Women Lead
June 10, 2021

Saya Feminis, Saya Menentang Narasi 'Semua Perempuan Cantik'

Narasi "semua orang itu cantik" meskipun mungkin bermaksud baik, bisa berdampak negatif.

by Ellyaty Priyanka
Lifestyle // Health and Beauty
Feminis, body positivity
Share:

Sebagai feminis, kita pasti pernah menghadapi dilema ketika bicara soal kecantikan. Feminisme idealnya ingin memperjuangkan inklusivitas dan pilihan, merangkul semua jenis perempuan tanpa melihat identitas dan penampilan. Sebagai ikhtiar mempromosikan standar kecantikan yang lebih beragam inilah, kampanye “semua orang itu cantik” jadi mengemuka. Bagi saya ini problematik.

Sampai batas tertentu, saya paham tujuan narasi yang bermaksud memberitahukan perempuan untuk menghargai diri mereka sendiri dan bodo amat dengan standar kecantikan arus utama, terlepas dari bentuk dan penampilan tubuhnya. Hanya saja belakangan, narasi ini direduksi menjadi sebatas respons terhadap relativisme dan perisai terhadap keangkuhan. Kita ingin mengatakan, setiap orang dapat memiliki selera beragam, tapi sebenarnya mereka ingin bilang, tidak ada yang benar-benar lebih cantik atau jelek dibanding yang lain. Ini aneh. Meskipun kita bersikeras mengatakan semua perempuan itu cantik, kita tidak pernah menyebut semua orang pintar/baik hati/lucu/jago di tempat tidur. Alasannya, kita sadar tidak semua orang memiliki sifat-sifat itu, dan pemberdayaan dimungkinkan ketika kamu relatif berbeda dengan orang lain.

Pertanyaan berikutnya, mengapa kita mesti meninggalkan kampanye “semua orang cantik”?

Pertama, saya merasa kampanye ini punya tujuan yang membingungkan dan kontradiktif: Jika semua orang cantik, maka tidak ada yang cantik. Sebaliknya, kamu akhirnya menormalisasi kecantikan, karena sifat itu adalah sesuatu yang dimiliki setiap orang. Jika kita semua memilikinya, itu menjadi sesuatu yang umum dan berlebihan.

Baca juga: Stop Nilai Diri dan Perempuan Lain dari Penampilan Fisik

Kedua, narasi ini hanya dapat bekerja pada tingkat individu. Alasannya, setiap orang memiliki preferensi mereka sendiri, baik karena kita secara genetik terhubung seperti itu atau sebagai akibat dari konstruksi sosial. Subjektivitas kolektif ini akan berubah menjadi subjektivitas mayoritas, yang juga dikenal sebagai standar kecantikan masyarakat, dan diekspos di media arus utama. Kontestasi kecantikan, seperti "putih dan kurus itu cantik" atau "kecantikan datang dalam berbagai bentuk dan warna" akan mengarah pada standar kecantikan yang hegemonik. Pada akhirnya harus ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi untuk menarik secara estetika di mata masyarakat.

Ketiga, interpretasi alternatif dari narasi ini mengatakan, keindahan melampaui jangkauan fisik masih bermasalah. Ini bertujuan untuk memberitahumu, meskipun kamu tidak cantik secara fisik, kamu masih memiliki kecantikan batiniah (inner beauty). Hal ini berpotensi memolarisasikan perempuan dengan memperebutkan kecantikan fisik versus inner beauty, seolah-olah perempuan dengan kecantikan lahiriah lebih dangkal.

Kalau sudah begitu, lantas, alternatif apa yang kita miliki?

Kita perlu mengadopsi pendekatan yang lebih realistis: mempromosikan gagasan keunggulan komparatif. Beberapa cantik, beberapa jelek, dan itu baik-baik saja. Beberapa bekerja keras dan merasa diberdayakan dengan mengikuti standar kecantikan. Itu masih baik-baik saja, jika dan hanya jika pilihan itu datang berdasarkan informasi, dengan penilaian yang panjang, dan dibuat oleh seorang perempuan yang mandiri.

Baca juga: Mengapa Menjadi Cantik Penting di Media Sosial

Mengatakan perempuan yang menyerah pada standar kecantikan arus utama sebagai perempuan rapuh, rusak, dijajah, dan dicuci otaknya, sama saja merendahkan dan mendikte mereka. Bagi mereka yang tidak cantik, mereka dapat berkembang menjadi sesuatu yang lain: cerdas, baik hati, pekerja keras, lucu, atau sifat apa pun yang juga dapat membuat mereka menonjol meskipun tidak diinginkan secara fisik. Cantik itu bagus, tapi bukan itu yang terpenting. Kecantikan seharusnya tidak menjadi parameter terpenting dalam menentukan siapa kita sebenarnya.

Baca juga: Pesan Kontes Kecantikan: Dunia Dirancang untuk Perempuan Cantik

Akhirnya, mari cek lagi motivasi kamu: Apakah keputusanmu mengejar kecantikan demi berburu validasi dan membuat tubuh kamu menjadi subjek eksploitasi berlebihan, atau karena kamu adalah makhluk otonom?

Tulisan ini juga sebagai pengingat bagi saya. Setiap kali saya melihat diri di cermin dan menganggap saya tidak cantik, itu tidak meniadakan fakta bahwa saya masih manusia yang layak.

Kita tidak harus selalu cantik, terkadang kita hanya perlu menjadi manusia.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada ini adalah realis sinis yang tertarik dengan keindahan ketiadaan, paradoks, dan indie gelap yang dalam. Mekanisme koping terbaiknya adalah mengisolasi diri atau membuat komedi tragedi hidupnya sendiri. Kamu dapat menemukannya di blognya ellyatypriyanka.wordpress.com dan Twitterland @amoreliaa.