May 06, 2020
Menikah Tapi Tetap Bebas, Bagaimana Caranya?

Menikah membatasi kebebasan perempuan. Pilihannya mungkin “poligami ala feminis” atau suami “paruh waktu”.

by Julia Suryakusuma
Lifestyle
Relasi_Setara_Healthy_Relationship_Kesetaraan_Gender_KarinaTungari
Share:

Baru-baru ini ada teman pria yang sudah  lama tidak ada kontak menyapa saya di Facebook. “Masih tinggal di Melbourne?” ia bertanya.

Saking bosan dan jengkel dengan seringnya mendapat pertanyaan seperti itu, saya membuat poster di media sosial itu, yang bertuliskan, “Teman-teman, saya berpisah dari mantan sejak 2012 dan resmi bercerai 2016. Ketika menikah pun saya tidak pernah tinggal di Melbourne.”

Tahun 2005, saya memang menikah dengan pria Australia yang berdomisili di Melbourne. Dari awal  kami sepakat untuk tetap tinggal di kota dan negara kami masing-masing karena sebelum menikah dengan saya pun, ia hampir setiap bulan datang ke Jakarta untuk pekerjaannya. Namun akhirnya perkawinan kami kandas, dan kami resmi bercerai pada tahun 2016. 

Ada banyak asumsi yang terkait dengan perkawinan. Misalnya, bahwa istri harus menggunakan nama suami. 

Ketika menikah tahun 1974 dengan suami pertama, Ami Priyono, saya tetap menggunakan nama saya sendiri. Saya sudah dikenal sebagai penulis sejak sebelum menikah, kalau tiba-tiba muncul nama “Julia Priyono”, orang akan bertanya, siapa tuh? Ami sendiri tidak berkeberatan, tapi keluarganya sebenarnya kurang menyukai keputusan saya.

Baca juga: Menikah: Menghidupkan atau Mematikan Diri Perempuan?

Yang kedua, asumsi bahwa istri harus ikut suami. Itu yang menjadi dasar seringnya saya ditanyai apakah saya masih tinggal di Melbourne. Ketika itu saya berusia 51, punya rumah sendiri, mandiri, bisa dikatakan relatif mapan, dan berbasis kerja di Jakarta. Buat apa pindah ke Australia?

Ami meninggal Juni 2001. Pada tahun 2004, setelah menjanda tiga tahun, saya menulis kolom berjudul “Poligami ala Feminis”. 

Intinya, saya mengatakan bahwa saya menyukai lelaki yang lebih muda, paling tidak 10 tahun lebih muda daripada saya yang ketika itu berusia 50. Namun, biasanya lelaki berumur sekitar 40 sudah menikah. Jadi terpikir oleh saya, kenapa tidak berpoligami saja? Soalnya, saya juga malas punya suami full-time, jadi bukankah berbagi suami menjadi solusi yang ideal? 

Sebenarnya saya menulis kolom tersebut setengah serius, katakanlah satir, karena capek meladeni pertanyaan, “Kapan nikah lagi?”. 

Itu asumsi satu lagi: Bahwa perempuan selalu perlu pendamping. Memang punya pacar bisa menyenangkan, tapi suami? Capek, deh!  Laki-laki itu cenderung perlu diurus. Kalau laki-laki menduda, pertanyaan yang muncul, “Siapa yang ngurus?” Memangnya laki-laki itu anak kecil yang selalu perlu diurus dan istri sebenarnya asisten rumah tangga yang  punya kedudukan resmi dan lebih “terhormat” saja?

Baru-baru ini saya bertemu “Tita”, seorang kawan lama. Ketika saya pertama kenal dengannya 25 tahun yang lalu, ia janda cerai berusia 33 tahun. Kisahnya inspiratif. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ia mulai membangun pola relasi yang berbeda dengan seorang duda. 

Baca juga: Ibu Tunggal dan Pencarian Cinta Kedua

“Setelah gagal sekali, saya tidak terlalu yakin dengan bentuk perkawinan konvensional,” tuturnya. “Saya soalnya ogah jadi ’istri’—maunya jadi teman aja”. 

Kalau di Barat sih enggak repot, pacaran saja. Tapi karena baik Tita dan sang duda itu mengimani Islam, dan percaya tidak boleh berzina, maka mereka menikah secara Islam.

“Kami membuat komitmen untuk berbagi ruang dan waktu sedikit saja untuk bersama, saling mendukung, menguatkan, dan memberi jika diperlukan,” ujarnya.

Mereka tidak ada kewajiban satu sama lainnya, juga tidak ada harapan yang disandarkan satu sama lainnya. 

“Kami sama-sama sibuk,  punya kehidupan masing-masing. Dia di rumahnya, saya di rumah saya. Berkomunikasi pun secara virtual.  Kami punya beberapa tempat untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang kami travel ke luar kota atau ke luar negeri. Mengalir saja,” kata Tita.

Relasi ini sudah berjalan selama lebih dari sepuluh tahun. Yang menarik, mereka mengevaluasi hubungan mereka setiap lima tahun. “Sejauh ini berjalan baik, dan kami juga semakin menua dan matang sehingga sudah lebih stabil.”

Wow, oke juga tuh! Mungkin lebih do-able daripada “poligami ala feminis” dan lebih realistis daripada pernikahan yang "till death do us part". Apakah pola relasi yang dianut Tita ini hanya untuk pasangan “lansia”?

Entahlah. Mungkin yang muda tertarik juga untuk mencobanya?

Ilustrasi oleh Karina Tungari

Julia Suryakusuma adalah penulis buku State Ibuism/Ibuisme Negara (Komunitas Bambu, 2011).