini akan membantu anak menyadari bahwa dia memiliki rutinitas dan jadwal yang sehari-hari harus ia lakukan.

“Misalnya, membiasakan anak buat men-submit tugas sendiri. Jelaskan pada anak bahwa sekolah ini (meski online) juga tetap sekolah. Kalau mau ke toilet, tetap izin dulu ke miss. Duduk juga harus proper. Yang penting gimana anak-anak tetap punya rutinitas dan limit,” katanya.

“Apa mempengaruhi prestasi akademis? Kita harus kembali ke prestasi yang mana, sih? Ini kan sebenarnya hanya masalah standar,” tambahnya.

Gloria juga menggarisbawahi pentingnya koordinasi antara orang tua dan sekolah guna membangun iklim belajar yang nyaman dan efektif untuk semua pihak. Hal yang bisa dilakukan sekolah, menurutnya, adalah memberikan pelatihan pada orang tua dalam mengoperasikan teknologi yang jadi sarana belajar.

Ia menekankan pentingnya komunikasi antara guru dan orang tua dalam mendampingi anak belajar. Apabila ada hal yang tidak dimengerti orang tua, jangan ragu untuk bertanya pada guru dan pihak sekolah. Sehingga, katanya, guru bisa membantu mendampingi, misalnya dengan memberitahu sumber-sumber belajar tambahan bagi anak.

Di tengah kondisi yang sangat menantang ini, baik Alissa, Mona, dan Gloria juga berpesan pada semua orang tua untuk selalu meluangkan waktu untuk me time. Hal ini berpengaruh besar terhadap kewarasan individu yang secara langsung memengaruhi kondisi anak di rumah.

“Istirahat itu bukan cuma istirahat fisik dan tidur delapan jam, tapi juga istirahat mental. Aku setiap hari mengusahakan ada me time. Apa saja bisa, disesuaikan saja. Minta suami membantu,” ujar Mona.

Baca juga: Ruang (Ny)aman: Pilih Sekolah yang Menjadikan Anak Subjek

“Karena aku punya empat anak, dan yang bungsu masih bayi menyusui, me time-ku sesederhana butuh mandi agak lama tanpa diganggu,” ujarnya sambil tertawa.

Alissa mengatakan me time ini penting di tengah pandemi dan kita jadi 24 jam bersama anak.

“Dulu, ada waktu seorang Alissa bisa jadi Alissa, di saat anak pada sekolah. Sekarang ini banyak orang tua burnout karena mereka kelelahan dengan pekerjaan, beban rumah tangga, dan capek mendampingi anak. Be kind to yourself. Kalau kita bisa kind dengan diri kita sendiri, kita bisa kind ke anak-anak kita.”

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Suka berdebat, bertanya, dan belok ke kiri. Juga suka kamu. Kenapa konsep tentang normalitas harus ada, padahal tidak ada satu pun nilai yang absolut di dunia ini? Kalau tahu jawabannya, jangan sungkan kabari Selma di Instagram @selma.kirana