Women Lead
February 01, 2021

Memahami Kesehatan Reproduksi Pasangan itu Penting!

Banyak yang merasa tidak perlu atau malu mencari tahu soal kesehatan reproduksi lawan jenis, padahal ini penting dan merupakan bentuk kepedulian.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Dalam masyarakat kita, mencari tahu atau berbicara soal pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi (kespro) sendiri saja sudah sering dianggap tabu, apalagi seputar kespro lawan jenis. Padahal memahami kesehatan reproduksi lawan jenis itu penting karena itu berdampak besar juga pada diri kita.

Ketiadaan pengetahuan soal siklus ovulasi perempuan, atau bedanya sperma dan cairan ejakulasi, misalnya, bisa mengarah pada risiko seperti kehamilan yang tidak diinginkan. Atau bagaimana infeksi menular seksual yang kita atau pasangan alami bisa berdampak kepada diri masing-masing.  

Tiara Kirana, dokter spesialis andrologi, ilmu kedokteran yang mempelajari kesehatan reproduksi laki-laki, mengatakan bahwa mencari tahu dan membicarakan masalah kespro lawan jenis itu penting, salah satunya dalam konteks hubungan seksual.

“Jika laki-laki paham kesehatan reproduksi perempuan, dia enggak akan menyalahkan istrinya untuk masalah kesuburan atau kesehatan lainnya. Misalnya, perempuan nyeri haid luar biasa. Laki-laki tahu enggak ada penyakit namanya endometriosis yang berbahaya untuk istrinya? Kok udah sekian lama pasangannya enggak menstruasi, vagina enggak bisa ditembus?” kata Tiara kepada Magdalene.

Sepanjang pengalamannya sebagai dokter spesialis androlog, Tiara mengatakan banyak pasien laki-laki yang tidak paham soal tubuhnya sendiri.

“Tingkat pemahaman pasien sangat rendah. Semua kalangan, bahkan dari tingkat ekonomi tinggi sampai rendah, banyak yang enggak mengerti baik dari segi seksualitas, fertilitas,” kata Tiara kepada Magdalene.

“Waktu saya tanya soal ereksi, saya bahkan harus pakai kata-kata ‘berdiri’ karena kata ereksi saja mereka enggak tahu,” ujar dokter yang berpraktik di klinik spesialis fertilitas Bocah Indonesia ini.

Kali lain, ia menemukan pasangan pasien, di mana yang laki-laki tidak memiliki testis, dan keduanya tidak paham mengapa hal itu bisa mencegah mereka memiliki keturunan.

Baca juga: Pendidikan Seks di Usia Dini Bisa Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

“Pasangan ini bahkan enggak tahu kalau testis itu ada dalam buah zakar. Mereka sudah enam-tujuh tahun menikah enggak punya keturunan, lantas saling bingung,” ujar Tiara.

“Makanya, penting untuk tahu apakah penisnya ukurannya enggak normal, kok begini. Ini bukan untuk body shaming, ya. Tapi untuk tahu permasalahan,” katanya.

Tiara juga mengatakan bahwa memahami kesehatan reproduksi diri sendiri dan pasangan adalah bentuk kepedulian kita terhadap orang-orang yang kita sayangi.

“Kalau hanya menyerahkan ke salah satu gender itu ignorant namanya. Carilah informasi yang benar. Kalau ragu, silakan ke dokter atau ikuti diskusi kedokteran yang berhubungan dengan reproduksi. Kalau bilang enggak tahu, entah karena malu atau alasan apa pun, itu cuma alasan,” ujar Tiara.

Pendidikan Soal Seksualitas dari Orang Tua

Minimnya pengetahuan seseorang terkait kespronya dapat berawal dari kurangnya atau bahkan absennya peran orang tua dalam memberikan pendidikan seksualitas dan kespro. Hal ini disadari oleh Nurvina Alifa, 31, yang mulai memperkenalkan pendidikan seksualitas kepada putranya yang berusia 5 tahun.

“Minimal anak tahu nama kelaminnya, fungsinya apa untuk saat ini, harus diperlakukan seperti apa, dan bahwa bertanya atau bicara tentang alat kelaminnya tuh enggak apa-apa,” ujarnya.

Sejak bayi pun, meski putranya belum banyak mengerti, Nurvina sudah menanamkan dasar konsep consent. Hal ini dilakukannya misalnya dengan membiasakan diri mengatakan, “Permisi ya, Ibu mau cebokin penis dulu”. Dengan demikian, sang anak akan terbiasa untuk meminta izin atau persetujuan bila ingin menyentuh orang lain atau memberi izin ketika dirinya hendak disentuh orang lain.

Baca juga: 1001 Cara Bicara Anak dengan Orang Tua: Memahami Kesehatan Reproduksi Remaja

Mengenai pemberian pendidikan seksualitas, Nurvina mengatakan bahwa suaminya cenderung mempercayakan hal itu kepadanya karena ia juga tidak begitu paham. Kondisi semacam ini bukanlah hal langka karena menurut penelitian Susan Sprecher dkk. yang dimuat dalam Journal of Sex Research (2008), lebih banyak ibu dibanding ayah yang memberikan pendidikan seksualitas, terlepas dari apa pun jenis kelamin anaknya.

Ini menghasilkan tantangan tersendiri saat seorang ibu hendak memberikan pendidikan seksualitas kepada putranya.

“Enggak banyak juga yang gue tahu [soal kespro laki-laki]. Saya cuma jelaskan penis fungsinya untuk pipis, tapi enggak jelasin soal skrotum dan sebagainya. Kecuali pas ada yang salah dengan penis anak, baru deh saya cari tahu,” ujar Nurvina.

Tiara menyatakan bahwa baik ayah maupun ibu memainkan peran yang sama penting dalam memberikan pendidikan seks kepada anak, meskipun keduanya memiliki pengalaman ketubuhan berbeda.

“Pendidikan kan enggak harus kita mengalami sendiri baru mengajarkan. Misalnya ada bapak yang lihat anaknya menstruasi dan sakit, terus merasa enggak perlu tahu dan biarin ibunya aja yang nanggapin, kan enggak benar juga. Sebaliknya, seksualitas laki-laki ya ibunya juga perlu tahu. Baca dari sumber tepercaya kalau enggak tahu,” kata Tiara. 

Sejak kecil saja, hal-hal yang bersinggungan dengan alat kelamin seperti memegang penis atau vulva sudah bisa ditemukan pada anak-anak. Bocah laki-laki bahkan sudah ada yang bisa ereksi. Alih-alih langsung mempermalukan atau menghardik mereka, Tiara menyarankan orang tua untuk berkomunikasi dengan baik tentang itu kepada anaknya.

“Mereka kan enggak melakukannya untuk tujuan seksual. Kayak digaruk rasanya menyenangkan atau enak, sudah, itu saja. Kalau dipermalukan, maka ia akan berpikir bahwa semua hal yang berhubungan dengan alat kelamin adalah menjijikkan, tidak boleh dibicarakan,” ujar Tiara.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop