Women Lead
October 05, 2021

‘Midnight Mass’, Ketika Keajaiban Agama Jadi Mimpi Buruk

Serial ‘Midnight Mass’ menceritakan horornya memahami ajaran agama secara literal dan fanatisme yang berujung kematian.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Screen Raves
Midnight Mass Netflix
Share:

Mike Flanagan, sutradara dan pencipta serial horor hits The Haunting of Hill House (2018), sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai sineas horor terbaik. Midnight Mass, serial garapan terbarunya, berhasil membuat takut dengan caranya memaknai nilai-nilai agama secara keliru. Alih-alih menyoal sekte sesat, Midnight Mass justru menyorot bagaimana satu komunitas mengaminkan ayat-ayat Alkitab dengan cara literal. Karenanya, umat beragama justru melangkah lebih jauh, bukan semakin dekat dengan Tuhan.

Serial Flanagan kali ini cukup berbeda dengan Hill House dan The Haunting of Bly Manor (2020) yang kisahnya berpusat pada rumah megah keramat dan keluarga.. Midnight Mass berlatar di sebuah pulau nelayan kecil, Crockett Island, yang penduduknya hanya 127 orang dan ketaatan mereka pada Tuhan. 

Kisah dimulai ketika Riley (Zach Gilford) pulang kembali ke kota asalnya setelah dipenjara karena menabrak seseorang hingga meninggal. Riley yang sekarang tidak percaya Tuhan harus kembali bersentuhan dengan nilai keagamaan karena tinggal bersama orang tuanya yang taat beragama. Di saat bersamaan, pulau kecilnya mulai dihantui oleh sesuatu yang mengerikan setelah Pendeta Paul (Hamish Linklater) datang menggantikan Monsinyur Pruitt, satu-satunya pendeta di Crockett Island. 

Melihat aspek horornya, karakter Riley yang sering dihantui bayang-bayang perempuan yang dibunuhnya menjadi semacam kekhasan Flanagan berkisah. Tidak hanya penyampaian narasi puitis tentang hidup dan mati, karakter utamanya juga harus memiliki beban emosional yang digambarkan dalam sosok hantu. 

Baca juga: Film Horor Feminis ‘Rong’ Ingin Hantu Perempuan Menang

Di Hill House, kelima kakak beradik Crain dihantui oleh sosok adik bungsu mereka, Nell (Victoria Pedretti) yang bunuh diri di rumah masa kecil keluarganya, Hill House. Sedangkan dalam Bly Manor, pemeran utamanya Dani (juga diperankan Pedretti) dibayangi oleh hantu mantan pacarnya yang jadi alat untuk jumpscare. Namun, sejatinya hantu-hantu sebenarnya itu menjadi  semacam simbol memaafkan diri dan mencari pengampunan. 

Putra Altar Jadi Ateis 

Jika kembali menelisik sosok Riley, dia adalah cerminan dari penciptanya. Flanagan dalam artikel yang ditulisnya untuk media Bloody Disgusting mengaku, dia adalah Riley yang ‘banting setir’ dari penganut agama Katolik taat menjadi ateis. Riley yang mencoba menghentikan kecanduan alkoholnya, juga seperti Flanagan, mencari sosok Tuhan di setiap agama, seperti Hindu, Budha, dan Islam. 

Meski begitu, Midnight Mass tidak mengajak penontonnya untuk beramai-ramai meninggalkan agama, tapi menyorot cara mengemban ajarannya agar tidak melukai sesama manusia. Serial ini menyampaikan pesan itu tidak dengan cara menggurui yang memuakkan, tapi mempertontonkan horornya aksi manusia yang memandang rendah orang lain hanya karena tidak setaat dirinya. 

Misalnya, Bev Keane (Samantha Sloyan) yang merasa paling suci karena rajin ke gereja, tapi melakukan korupsi, Islamofobik, dan tega membunuh. Dalam skala yang ekstrem, Bev Keane mencerna ayat Alkitab dengan ala kadarnya, eat the body and drink the blood of Christ, mengantar pada aksi kanibalisme dan berujung akhir tragis untuk komunitasnya. 

Baca juga: Seminggu Nonton Film Horor Asia: Makin Yakin Hantu Barat Enggak Mutu

Berkaca dari itu, Hill House, Bly Manor, dan Midnight Mass konsisten menunjukkan walaupun hantu yang ditampilkan memang mengerikan, aksi manusia jauh lebih seram. Apalagi dalam dua episode terakhir Midnight Mass penuh aksi pembunuhan massal berdarah yang membuat berdebar.

Aspek itu juga membuat serial garapan Netflix ini tidak tampak murahan. Bisa dibilang, ketiga karya Flanagan itu adalah impian ideal dari serial horor American Horror Story (AHS) karya Ryan Murphy. AHS memang membawa keragaman narasi horor, seperti kiamat, rumah berhantu, bahkan penyihir dalam setiap musimnya. Namun, cara menampilkan narasinya tampak komikal sampai tidak seram sama sekali karena horornya hanya untuk sekadar menakuti tanpa menggali aspek lain dalam cerita. 

Sedangkan Midnight Mass bersama saudara-saudaranya, menyentuh sisi emosional dari karakternya, sehingga berhasil membuat penonton takut sekaligus merasa sedih di setiap episode terakhir. Ini menjadi semacam poin yang membuat serial garapan Flanagan selalu lebih unggul. 

Foto: Netflix

Mukjizat Palsu dan Mimpi Buruk Fanatisme Agama

Midnight Mass tidak takut menampilkan fanatisme agama yang ekstrem. Satu episode-nya mencerminkan peristiwa nyata tentang sektenya Jim Jones, pemimpin gereja Peoples Temple pada tahun 1955-1978.  Jones adalah tokoh agama terkenal yang  menggaet umat di seluruh penjuru AS dengan pesan keadilan, kesetaraan di tengah isu rasisme.

Namun, yang membuat semakin banyak mengikutinya karena Jones menunjukkan sebuah keajaiban. Dalam sesi ceramahnya Jones meminta seorang perempuan yang duduk di kursi roda untuk berjalan. Mulanya perempuan itu tampak ragu, tapi akhirnya berhasil jalan hingga berlari.

Baca juga: ‘Pengabdi Setan’ Simbol Kekerasan terhadap Perempuan

Hal yang sama ditampilkan ketika Leeza seorang remaja  lumpuh yang mendadak ‘sembuh’ ketika Pendeta Paul memintanya untuk berjalan. Sama seperti Jones, keajaiban yang ditampilkannya berhasil menggaet lebih banyak umat gereja karena menunjukkan mukjizat di tengah komunitas yang dirundung kemalangan. 

Midnight Mass juga mengadopsi horornya Jones yang meminta umatnya meminum kool-aid, semacam minuman rasa buah-buahan yang sudah diracun, agar mereka bisa bertemu di alam baka nanti sebagai sosok lebih suci dan merdeka. 

Jones membunuh 909 umatnya itu di Jonestown, semacam kota kecil yang dibangun khusus untuk jemaat Peoples Temple, di Guyana. Alasannya, ia tidak ingin pemerintah tahu ia memanipulasi umatnya secara mental dan finansial. Belum lagi kekerasan fisik pada mereka yang melanggar. 

Pendeta Paul dan Bev Keane juga meminta seluruh jemaat Crockett Island untuk meminum racun agar mereka bisa bangkit kembali untuk menjadi abadi. Sebuah janji yang bermuara dari kehadiran sosok vampir yang disebut malaikat utusan Tuhan untuk membebaskan Crockett Island dari kenelangsaan. 

Namun, tentu saja vampir itu hadir untuk membawa kematian dan kekacauan. Karenanya, seketika Crockett Island menjadi mencekam seperti film horor 30 Days of Night yang juga tentang teror vampir..

Midnight Mass memang bukan tentang sekte dan penokohan vampir jahat satu dimensi. Tapi fanatisme dan fundamentalisme agama yang menjauhkan diri dari Tuhan. Secara lebih luas serial ini juga bercerita tentang rasa bersalah, menerima kematian, dan kasih sayang untuk semua orang bahkan yang berbeda agama. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.