September 08, 2020
Mispersepsi tentang Anak Kembar dan Segala Tantangannya

Tidak semua anak kembar seseru Weasley Brothers atau sekeren dan sesukses The Olsen Twins, meskipun tidak seseram dalam film The Shining.

by Siti Parhani, Reporter
Lifestyle
Share:

Gimana rasanya punya kembaran? Kayaknya seru, ya.”

Pertanyaan semacam itu sering kali hinggap saat orang tahu saya punya saudara kembar. Sebagian orang menganggap anak kembar itu laksana misteri yang membuat mereka berimajinasi punya “partner in crime”. Mungkin mereka membayangkan punya saudara kembar itu seseru kakak beradik Weasley di serial Harry Potter. Atau jika beruntung bisa sesukses aktris/desainer kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen, yang dinobatkan sebagai anak kembar terkaya di dunia.

Tapi bayangan punya kembaran semenyenangkan itu menurut saya sedikit utopis.

Kegemasan memakai baju yang sama dan selalu punya teman bermain di mana saja ternyata hanya bertahan mungkin sampai kami memasuki sekolah dasar. Beranjak remaja, kami sudah tidak mau lagi memakai baju seragam, dan kebanyakan waktu dihabiskan dengan bertengkar (tak jarang sampai main fisik). Kami juga sudah cukup muak terus-menerus dibandingkan, baik secara fisik maupun karakter, sehingga kami berontak dan menegaskan bahwa kami punya ciri khas masing-masing.

Memiliki kembaran itu berarti harus siap dengan konsekuensi untuk memahami emosi orang lain, bahkan sejak masih kecil. Dan itu bukan perkara mudah bagi orang yang tertutup seperti saya. Harus diakui kami bukan yang terbaik dalam hal itu, terlebih karena kami dibesarkan di tengah keluarga yang cukup sulit mengekspresikan kasih sayang, atau emosi lain, terhadap satu sama lain. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa memori masa kecil kami lebih banyak dipenuhi pertengkaran ketimbang akurnya.

Di sisi lain, harus saya akui jika memiliki kembaran itu sangat membantu saya dalam melewati fase sulit dalam hidup. Kami berdua selalu saling mendukung mimpi-mimpi kami, entah itu tentang karier, pendidikan, maupun pasangan. Ketika figur orang tua absen dalam mendukung mimpi saya, biasanya dia selalu membantu menguatkan. Tidak terhitung “penderitaan” yang kami tanggung berdua ketika keluarga mengecilkan atau kurang memahami mimpi yang ingin saya capai. Meski usia kami terpaut beberapa menit saja, tapi kadang ia bisa menjelma jadi sosok ibu yang mengayomi, walaupun bisa juga jadi orang paling egois sedunia.

Baca juga: Tak Ada yang Aneh dari Perempuan Mendukung Perempuan Lain

Konsekuensi terus-menerus dibandingkan

Romantika hubungan kami cukup dinamis, dengan perubahan paling signifikan adalah saat memasuki bangku SMA. Kami mulai menyadari jika bakat dan kesenangan kami sangat berlawanan satu sama lain. Hana lebih tertarik dengan dunia sains, sedangkan saya sangat tidak suka pelajaran eksakta dan hitung-hitungan. Saat itu dunia kami mulai terpecah; saya sibuk membaca novel-novel dan buku ilmu sosial, dia mengikuti kegiatan ilmiah remaja.

Dari sana kami belajar tentang perbedaan, dan jalan kami yang kemungkinan akan bercabang dua. Keinginan kami untuk tak lagi mengenyam pendidikan di tempat yang sama semakin besar, hingga akhirnya saat lulus SMA, kami sepakat untuk tidak mendaftar di kampus yang sama. Kami pun mantap untuk hidup jauh dari keluarga.

Saya kemudian mengambil jurusan sejarah, sedangkan Hana berkuliah di fakultas teknik. Orang tua kami terkejut ketika kami berpisah universitas. Kami memberi pengertian bahwa minat kami jelas berbeda. Ini hal yang kadang luput dari imajinasi orang-orang tentang anak kembar.

Terus menerus diperbandingkan membuat saya kurang percaya diri saat kuliah dan kemudian bekerja. Hana dianggap lebih hebat karena bergelut dalam bidang teknik yang “lebih menjanjikan”. Saya kesulitan untuk menjelaskan pada keluarga tentang dunia yang saya geluti. Prestasi dan pekerjaan yang kami  jalani selalu dibandingkan, padahal kami jelas punya kehidupan masing-masing. Tapi orang-orang selalu melihat itu dari ukuran satu lensa yang tidak adil bagi saya maupun Hana.

Baca juga: Pelajaran Soal Relasi Remaja Putri dan Orang Tua dari Kasus ‘F’

Hubungan semakin kompleks

Beberapa tahun hidup terpisah membuat saya sejenak punya waktu dengan dan untuk menjadi diri sendiri, dan saya menikmatinya. Meski awalnya sempat kehilangan, keputusan untuk berpisah itu bisa membuat kami bisa mengambil jeda untuk refleksi diri. Namun jalan yang ditempuh dan lingkungan pergaulan yang cukup berbeda membuat saya sedikit terasingkan. Dunia kami yang berlawanan itu ternyata perlahan menarik jarak yang semakin jauh antara kami berdua.

Hana tipikal anak teknik yang lurus, logis, dan pragmatis, sementara saya selalu berkutat dengan pemikiran saya sendiri yang kompleks dan abstrak. Saya mengalami proses panjang untuk memetakan diri dan menggambarkan relasi dengan lingkungan sekitar. Hal itu yang kadang belum siap ia terima begitu saja.

Beberapa waktu lalu, saya mengambil keputusan besar dengan menanggalkan hijab saya. Orang pertama yang saya beritahu tentu adalah Hana. Awalnya saya takut dihakimi olehnya, tapi kemudian saya jelaskan bahwa sekarang ini saya punya perspektif lain dalam melihat spiritualitas, dan saya merasa saya telah bertransformasi menjadi versi saya yang terbaik. Ternyata dia bisa menerima hal itu, meski saya tahu berat baginya menerima saya yang sekarang, yang banyak berlawanan dengan aturan keluarga. Saya menghargai upaya dia yang mau mencoba menerima saya apa adanya.

Namun ada kalanya saya merasa energi saling mendukung waktu kami kecil semakin tergerus setelah dewasa. Saat saya berkonflik dengan keluarga besar karena soal pasangan, Hana biasanya ditugaskan sebagai “pengingat” agar saya kembali ke “jalan yang benar”.

Semakin dewasa, konflik antar saudara kembar itu menjadi lebih kompleks dan rumit. Kami perlahan berubah menjadi dua orang yang ada secara fisik namun hati tidak lagi terkoneksi seperti dulu. Tentu saya sedih dengan kenyataan itu. Tapi bagaimana pun dia tetap bagian dari hidup saya yang tak akan pernah bisa lepas begitu saja.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.