February 05, 2020
Ibu Tunggal dan Pencarian Cinta Kedua

Ibu tunggal kesulitan mencari pasangan baru karena trauma, stigma, dan beban berlipat ganda.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Singlemom_Single Mother_KarinaTungari
Share:

Telah melajang kembali selama enam tahun sejak berpisah dengan suaminya, Ratih Siti Aminah mengakui dia masih mengharapkan adanya sosok cinta baru untuk menjadi penyemangat dalam menjalani hari.

Seperti banyak ibu tunggal lainnya, Ratih memikul beban finansial dan emosional ganda karena merangkap peran sebagai ibu dan ayah, sekaligus menghidupi anak dan keluarganya seorang diri.

“Ibu tunggal ‘kan manusia normal, makhluk sosial. Dia perlu seseorang yang bisa berfungsi sebagai sahabat, teman diskusi, dan kelanjutannya bisa jadi kekasih dan pendamping hidup,” ujar ibu dua anak berusia 47 tahun itu.

Tidak semua hal bisa dibicarakan dengan anak, orang tua, atau teman perempuan, tambahnya. Ada saat-saat Ratih membutuhkan masukan dari sudut pandang lain, yang bisa diakomodasi oleh sosok partner atau kekasih.

“Bukan berarti bahagia itu berasal dari orang lain, karena bahagia itu asalnya dari diri sendiri. Tapi dengan sosok itu (pasangan), saya jadi bisa menciptakan kebahagiaan baru. Itu kalau orangnya normal, ya. Dalam artian dia laki-laki yang bisa menghargai saya sebagai perempuan,” kata Ratih kepada Magdalene (31/1).

Sayangnya, menjalin cinta kedua tidaklah mudah bagi ibu tunggal. Selain isu personal dan trauma, ada stigma negatif terhadap janda yang membuat ruang gerak ibu tunggal terbatas.  

I Nyoman Darma Putra dari Universitas Udayana dan Helen Creese dari University of Queensland, Australia, pernah melakukan penelitian mengenai janda di Bali. Dalam artikel berjudul “Negotiating Cultural Constraints: Strategic Decision-making by Widows and divorcees in Contemporary Bali” yang dimuat jurnal Indonesia and the Malay World pada 2016, mereka menulis betapa identitas sebagai ibu yang baik memiliki jarak dengan perempuan yang berstatus sebagai janda. Status sebagai janda dan ibu tunggal tergolong buruk di mata masyarakat. Untuk menebus "dosa" tersebut, para janda memiliki beban untuk mengabdi secara penuh pada agama dan keluarga, alih-alih mencari cinta kedua.

Stigma negatif lain, seperti genit dan gagal menjaga keutuhan rumah tangga, juga menjadi hambatan untuk menjalin hubungan baru. Serangkaian penilaian buruk yang kerap melekat pada janda, terutama yang bercerai, ini membuat bahkan banyak perempuan memaksakan diri bertahan dalam pernikahan yang buruk.

Ratih menilai keberadaan stigma-stigma miring itu sebagai warisan dari budaya patriarki di Indonesia. Sering kali ia mendengar pernyataan-pernyataan yang membebankan “keutuhan pernikahan” pada perempuan semata.

Baca juga: Bibit-bibit Kekerasan dalam Olok-olok Status Janda

“Masih banyak masyarakat yang berpikir kalau perceraian itu terjadi karena salah perempuan. Padahal mereka enggak tahu apa-apa tentang kehidupan pernikahan perempuan itu yang sebenarnya. Intinya adalah, lo pisah, itu berarti lo sebagai perempuan enggak bisa ngejaga rumah tangga lo dan enggak bisa ngurus suami dan anak-anak lo,” kata Ratih.

“Belum lagi ada tipe laki-laki yang takut menikah sama ibu tunggal, karena itu berarti dia bukan hanya menikahi perempuannya, tapi juga harus bisa menerima anak-anaknya. Ada juga yang takut sama perempuan ibu tunggal karena secara ekonomi dan pendidikan mereka lebih mapan,” tambahnya

Senada dengan Ratih, Fitri (yang meminta tidak disebutkan nama belakangnya), mengatakan stigma-stigma buruk mengenai janda dan ibu tunggal mengganggu kenyamanan dan kebebasannya untuk menjalin hubungan.

“Misalnya, kalau single mother berkencan dengan pria yang masih single atau belum pernah menikah itu omongannya pasti miring. Dibilang janda kecentilan lah, atau mau morotin. Tapi itu enggak berlaku buat para duda, entah bercerai atau ditinggal meninggal, yang menikahi perempuan single,” ujar ibu satu anak itu, yang bercerai dengan suaminya enam tahun lalu.

“Bahkan saya banyak melihat perempuan (janda) yang gagal menjalin hubungan karena keluarga menentang.”

Jeda dan tanggung jawab

Meski mengakui pentingnya kehadiran sosok pasangan baru, Vanessa Reksodipoetro, yang telah menjadi ibu tunggal selama 12 tahun, menekankan pentingnya memberi jeda setelah perceraian sebelum akhirnya menjalin hubungan baru.

“Di awal perceraian, seorang ibu perlu memberi perhatian lebih ke anaknya. Apalagi karena anak kita pasti melewati masa yang sulit secara emosional. Ada baiknya ibu tunggal memberi waktu sekitar satu tahun sebelum mulai menjalin hubungan baru,” ujarnya.

Vanessa mengatakan pernah menjalin hubungan baru di awal-awal waktunya menjadi ibu tunggal. Tapi hal itu tidak  berjalan lama karena ia kembali memberi perhatian penuh untuk anaknya.

“Setelah itu yang jadi pikiran utama saya adalah bekerja untuk membiayai kebutuhan bulanan. Berhubung saya memiliki pekerjaan yang sangat saya sukai, maka jarang ada waktu lagi untuk bertemu dengan orang baru. Selain itu mungkin saya belum ketemu aja sama orang yang cocok,” tambahnya.

Tanggung jawab membesarkan anak seorang diri inilah yang membuat banyak ibu tunggal kesulitan mencari pasangan baru.

Baca juga: Memang Kenapa Kalau Janda?

Fitri mengatakan banyak laki-laki yang tidak turut berpartisipasi dalam memenuhi kesejahteraan anak setelah perceraian terjadi, meski hukum Indonesia sudah mengatur kewajiban itu. Hal itu membuat kebanyakan ibu tunggal di Indonesia benar-benar sendirian dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya, baik dari segi finansial maupun emosional, ujarnya. Akibatnya, tak banyak waktu yang dimiliki ibu tunggal untuk menikmati hidupnya sendiri.

“Mau enggak mau banyak single mom harus berkutat sama masalah pekerjaan. Dari mana dia punya waktu? Jangankan dating, bahkan sekadar untuk punya me time pun sulit,” kata Fitri.

Masalah yang dihadapi Fitri rasakan juga dirasakan Vanessa.

“Kembali bersosialisasi dan bertemu orang baru yang bisa membuat kita bahagia itu memang penting, tanpa mengesampingkan kebutuhan kasih sayang anak kita. Tapi jujur, enggak semudah itu mencari orang baru, apalagi kalau kita ibu tunggal yang bekerja full time,” ujarnya.

Aplikasi kencan

Keberadaan aplikasi kencan alias dating app disebut-sebut cocok bagi mereka yang sangat sibuk sehingga tidak sempat bersosialisasi, seperti para ibu tunggal. Namun baik Vanessa maupun Ratih dan Fitri menilai aplikasi semacam ini bukan tempat ideal untuk mencari pasangan. Apalagi pengalaman pernikahan sebelumnya membuat ibu tunggal seperti mereka ekstra selektif dalam memilih pasangan baru.

“Single mother memegang tanggung jawab besar dalam menentukan the well-being of her kids. Jadi ketika mereka mencari pasangan pun berpikirnya lebih panjang. Bukan sekadar kecocokan dengan saya, tapi cocok enggak mereka sama anak saya,” kata Fitri.

Ia sempat menjajal sejumlah aplikasi kencan, namun tidak menemukan yang ia cari.

“Pernah pakai (aplikasi kencan) tapi enggak membantu karena banyak scammers. Sekalinya mencoba, malah ketemu gigolo. Cowok-cowok di dating apps juga kebanyakan cuma nyari one night stand,” kata Fitri.

Vanessa mengatakan aplikasi kencan mungkin berguna bagi orang lain, yang beranggapan itu salah satu cara terbaik untuk berkenalan dengan sebanyak mungkin pria untuk mencari siapa yang paling cocok. Tapi tidak dengan dirinya.

“Saya enggak merasa nyaman pakai dating apps. I don’t like the idea of choosing someone based on their pictures and a few words to describe themselves,” ujarnya.

Ratih juga berpendapat sama. “Aplikasi kencan bisa jadi solusi. Tapi harus hati-hati karena banyak penipu di situ, meski ada juga yang bertemu pasangan yang baik di situ,” katanya.

Hambatan-hambatan ini tidak lantas membuat para ibu tunggal ini menutup diri dan merasa tertekan. Ratih mengatakan para ibu tunggal tidak seharusnya mengesampingkan kebahagiaan diri sendiri.

“Jangan menyalahkan diri sendiri. Menjadi ibu tunggal enggak berarti dunia runtuh. Malah bisa jadi dengan begitu kita lebih bahagia, dengan catatan kita harus berani menghadapi segala hal-hal baru yang muncul kemudian,” katanya.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Suka berdebat, bertanya, dan belok ke kiri. Juga suka kamu. Kenapa konsep tentang normalitas harus ada, padahal tidak ada satu pun nilai yang absolut di dunia ini? Kalau tahu jawabannya, jangan sungkan kabari Selma di Instagram @selma.kirana