April 17, 2020
Menulis ‘Diary’ Masih Zaman? Ini Manfaatnya

Diary adalah medium kebebasan berekspresi yang tak terbatas, jauh dari nyinyiran netizen.

by Nursyifa Afati Muftizasari
Lifestyle
Share:

Di zaman internet dan media sosial ini, masih ada enggak sih manusia yang menulis catatan harian di buku? Masih zaman enggak sih jadi penulis diary setiap malam menjelang tidur?

Dulu, waktu saya SD, ada guru yang bilang kalau sebaiknya saya dan teman-teman punya buku harian, lalu rajin menulis di sana setiap hari. Katanya, itu hal bagus untuk mengenang setiap kejadian yang kita lalui.

Saya yang saat itu mudah terprovokasi pun membeli satu buku tulis dan berniat menjadikannya sebagai diary. Dengan tulisan yang bulat khas kanak-kanak, saya menulis nyaris tiap hari. Kadang, sehari hanya beberapa baris, tapi sebisa mungkin saya tulis tiap hari. Rasanya seru saja.

Belum sampai tiga bulan, saya mulai malas. Mulailah intensitas menulis saya berkurang, mungkin kisaran seminggu sekali. Tapi baguslah, masih tetap ada niat menulis. Setelah setahun, saya mulai meninggalkan diary. Sudah bosan, sudah malas.

Saat duduk di SMP, saya merasa punya banyak hal yang ingin saya tulis di diary. Saya jadi ingat bahwa dulu pernah punya diary. Tapi setelah saya cari, dia menghilang entah kemana. Alhasil, niat menulis jadi hilang. Malas memulai dengan buku baru. Ah, dasar pemalas.

Waktu SMA, saya ikut organisasi pencinta alam. Nyaris setahun jadi anggota, saya merasa telah melalui banyak hal yang seharusnya saya abadikan dalam tulisan. Keinginan saya menulis diary kembali muncul. Katanya, masa SMA adalah masa paling bahagia. Masa SMA saya harus terabadikan! Saya di masa depan harus tahu semua itu!

Baca juga: Tetaplah Bernyanyi Walau Suaramu Disebut Tak Merdu

Sangat kebetulan, tak lama setelah itu, ada teman saya yang memberi hadiah ulang tahun berupa buku diary. Saya kembali menjadi penulis buku harian, setelah bertahun-tahun vakum. Berbagai hal saya tulis di sana, entah itu pengalaman atau sebatas curahan hati. Kadang, saya juga menulis tentang apa saja yang saat itu sedang ramai dibicarakan orang.

Meski tak rutin setiap hari, tapi saya masih menulis hingga saat ini, sudah empat tahun kemudian. Bulan lalu, saya iseng membaca belasan buku yang saya gunakan sebagai diary. Seketika saya bersyukur telah menjadi penulis diary. Sungguh banyak kejadian menarik yang saya tulis di masa lalu. Jika tak ditulis, mungkin sebagian telah saya lupakan.

Setelah saya renungi, setidaknya saya punya beberapa alasan mengapa saya tetap menulis diary hingga hari ini:

  1. Diary adalah saksi hidup saya. Berbagai hal terjadi setiap hari, dan tak bisa diulang. Ingatan manusia pun tak sanggup untuk mengingat semuanya. Menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan setiap momentum.
  2. Diary adalah teman yang sangat setia. Masalah apa pun yang saya hadapi, bisa saya tulis di sana. Setelah menulis dan mungkin mencaci-maki berbagai hal, saya merasa sedikit lebih tenang. Sebagian orang sangat butuh pelampiasan emosi, dan diary bisa menjadi salah satu medium untuk itu. Menulis, bagi saya, adalah salah satu pelampiasan positif.
  3. Ketika saya sedang down, saya senang membaca lagi pengalaman yang menyenangkan, hingga saya percaya bahwa hidup tak selamanya buruk. Saya harus secepatnya bangkit, karena sebenarnya sudah banyak hal baik yang telah saya capai dalam hidup ini. Sebaliknya, ketika saya mencapai sesuatu dan sedang berlebihan dalam membanggakan diri, ada baiknya saya membaca diary. Merenungi bahwa saya masih punya banyak kekurangan, tidak sepantasnya sombong. Bangga boleh, tapi jangan berlebihan.

Baca juga: ‘Quarter Life Crisis’: Kita Semua Bingung, Lalu Bagaimana?

  1. Diary adalah media evaluasi dan motivasi. Saya sering menulis di malam hari, setelah melalui berbagai hal dalam sehari. Malam hari adalah saat yang indah untuk merenungi berbagai hal. Ketika ada hal yang perlu dievaluasi, saya tulis di sana. Setelahnya, saya tambahkan berbagai motivasi supaya hari esok bisa menjadi jauh lebih baik. Kata-kata penyemangat sering saya tulis, lalu diberi hiasan supaya menonjol. Bagi saya, motivasi terbaik berasal dari diri sendiri.
  2. Terakhir, mungkin ini konyol, tapi diary bisa jadi warisan untuk anak-cucu saya nantinya. Jika kebetulan saya jadi orang besar suatu hari nanti, mungkin anak-cucu saya ada yang penasaran bagaimana kisah saya di masa lalu. Jika memang demikian, mereka bisa membuka diary Atau, kalau mau berpikir lebih konyol lagi, mungkin saja suatu saat ada sekelompok orang yang penasaran dengan catatan hidup saya. Ya, siapa tahu?

Di kalangan teman-teman, saya baru menemukan beberapa orang yang memiliki kebiasaan yang sama. Sulit menemukan sosok penulis diary di era ini. Sekarang, media sosial sudah marak. Kalau saya perhatikan, banyak yang memanfaatkan Facebook, Twitter, atau instagram untuk tempat mencurahkan perasaan. Atau bahkan merekam jejak melalui video dan memublikasikannya via YouTube. Mungkin itu sebabnya, buku harian kehilangan daya tariknya.

Saya juga memanfaatkan media sosial untuk mencurahkan perasaan. Tapi bagi saya, media sosial dan diary adalah dua hal dengan fungsi yang sangat berbeda. Diary jauh lebih privat. Diary juga jauh dari nyinyiran netizen. Diary bagi saya adalah kebebasan berekspresi yang tak terbatas, tak perlu berpikir panjang untuk menulis apa pun yang saya mau.

Menulis diary sampai sekarang sebenarnya masih zaman kok. Saya yakin masih banyak orang di dunia ini yang menganggap diary sebagai hal penting. Teruntuk kalian yang punya niat menulis diary, tapi takut mendapat nyinyiran dari teman atau keluarga, sudahlah... tulis saja! Enggak ada ruginya kok, menulis diary.

Nursyifa lahir di Karanganyar pada 1999. Dia merupakan lulusan SMA Negeri 1 Karanganyar, Jawa Tengah. Sedang menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran, Sumedang. Ikuti Nursyifa di Instagram @afa_mufti.