October 23, 2020

Membunuh Kekasih

Seorang pria mati di tangan kekasihnya setelah kedapatan salah memanggil nama saat bercinta.

by Aziz Azthar
Culture // Prose & Poem
Share:

Kamar sempit ini semakin dingin, tapi aku semakin berkeringat. Kutarik selimut kembali hingga menutupi kepala. Selimut tipis ini sama sekali tidak membantu. Aku menggigil.

Di sisi lain tempat tidur, seperti bayi raksasa pingsan, seorang pria gendut mengorok. Wajahnya damai sekali, serupa wajah orok, karena lega sudah menumpahkan hasrat-hasrat kami kerjakan berdua. Namun, ia sudah tuntas, sedangkan kepalaku adalah pasar malam. Banyak suara-suara. Aku tahu mereka tidak nyata. Hanya ada aku dan pikiranku.

Tapi wajah itu damai sekali, apakah sedamai itu jika mati? Dengan bantal, mungkin aku bisa menekan wajahnya. Lalu dengkur itu akan hilang dan yang tersisa hanya suara AC.

Aku mengaitkan lenganku di atas perut. Jangan sampai tanganku bergerak tanpa kusadari. Sebenarnya, bisa saja aku mengambil remote AC dan menaikkan suhu. Hanya saja aku tidak mau dia terbangun karena kepanasan. Biarkan dia tidur dengan nyenyak dalam suhu dingin kegemarannya. Dia telah bekerja lembur hingga akhir pekan menjelang. Pekerjaannya mengorbankan waktu pertemuan kami. Aku pun sebenarnya juga sibuk, ya... kalau menjinakkan pikiran-pikiran bisa dibilang kesibukan.

Tubuhnya ternyata juga tampak berkeringat. Dia benar-benar beruang, selalu mengingatkanku pada boneka masa kecilku. Aku suka memanggilnya Teddy Bear. Apa ruangan masih kurang dingin baginya? Atau hanya pikiranku yang sudah berada di tempat lain, maka aku merasa kedinginan?

Titik-titik keringat itu tertimpa bias cahaya dari luar jendela kaca. Aku ingin menyentuh. Aku ingin memeluknya. Satu pelukan tentu tidak akan berbahaya. Perasaan dari bawah perutku menggelitik. Kuyakinkan diri sendiri: Tubuh kurusku tidak ada apa-apanya dibanding tubuhnya. Tapi bagaimana kalau dia terbangun? Mungkin lebih baik begitu. Dia bisa selamat dari diriku.

“Ada pisau yang tajam di dapur.”

Itu suara ibuku. Tubuhku jelas-jelas sudah terpisah dari pikiranku.

“Yang jelas, ada pisau di dapur. Bisa kamu ambilkan? Mami mau makan apel. Kamu juga mau, kan?”

Apa manfaat buah apel? Nanti biar aku cari di Google. Buah yang membuat Hawa dan Adam turun ke bumi, atau itu khuldi? Aku telanjang seperti Adam. Kulihat tubuh kekasihku. Adam tak mungkin segendut dia, tapi aku selalu tertarik dengan pria bertubuh besar dan berlemak. Buah-buah tubuhnya tersembunyi oleh lemak. Bagaimana cara aku mengupasnya? Apa dada laki-laki gendut bisa disebut buah dada juga?

Kulihat dada kekasihku naik-turun seiring suara orok yang kadang tak teratur.

“Hentikan pikiran jorokmu itu,” kata ibuku. Dia menatapku dengan mata jijik. Matanya selalu berawan, seringnya mendung. “Cepat ambil pisau, lamban!”

Baca juga: Aku Bohong pada Ibu

Suhu di luar kamar lebih hangat. Cahaya hanya berasal dari balkon-balkon sempit di luar sana. Kenapa aku tidak berpakaian saja? Masalahnya, aku harus segera mengambil pisau itu, kalau tidak ibuku marah. Di bagian atas rak piring, ada kotak penyimpanan pisau. Gagang-gagangnya sudah melihatku sejak pertama kali aku datang ke sini. Sejak tiga tahun lalu, mereka menantikan aku mengucurkan darah dengan mata-mata mereka. Teddy Bear membeli set pisau karena dia suka masak. Aku sendiri tidak bisa masak. Tapi aku bisa menggores, menyayat, memotong, membuka, mengangakan sesuatu dengan pisau.

Mengucurkan.

“Mami penasaran bagaimana kamu bisa hidup setelah ini.” Ibuku berdiri di dekat pintu. Dia menggeleng, tangannya bersilang di dada. Tubuhnya seperti Hawa dalam pandanganku. Langsing, berlekuk di tempat yang tepat, dan pas dengan gaun putihnya. Rambutnya panjang tapi tipis dan tak disisir (baru turun ke bumi, Bu Hawa?).

“Aku sudah melahirkan monster,” lanjutnya.

“Bagaimana bisa kamu mengecewakan orang tua... dengan melakukan hal-hal menjijikkan seperti.... (dia meludah) Seharusnya dari bentukmu sebutir kacang tanah aku tidak membiarkan ada napas diembuskan malaikat.”  Dia keluar dari unit apartemen dengan menembus pintu.

Aku terpaku. Tanganku menggenggam pisau, naik hingga matanya menjurus ke pintu. Tubuhku sudah terpisah, bisa beroperasi sendiri tanpa pikiran atau hati. 

Di sudut ruangan, duduk seseorang di atas sofa bundar. “Papi sudah berusaha keras menolak godaan, Nak. Tapi yang namanya lelaki tidak bisa hanya dengan satu orang. Mau tidak mau Papi akui itu, sudah diusahakan tapi gagal, Nak.” Kulihat ayahku berpakaian jas formal. Dia berjalan ke arahku.

“Turunkan pisau itu, Nak. Kamu yakin? Bukankah kamu sangat menyayangi dia? Mami beri Papi kesempatan, kamu juga bisa berikan kepadanya.” Matanya jenaka, selalu berusaha untuk menyenangkan lawan bicaranya. Meski dalam benaknya aku tahu hanya ada buah dada-buah dada.

Aku mendengus. Pembelaan ini karena Papi sama-sama gendutnya. Sama-sama banyak dosanya. Sesama yang saling memaklumi. Lagi pula ibuku tak pernah memaafkan, hanya saja ayahku pura-pura tidak tahu. Kuabaikan saja Papi pergi dan aku kembali ada di dalam kamar.

Sedari tadi aku tidak keluar kamar ini. Aku yakin. Tidak terjeda telingaku mendengarkan suara dengkur kekasihku. Lihat, tidak ada pisau di tanganku. Kosong, jemariku telanjang seperti bagian tubuh kami lainnya. Tidak mungkin aku membunuh kekasihku sendiri (dengan pisau dari dapur). Aku tidak mungkin melakukan kejahatan yang tidak terperikan ini. Aku bukan pembunuh. Aku bukan monster seperti yang ibuku kira. Tapi napasku sesak, detak jantungku abnormal sampai aku khawatir dadaku bisa meledak. Aku menahan air mata agar tidak keluar.

Aku memejamkan mata, berdoa. Tuhan, Engkau menciptakan makhluk yang baik dari lahirnya. Ha? Bukan? Lindungi anakmu ini dari dosa di bumi. Walaupun aku tidak Kau terima sepenuhnya dalam kerajaan surgamu. Apalah aku. Aku bukan monster.

Tuhan, Engkau menciptakan makhluk yang baik dari lahirnya. Lindungi anakmu ini dari dosa di bumi. Walaupun aku tidak Kau terima sepenuhnya dalam kerajaan surgamu. Aku bukan monster.

Teddy Bear bergerak-gerak dalam tidurnya. Dengkurnya berhenti. Aku rasa dia merasakan kegelisahanku. Tenang, aku tidak akan membunuhmu, Sayang. Kamu akan lanjutkan kesibukanmu di kerja, rapat-rapat mulu, pergi ke pusat kebugaran, rapat-rapat lagi, bertemu orang-orang. Masak-makan-masak-makan-buang kotoran.

“Bilang sibuk terus! Ayo ngaku! Ada apa?” Dia terbangun.

“Aku mau pipis,” katanya.

Beberapa kali dia menggeser badan ke pinggir luar tempat tidur. Tubuhnya berguncang, melelehkan bulatan-bulatan keringat menjadi aliran-aliran. “Besok aku akan memanggil tukang servis AC lagi.” Dia turun dari tempat tidur.

Aku memperhatikan bagian belakang tubuhnya yang lebar. Tubuhku gemetar lagi. Aku bisa melihat tanda itu lagi. Ketika tubuhnya hilang ke balik pintu, aku mengalihkan pandangan ke meja di seberang tempat tidur. Cahaya jatuh ke mata sebuah pisau yang tergeletak di atas piring, bersama sebuah apel. Ketika dia kembali, Teddy Bear membawa gelas dari luar. Airnya dia habiskan lalu dia letakkan gelas di atas meja. Dia melihat piring itu.

“Baru kamu potong, ya?” Dimakannya beberapa potong sekaligus.

“Apa?” tanyaku. Aku bangkit ke posisi duduk.

“Apel.”

“Memangnya kita punya apel?”

Mulutnya tetap mengunyah. Lalu, dibawanya piring berisi apel itu ke tempat tidur bersama si pisau. Aku menatapnya dengan ketakutan.

Aku tergagap di awal kalimatku: “Sudah sering kali aku bilang kamu jangan minum sebelum tidur, nanti terbangun-bangun dan harus pipis lagi. Terus, jangan makan di atas tempat tidur.”

“Jangan khawatir, tidak ada masalah, kok.” Tentu saja, ini kamarnya. Dia tersenyum, bayangkan boneka Teddy Bear tersenyum sebelum tangannya ditarik sampai jahitannya robek. “Aneh saja kamu, memotong apel pakai boning knife.”

Jauhkan pisau itu dariku. Kumohon. Tanganku gemetaran dan aku ingin menangis. Aku tidak mau melukai kamu!

“Ada apa, Sayang?” tanyanya khawatir. “Kamu menggigil.”

Aku menggeleng. Dia menawariku sepotong apel. Dalam bahasa Latin, “apel” dan “terlarang” adalah satu kata: malum. Dilarang Tuhan. Buah pengetahuan. Bodohnya aku. Kadang tidak mengetahui sesuatu lebih baik daripada mengetahuinya. Buat apa aku tahu ada tanda di punggung Teddy Bear?

Dia sudah melakukan yang terlarang.

Dia pantas mati.

Isi kepalaku seperti tepercik listrik yang korsleting.

“Letakkan kembali piring itu ke meja,” kataku.

Dia malah hanya menggeser piring itu ke pinggir tempat tidur dan merapat ke tubuhku. Napasnya jadi lebih cepat. Aku melihat wajahnya dalam cahaya buram. Pria semakin tampan dalam keremangan. Kata Mami, mereka... (aku ingin meludah seperti ibuku, sambil kulihat mata jenaka ayahku) seperti lalat, bernafsu besar menuju ruang-ruang remang untuk mengucurkan hasrat.

Baca juga: Lemari dan Pelakor

“Aku kangen kamu,” bisiknya di telingaku. Diciuminya leherku dengan lembut.

“Berhentilah berpikir aneh-aneh lagi,” katanya di sela satu-satu kecupan.

“Sibukkan diri dengan pekerjaan, biar pikiranmu tidak dimakan kebosanan. Ada baiknya kamu kembali kerja kantoran, ya kan?” Dia mencium dadaku, yang kalah besar dari dadanya. Perlahan-lahan dia menuntun tubuhku, lalu badannya turun ke bawah. Kurasakan bagian bawah tubuhku tersentuh dingin, sedingin apel tadi yang dimakannya.

“Kamu suka?” Suaranya tertahan.

Aku menangis. Aku sudah melihat tanda itu. Dan pantulan cahaya di pisau. Aku meringis oleh nyeri dan kenikmatan. Kami kembali basah. Selimut tidak ada di atas kasur lagi. Derit dan derit. Dia menciumi aku. Aku membalasnya. Gerak dan gerak. Membebaskan rasanya.

Sejak bertahun-tahun pada masa remaja, aku membenci diriku, aku memikirkan untuk berpisah saja dari keluarga dan kehidupan, tapi aku bertahan karena setiap orang pantas untuk dicintai. Ha? Bukan? Aku mencari cinta dan mendapatkannya. Tapi untuk hidup tidak cukup hanya itu. Aku butuh jaminan kalau hanya aku yang dia cintai. Aku tidak suka berbagi.

Aku berteriak-teriak sambil menatap wajahnya. Dia maju dan mundur.

“Aku ingin menciummu, sebentar lagi aku...,” katanya sambil melepaskan diri dan mengambil posisi. Dia hanya bisa menuntaskannya dengan tangan. “Kamu begitu tampan, (dia menyebut sebuah nama).”

Aku terbelalak. Dia berteriak, tepat ketika bagian tubuhnya mengucurkan air mani lalu darah ke atas mukaku. Tanganku terus bergerak. Maju dan mundur. Naik-turun. Tak terkendali. AC menderu, otomatis berusaha mendinginkan suhu ruangan yang meningkat. Memangnya dia rusak?

Telah kurobek jahitan boneka beruang itu. Kata Mami, itu milik adik perempuanku. Kenapa aku tidak boleh punya Teddy Bear juga? Kurobek saja jahitan tangannya, kucoak dakron dari bawah perutnya. Adikku menangis semalam-sehari, dia tidak mau boneka itu lagi. Papi membuangnya. Diam-diam di tengah malam aku ambil dari tempat sampah. Kusimpan Teddy Bear itu untukku selamanya.

Aku ingin berhenti menggerakkan pisau ini. Tetes-tetes merah memercik bercampur keringat.

Apa kata ibuku? Ayahku? Mereka benar. Aku seorang monster. Tapi kekasihku memanggilku dengan nama yang salah.

Teddy Bear menatapku. Matanya seperti mata boneka kesayanganku dulu. Tak berkedip. Kupeluk tubuhnya dengan penuh rasa cinta. Dia hanya untukku seorang. Selamanya.

Aziz Azthar suka menulis cerpen sejak SMA. Selain menulis, dia pernah bermain peran di teater dan film pendek. Hal baru yang sedang dia sukai adalah mengikuti kursus daring.