Women Lead
October 27, 2021

Menelusuri Sejarah Produk Pembalut dari Berbagai Era

Mulai dari wol, bulu kelinci, kain lap, hingga pulp, pembalut terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman perempuan.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Dari zaman ke zaman, pembicaraan tentang menstruasi masih sering dianggap tabu. Banyak perempuan yang merasa malu saat datang ke toko dan meminta produk untuk menampung darah menstruasi mereka. Ini bisa terlihat sampai sekarang, ketika sebagian orang menyebut pembalut dengan “roti Jepang” atau langsung menyebut merek seperti Softex dan menstruasi dengan “dapet”, “halangan”, atau “datang bulan”.

Ketika beberapa perusahaan seperti Johnson & Johnson dan Kimberly Clark mengeluarkan produk pembalut, mereka menilai nama merek itu penting sekali untuk membantu para perempuan mengatasi rasa malunya ketika membeli produk tersebut. 

Pada awal abad 20-an, alih-alih menyebut langsung kata “pembalut” atau “menstruasi” dalam iklan-iklannya, kedua perusahaan tersebut memilih memopulerkan nama Nupak (Johnson & Johnson) dan Kotex (Kimberly Clark). “Ask for them by name”, demikian slogan Kotex saat awal-awal dipasarkan.  Menyebut Kotex alih-alih pembalut dianggap lebih menyelamatkan muka para perempuan ketika berhadapan dengan penjaga toko laki-laki.

Di samping cerita tentang dua perusahaan yang berinovasi menciptakan produk menstruasi ini, ada cerita-cerita lain terkait sejarah perkembangan pembalut di berbagai belahan dunia. Berikut ini kami rangkum dari berbagai sumber mengenai hal yang patut kamu ketahui tersebut.

Baca juga: Dari Pembalut Sampai Cawan: Kenali Alat Bantu Menstruasi

1. Produk-produk dari Alam

Sebelum konsep pembalut dikenal luas, dalam SimpleHealth disebutkan, sejarawan meyakini masyarakat Mesir Kuno membuat semacam tampon dari papirus yang dihaluskan. Sementara di masyarakat Yunani Kuno, perempuan memakai tampon yang terbuat dari bilah kayu yang dibungkus tiras. Ada pula sebagian perempuan yang diyakini memakai spons laut sebagai tampon.

2. Kain Lap

Antara abad lima hingga 15, perempuan memakai kain lap (rag) sebagai pembalut yang bisa dicuci-pakai. Ini membuat istilah “on the rag” populer untuk merujuk perempuan yang sedang menstruasi.

Dalam artikel Femme International bahkan disebutkan, pada abad 10 di Yunani, ada perempuan yang melempar kain lap bekas pembalutnya ke seorang pemuda yang suka dan mengejar-ngejar dia supaya pemuda itu berhenti melakukan aksinya.

Selain kain lap, wol, kapas, bulu kelinci, atau rumput menjadi opsi yang diambil para perempuan zaman dulu untuk disisipkan ke celana dalamnya guna menampung darah menstruasi.

Baca juga: Seperti Raskin dan Rumah, Pembalut Pun Seharusnya Bersubsidi

3. Sanitary Bloomer, Sanitary Apron, dan Sabuk Menstruasi

Pada tahun 1850-an, perempuan melekatkan katun dan flanel ke celana dalaman perempuan yang mengembang (dikenal dengan bloomer). Selain itu, muncul juga produk sanitary bloomer yang terbuat dari bahan karet, berlubang-lubang sebagai ventilasi, dan bisa dipakai bolak-balik. 

Seiring dengan itu, muncul celemek menstruasi (sanitary apron) yang sebenarnya fungsinya bukan menampung darah, melainkan menghindarkan noda darah tembus ke baju perempuan. Bentuknya bermacam-macam mulai dari kain saja hingga berbahan karet. 

Ada juga sabuk menstruasi yang muncul di akhir abad 19. Sabuk ini berbahan kain mirip seperti ikat pinggang yang kita kenal sekarang, namun pada bagian tengah depan dan belakangnya ada kait untuk menahan kain yang diletakkan di antara kedua kaki (sehingga jika dipasang dengan sabuk menstruasi terlihat seperti cawat). 

Terkait sabuk menstruasi, ada cerita tentang pematenan produk ini. Jika kita mencari di Google Patents, kita mendapati penemunya adalah Dora Morner dan produk ini dipatenkan pada 1922 dengan nomor US1423353A. Berdasarkan versi lain yang ditulis di situs Prochoice Missouri, disebutkan bahwa perempuan kulit hitam bernama Mary Beatrice Davidson Kenner mematenkan sabuk menstruasi pada 1957.

Kenner sebenarnya sudah menemukan sabuk ini 30 tahun sebelum patennya keluar. Ini dikarenakan ada masalah rasialisme dan diskriminasi gender di AS waktu itu. Ia mengatakan bahwa suatu kali pernah dihubungi sebuah perusahaan yang tertarik dengan idenya, namun pihak perusahaan berubah pikiran begitu tahu bahwa Kenner adalah seorang kulit hitam.

4. Produk Pembalut Komersial

Akhir 1880-an hingga awal 1900an menjadi momen bersejarah dalam perkembangan produk pembalut. Dalam riset berjudul “From rags to riches”, terdapat kutipan dari British Medical Journal Juli 1880 yang menyebutkan munculnya produk pembalut sekali pakai berbentuk handuk bermerek Southall dari Inggris. Produk ini dibuat dari materi antiseptik dan menyerap cairan dengan baik. 

Tak lama setelah kemunculan Southall, muncul produk pesaing dari Jerman bernama Hartmann. Produk Hartmann ini dibuat dari pulp serat kayu yang biasa dipakai dalam manufaktur kertas. Kemudian, Johnson & Johnson menyusul membuat Lister’s Towel di AS dengan bahan dasar kain tipis dan katun. 

Namun pada saat itu, para perempuan masih beranggapan membuat sendiri pembalutnya akan lebih murah, nyaman, dan tidak memicu rasa malu (dibanding ketika harus membeli di toko), sehingga ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan yang menelurkan produk pembalut sekali pakai. Itu sebabnya Johnson & Johnson kemudian mengembangkan Lister’s Towel menjadi produk bernama Nupak yang lebih tidak mendeskripsikan produknya secara gamblang.

Kendati ada tantangan seperti tadi, perusahaan seperti Kimberly Clark terus mencoba memasarkan pembalut sekali pakai pada tahun 1920-an. Kali ini, mereka mengambil inspirasi dari penggunaan perban oleh para perawat pada masa Perang Dunia I. Dikutip dari Smithsonian Magazine, perban yang dipakai kala itu terbuat dari materi bernama cellucotton, yang dibuat dari pulp dan lima kali lebih menyerap dibanding perban katun, tetapi lebih murah. 

Kimberly Clark menamai produknya Kotex, dan ada alasan di balik pemilihan nama ini. Merek Kotex datang dari observasi pegawai perusahaan itu yang menemukan bahwa produk tersebut punya tekstur mirip katun (cotton-like texture). Untuk memudahkan penyebutan, alih-alih menulis Cot-tex, Kotex lah yang akhirnya dipilih Kimberly Clark.

5. Pembalut Berperekat

Sampai paruh pertama abad 20, pembalut sekali pakai masih dipakai dengan cara disisipkan begitu saja di celana dalam atau dikaitkan memakai sabuk menstruasi. Baru pada 1969, terdapat inovasi pada produk pembalut Stayfree, yakni menggunakan perekat di bagian tengah bawahnya.

Ini menambah kenyamanan bagi perempuan pengguna pembalut sekali pakai dan perlahan-lahan, pemakaian sabuk menstruasi yang lebih tidak nyaman pun mereka tinggalkan. Produk seperti Stayfree inilah yang kemudian terus digunakan dan dikembangkan sampai sekarang. Tahun 1990-an, barulah dikembangkan produk pembalut dengan gel penyerap cairan di tengahnya.

6. Kembali ke Kain?

Kendati demikian, kesadaran akan masalah lingkungan, yang disumbang juga oleh penggunaan pembalut sekali pakai, selama beberapa tahun terakhir juga mencuatkan kembali tren pemakaian pembalut kain. Dengan desain beragam disertai aneka tempat pembungkusnya, pembalut kain dipasarkan di toko fisik maupun online. 

Sebenarnya kesadaran semacam itu bukan datang sekarang-sekarang ini saja. Dilansir The Logical Indian, pada 1970-an pun sudah ada kesadaran serupa yang mendorong para perempuan kembali ke pembalut kain. Namun, seiring berkembangnya zaman dan terbukanya peluang lebih besar bagi perempuan masuk ke dunia kerja, sebagian besar dari mereka berpikir yang lebih praktis adalah menggunakan produk sekali pakai karena tidak usah repot-repot mencucinya.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop