Women Lead
February 17, 2021

Kriteria Gaji Pasangan Rp250 Juta Tanda Hubungan Transaksional

Mematok penghasilan Rp250 juta sebagai kriteria pasangan idaman adalah tanda hubungan transaksional, bukan hubungan setara.

by Siti Parhani, Digital Media Specialist
Lifestyle
Share:

Sebuah jawaban soal kriteria gaji pasangan Rp250 juta sebulan menjadi viral di Twitter. Hal tersebut berawal dari survei yang dilakukan oleh akun @JennyJusuf, yang menanyakan tentang kriteria minimal penghasilan calon pasangan.

Banyak warganet yang menjawab bahwa mereka tidak mematok angka tertentu pada pasangan, asalkan punya rencana keuangan yang matang sebelum menikah dan keduanya mau bekerja keras. Namun, yang kemudian mencuri perhatian adalah jawaban dari akun @catwomanizer atau Andrea Gunawan, seorang content creator yang sering mengampanyekan isu kesetaraan dan kesehatan reproduksi.

Ia mencuit bahwa ia mematok kriteria penghasilan pasangan minimal Rp250 juta per bulan dan sudah mempersiapkan dana pensiun. Jika penghasilan pasangannya kurang dari angka itu, ia menambahkan, maka hal itu akan “jomplang” atau tidak setara dengannya.

Angka penghasilan yang bombastis itu menuai kritik buat Andrea. Banyak yang mengatakan kecewa dan menilai bahwa pernyataannya itu tidak sesuai dengan apa yang selalu ia gembar-gemborkan tentang perempuan yang harus berdaya dan tidak bergantung pada laki-laki. Lebih jauh lagi, tidak sedikit warganet yang kemudian menyalahkan feminis sebagai kelompok yang materialistis dan berlindung di balik kata “setara”.

Tapi apa benar pemaknaan kata setara dalam kasus ini sudah tepat?

Baca juga: Kesetaraan dalam Rumah Tangga Tak Cuma Urusan Privat, Tapi Juga Negara

Konsep “setara” dalam suatu hubungan yang diusung feminisme sebetulnya bukan diartikan bahwa kedua belah pihak harus punya latar belakang dan finansial yang sama. Konsep setara itu muncul karena seringnya perempuan dianggap tidak sejajar perannya dengan laki-laki. Dalam peran gender normatif, misalnya, perempuan kerap kali diposisikan sebagai pihak yang tidak berkewajiban untuk memiliki penghasilan, karena suami yang punya tugas untuk menopang mereka.

Di banyak kasus, hal tersebut menjadi salah satu faktor yang menghambat karier perempuan untuk naik ke posisi puncak. Adanya nilai patriarkal semacam itu menjadikan masyarakat kita masih memandang sebelah mata perempuan yang punya gaji atau jabatan lebih tinggi dibanding laki-laki.

Paradigma seperti itu juga terlihat dalam kasus Andrea ini. Adanya anggapan atau pemikiran bahwa sebagai pasangan, laki-laki harus berpenghasilan setara atau bahkan lebih besar agar tidak “jomplang”, secara tidak langsung justru memvalidasi, dan bahkan menguatkan nilai patriarkal yang menabukan perempuan yang berpenghasilan lebih besar dibanding laki-laki tadi.

Baca juga:  Anak Miskin Kerja Ekstra Keras, Bayar Ongkos Tak Terlihat untuk Perbaiki Nasib

Padahal, membangun rumah tangga yang setara tanpa harus menempatkan laki-laki sebagai pasangan yang berpenghasilan paling besar, bukan tidak mungkin bisa dilakukan. Para suami yang menikah dengan perempuan feminis, misalnya, membebaskan diri dari pemikiran-pemikiran patriarkal yang menuntut laki-laki untuk jadi tulang punggung keluarga. Mereka juga tidak segan memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga ketika mempunyai anak.

Gaji Pasangan Dituntut Rp250 Juta Ciri Hubungan Transaksional

Psikolog Diana Mayorita dari Maragama Consulting di Semarang, mengatakan bahwa hubungan yang sejak awal sudah menuntut hal-hal tertentu adalah bentuk hubungan yang bersifat transaksional atau timbal balik, bukan hubungan setara.

Menurutnya, hubungan semacam ini justru berpotensi berubah menjadi hubungan yang tidak sehat, dibandingkan dengan hubungan yang dibangun berdasarkan ketulusan dan pembagian peran yang adil atau setara.

“Pola pikir transaksional selalu ingin ‘kalau aku ngasih A kamu harus balik ngasih A’. Kalau aku sudah ada di posisi ini, kamu juga harus berada di posisi ini biar sama. Nah, itu bakalan terus terjadi,” kata Diana kepada Magdalene.

Yang terpenting dalam mempertimbangkan pasangan itu bukan hanya masalah nominal, tapi juga bagaimana cara pandang pasangan dalam melihat uang dan mengelolanya.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Certified Financial Planner Metta Anggraini, yang mengatakan bahwa dalam membangun suatu hubungan memang kesiapan finansial itu penting. Namun, itu tidak sama artinya dengan membangun hubungan yang bersifat transaksional, apalagi sampai menyebutkan nominal angka tertentu, ujarnya.

“Namanya transaksional itu kan kita pasti akan merasa sudah melakukan banyak hal. Sudah kerja keras, kok harus dibagi sih. Jadinya kita menuntut pasangan buat sama dengan kita. Ya, intinya transaksional  seperti bisnis,” ujar Metta kepada Magdalene.

Artikel sebuah jurnal dari Universitas Florida, Amerika Serikat, yang bertajuk Money and Marriage: A Spending Plan (2008), menyatakan bahwa kebanyakan orang salah persepsi tentang perencanaan finansial karena adanya perbedaan pandangan dalam menilai uang. Banyak di antaranya yang terjebak dalam paradigma hubungan transaksional saat mengatur keuangan, alih-alih kesepakatan untuk mengelola keuangan menjadi lebih baik.

Padahal, menurut Metta, yang terpenting dalam mempertimbangkan pasangan itu bukan hanya masalah nominal semata, tapi juga bagaimana cara pandang pasangan dalam melihat uang dan mengelolanya. Ia menambahkan, tidak sedikit pasangan yang punya perbedaan penghasilan cukup jauh, namun bisa bertahan karena merencanakan keuangannya secara adil dan punya pandangan hidup yang sama tentang uang.

Baca juga: Tips Kebebasan Finansial untuk Orang Tua Tunggal

“Jadi tidak bisa dijamin bahwa jika dua-duanya punya penghasilan yang bombastis, hubungannya akan langgeng dan keuangannya lancar. Uang bisa dicari tapi juga bisa habis dengan cepat,” ujarnya.

“Saya sih menilai kalau cari pasangan jangan dari nominal tapi dari 3C—cinta, commitment dan compatibility,” tambahnya.

Metta mengatakan, dalam hubungan atau rumah tangga, perencanaan keuangan harusnya dipahami sebagai dua pihak yang mau saling membantu dan berjuang mengelola keuangan beserta dengan risiko yang bisa saja terjadi di masa depan.

“Yang terpenting dalam perencanaan finansial itu prosesnya, bukan nominal. Istilahnya, jangan dilihat kita ini mau sekaya apa dengan uang sebesar itu, tapi hidup seperti apa yang mau kita jalani dengan uang itu,” kata Metta.

Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.