Women Lead
June 04, 2021

Cawan Menstruasi: Antara Lingkungan Hidup dan Kemiskinan

Pemakaian cawan menstruasi didorong karena manfaatnya bagi lingkungan hidup dan kesehatan reproduksi, namun tidak semua dapat mengaksesnya.

by Adinda Nurrizki
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Banyak pihak, mulai dari pemerhati kesehatan reproduksi perempuan sampai aktivis lingkungan hidup, saat ini sedang mendorong pemakaian menstrual cup atau cawan menstruasi. Cawan menstruasi memang dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak sekali buang. Seperti yang kita tahu, pembalut adalah salah satu limbah yang membahayakan lingkungan karena baru terurai setelah ratusan tahun.

Pembalut juga bisa menghasilkan gas metana dan mengandung pemutih pada bantalannya sehingga dapat mencemari tanah dan air. Bayangkan bila satu perempuan memakai pembalut 3-4 kali sehari, maka mereka bisa menyumbang 300-400 pembalut setiap tahunnya, menurut data dari National Geographic.

Berbeda halnya dengan cawan menstruasi. Ia terbuat dari bahan silikon dan tidak mengandung pemutih atau pewangi. Cawan menstruasi dipakai berulang kali sehingga mampu mengurangi limbah dalam jumlah banyak. Cawan menstruasi juga dinyatakan aman karena minim risiko alergi atau infeksi. Karena terbuat dari bahan silikon, cawan menstruasi tidak akan menyerap kelembaban alami tubuh yang bisa dilakukan oleh pembalut. Kelembapan alami di sekitar vagina ini penting karena jika hilang, ahli mengatakan akan muncul ketidakseimbangan yang dapat memicu penyakit pada alat reproduksi kita.

Data-data ini menunjukkan bahwa cawan menstruasi adalah solusi ideal untuk masalah perempuan dan lingkungan hidup. Tapi, benarkah demikian?

Baca juga: Dari Pembalut Sampai Cawan: Kenali Alat Bantu Menstruasi

Cawan Menstruasi dan Dilemanya

Cawan menstruasi akan selalu aman bila ditambah dengan catatan jika pemakaiannya sesuai ketentuan, seperti dicuci dengan air bersih, disteril dengan cara direbus, dan dicuci dengan sabun khusus.

Sepertinya belum banyak orang yang sadar bahwa ketentuan-ketentuan dalam pemakaian cawan menstruasi ini tidak dapat dipenuhi sejumlah perempuan. Kita semua tahu, bahwa ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia masih jauh dari kata usai. Jadi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum kita banyak berkoar soal pentingnya pemakaian cawan menstruasi.

Indonesia punya wilayah yang sangat luas, terdiri dari gugusan pulau, dan tak sedikit daerah terpencil yang luput dari program pemerataan pemerintah. Masyarakat di sana tidak punya akses informasi yang mumpuni. Jadi, jangankan informasi soal bagaimana mereka harus mencuci bersih cawan menstruasi ini, keberadaan cawan menstruasi sendiri belum tentu mereka tahu.

Kita bisa memberi tahu mereka soal keberadaan cawan menstruasi ini.

Oke, mereka mungkin akan tahu. Namun persoalan selanjutnya akan muncul ketika mereka tahu bahwa harga cawan menstruasi cenderung mahal, dari Rp200 ribu hingga jutaan. Jika ada yang murah pun, kualitasnya perlu dipertanyakan, apakah terbuat dari bahan yang baik untuk area reproduksi kita atau aman untuk lingkungan, sesuai dengan tujuan awal cawan menstruasi ini diciptakan. Makin bagus kualitas cawan menstruasi, biasanya akan semakin mahal pula harganya. Apakah mereka akan mampu membelinya? Rasanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari pun, mereka masih merasa kesulitan.

Bagaimana bila kita membagikan cawan menstruasi ini secara gratis?

Selain akses terhadap informasi yang belum didapat oleh banyak perempuan, terutama di kalangan bawah, ada isu lain yakni akses terhadap fasilitas sanitasi yang baik dan air bersih. Bisa dibayangkan bila cawan menstruasi dipakai begitu saja tanpa ada perawatan yang baik, hal ini akan berisiko memunculkan berbagai infeksi dan penyakit akan mengancam kesehatan reproduksi perempuan.

Baca juga: Seperti Raskin dan Rumah, Pembalut Pun Seharusnya Bersubsidi

Solusi kita untuk lingkungan dan perempuan ternyata sangat sulit dijangkau oleh mereka yang hidup serba tak cukup. Itu sebabnya, kemunculan menstrual cup atau cawan menstruasi ini disebut-sebut hanya untuk mereka yang berasal di kalangan atas.

Ini baru pada persoalan kondisi sosial ekonomi. Bagaimana dengan perempuan disabilitas seperti tuna netra, misalnya. Bagi saya, sebagai perempuan tanpa disabilitas, memakai cawan menstruasi kadang cukup merepotkan. Bukan hanya pada perawatannya, tapi juga teknis pemakaiannya. Apakah para perempuan dengan disabilitas bisa memakainya dengan mudah?

Sebuah solusi baik seharusnya tidak hanya untuk mereka yang berkecukupan dan hidup tanpa kebutuhan khusus. Memang, sebuah penawaran solusi biasanya tak akan bisa lepas dari persoalan lain yang ditimbulkannya. Untuk itu, isu cawan menstruasi terkait lingkungan hidup, sosial, ekonomi, dan gender ini masih harus menjadi pekerjaan rumah kita bersama.

Adinda Nurrizki adalah seorang ibu yang sedang rindu menulis artikel panjang karena sudah hampir setahun hanya menulis judul iklan.