January 29, 2020
Nur Rofiah Dorong Kajian Gender dalam Islam yang Lebih Inklusif

Doktor bidang Tafsir Nur Rofiah mendorong pengajian berperspektif gender yang lebih inklusif.

by Elma Adisya, Reporter
Wo/Men We Love
Share:

Sebagai doktor bidang Tafsir Al-Quran yang menekuni isu keadilan gender dalam Islam, Nur Rofiah sangat sadar bagaimana topik ini sangat penting untuk dipahami masyarakat umum, terutama umat Islam. Sayangnya, ia merasa kajian Keadilan Gender Islam belum dapat dijangkau secara luas. Hal ini mendorong Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta itu untuk meluncurkan Ngaji Keadilan Gender Islam (Ngaji KGI), berbasis online dan offline.

“Sering kali kajian KGI hanya dibahas di kelas-kelas yang eksklusif seperti kuliah, workshop, dan seminar. Yang bisa mengakses hanya orang tertentu saja. Saya pikir akan lebih baik jika akses kajian seperti ini bisa terbuka untuk umum,” ujar Nur pada Magdalene, dalam wawancara baru-baru ini di dekat rumahnya di daerah Pamulang, Tangerang Selatan.

Awalnya ia ragu apakah program tersebut dapat meraih peminat. Ternyata sejak diluncurkan pada pertengahan 2019 lewat pertemuan-pertemuan kecil di Jakarta dan sekitarnya, Ngaji KGI terus menjaring peserta yang benar-benar datang karena antusias. Meski sebagian besar adalah perempuan, mereka datang dari kalangan yang beragam—dari mahasiswa, dosen, peneliti dan praktisi hukum, sampai aktivis, jurnalis, pegawai negeri, serta analis kebijakan negara. Lokasinya pun kini meluas ke berbagai daerah, yakni kota-kota di Jawa sampai Kalimantan. 

Salah satu sesi KGI yang paling berkesan bagi Nur adalah saat ia menggelarnya di kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah. Waktu itu sedang libur Lebaran, namun di luar dugaan, sekitar 30 orang datang dan sangat bersemangat mengikuti kajian.

“Yang membuat saya takjub, itu kan masa-masa Lebaran sehingga jalanan relatif macet. Tapi peserta ada yang datang dari Pekalongan, Tegal, Indramayu, bahkan Cilacap. Berarti kan kajian semacam ini dianggap sangat penting oleh mereka,” ujar Nur.

“Sekarang, saya sudah enggak ragu lagi soal pentingnya forum ini dan insya Allah semakin semangat untuk gelar tikar Ngaji KGI.”

Nur mengakui bahwa media sosial sangat berpengaruh besar pada penyebaran informasi tentang KGI. Selain pertemuan langsung, Ngaji KGI juga diadakan dan dipromosikan secara daring lewat grup WhatsApp Ngaji KGI Online, Instagram, Facebook, podcast dan YouTube.

Ngaji KGI offline belum berjalan secara rutin karena bersifat gratis dan swadaya. Khusus luar kota harus menunggu ada undangan lain di kota tersebut, kemudian Ngaji KGI bisa digelar secara swadaya dan gratis.
"Penyelenggara menyiapkan keperluan acara, peserta menanggung sendiri kebutuhannya, dan kebutuhan narasumber juga sudah di-cover oleh pengundang acara utama. Alhamdulillah, Ngaji KGI sudah 34 angkatan, saya bersyukur sekali,” ujar Nur.

Baca juga: Apakah Feminisme Bisa Selaras dengan Ajaran Islam?

Nur mengatakan bahwa KGI juga merupakan salah satu wujud rasa syukurnya karena mendapatkan kesempatan belajar agama hingga mendapatkan gelar doktor dalam bidang Ilmu Tafsir Al-Quran dari Universitas Ankara, Turki.

“Saya sadar bahwa apa yang saya dapatkan ini merupakan privilese buat saya. Karena jarang sekali perempuan yang mendapatkan kesempatan belajar tentang agama secara formal hingga jenjang tertinggi,” ujarnya.

Dalam setiap Ngaji KGI, Nur secara umum mendiskusikan sejarah pergulatan Islam dengan ketidakadilan sosial, utamanya ketidakadilan gender. Tema yang dapat perhatian khusus adalah isu keluarga, terutama relasi pasangan suami istri yang setara, karena keluarga merupakan ruang lingkup yang vital untuk diedukasi mengenai kesetaraan gender.

“Menurut saya memang keluarga itu menjadi tempat yang cukup rentan. Kadang sebagai warga negara kita sudah setara, tetapi dalam konteks keluarga, bisa menjadi sebaliknya. Sebagai makhluk Tuhan kita setara, ketika masuk ke rumah, kadang seperti jadi pengecualian,” ujarnya.

Mengajarkan isu gender untuk laki-laki

Awal ketertarikan Nur, 49, pada isu Keadilan Gender Islam adalah ketika ia membaca novel Perempuan di Titik Nol (1975) karya penulis dan aktivis perempuan dari Mesir, Nawal El Sadawi. Saat itu ia masih kuliah S1 jurusan Tafsir-Hadis Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Novel yang mengisahkan perjalanan perempuan Mesir yang mengalami rentetan kekerasan dalam masyarakat yang sangat patriarkal itu membuka matanya terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan.

“Rasanya setelah membaca karya Nawal, saya marah sekali. Marah karena perempuan diperlakukan tidak adil, hanya karena menjadi perempuan. Padahal mereka tidak memilih sendiri untuk menjadi perempuan. ” ujar Nur.

Ketidakadilan semacam itu ia temukan juga di tingkat kampus dan organisasi, misalnya saat ia bergabung dengan sebuah organisasi ekstra kampus. Ketika menjabat sebagai ketua korps putri tingkat fakultas, Nur melihat adanya ketidakadilan sistemik pada kader perempuan.

“Contohnya, ketika ada undangan untuk umum, biasanya yang datang perwakilan laki-laki dari organisasi induk, sedangkan kalau undangannya membahas tentang perempuan, yang barulah diwakili korps putri. Ya buat apa ada korps putri jika malah berakibat marginalisasi pada kader perempuan?,” ujar Nur.

Akhirnya ia berinisiatif membubarkan korps putri tingkat fakultas ini.

Kalau ada resistensi terhadap kesetaraan gender, hanya butuh waktu lebih lama bagi orang untuk memahami. Karena memang pemikiran yang patriarkal itu sudah ribuan tahun dianut dan dipercaya. Kalau ingin mengubahnya ya sabar, santai saja, jangan serius-serius amat.

“Akhirnya usulan kami dikabulkan. Saya senang sekali, bagi saya ini sebuah keputusan penting. Namun, mungkin akan berbeda jika saat itu saya sepenuhnya paham tentang keadilan gender. Barangkali saya bakal mengajak teman-teman untuk tidak membubarkan korps putri ,melainkan mengadvokasi organisasi induk agar isu perempuan bisa menjadi isu bersama, bukan eksklusif untuk korps putri saja,” katanya.

Dalam 16 tahun terakhir, Nur telah menjadi dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diperbantukan di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang mewajibkan mahasiswa S1 menghafal Al-Quran. Sejak berdiri, program S1 perguruan tinggi ini dikhususkan untuk mahasiswa laki-laki, sedangkan S2 dan S3 bisa juga untuk perempuan walaupun tetap mayoritas laki-laki. Namun hal itu membuat Nur lebih semangat lagi untuk mengenalkan Keadilan Gender Islam dalam perkuliahan.

“Kampus ini strategis sekali bagi saya karena memberi kesempatan banyak untuk mendiskusikan keadilan gender Islam dengan para laki-laki, yang nantinya mungkin akan menjadi tokoh agama, pemilik dan pengasuh pesantren, atau minimal jadi menantunya kyai lah. Bahkan kalau mahasiswa S2 dan S3, umumnya mereka sudah menjadi tokoh agama di komunitas masing-masing. Kalau perspektif mereka sudah bagus, ini akan sangat baik,” ujar Nur.

Keadilan (tanpa) perempuan

Saat menempuh program studi S2 dan S3 di Turki, Nur mengatakan ia sempat vakum dalam isu gender. Saat itu ia fokus pada bagaimana Al-Quran digunakan untuk membuat perubahan, salah satunya ketika membicarakan tentang keadilan sosial di dalam masyarakat. Selama menggeluti tafsir Al-Quran, Nur melihat ada perspektif yang kurang ketika melihat masalah sosial di masyarakat. Banyak tafsir ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang keadilan namun mengalienasi perempuan, ujarnya.

“Ada tokoh ulama yang membicarakan tentang Al Quran sebagai alat perubahan, dan keadilan, tapi malah memaksa anak perempuannya menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak disukainya. Seakan-akan kita harus adil, kecuali pada perempuan,” kata Nur.

Menurutnya, wahyu atau pesan dari Tuhan kepada nabi ditujukan untuk kemaslahatan semua umat, baik laki-laki maupun perempuan. Namun pesan yang seharusnya universal menjadi terkotak-kotakkan untuk gender-gender tertentu. Salah satu sebabnya adalah karena bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam Islam memang punya sistem dengan aturan gender yang sangat ketat.

Baca juga: Saat Semua Orang Merasa Jadi Tuhan: Wawancara dengan Musdah Mulia

“Pesan Tuhan yang lintas gender ini disampaikan dengan bahasa yang sangat ketat gender dan tidak memungkinkan penyampaian pesan universal dalam format netral gender. Bahkan Maha Suci Allah dari menjadi laki-laki atau perempuan, namun dalam bahasa Arab Dia dikategorikan sebagai mudzakar (laki-laki). Selanjutnya kita diingatkan bahwa yang laki-laki adalah lafaz Allah, bukan zat-Nya,” kata Nur.

Setelah meraih gelar doktor pada 2001, ia tidak langsung kembali konsen dalam isu keadilan gender Islam. Barulah pada tahun  2005, ketika bergabung dengan Perhimpunan Rahima, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menjadi pusat informasi dan pendidikan tentang hak-hak perempuan dalam Islam, ia kembali menggeluti isu keadilan gender Islam hingga kini.

Pada 2017, Nur menjadi salah satu pemateri utama dalam Seminar tentang Metode Studi Islam sebagai rangkaian acara nasional Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama di Cirebon, Jawa Barat. Di dalam kesempatan tersebut, Nur memperkenalkan perspektif keadilan hakiki bagi perempuan dalam memahami Islam.

Konsep ini adalah ikhtiyar untuk mengintegrasikan pengalaman perempuan, baik biologis maupun sosial dalam konsep keadilan. Secara biologis, perempuan bisa mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan memroduksi air susu yang semuanya disertai dengan sensasi rasa sakit. Ini yang disebut sebagai lima pengalaman biologis perempuan.

“Karena lima pengalaman biologis perempuan tersebut sendiri sudah sakit, maka jika sesuatu yang disebut adil itu ternyata menambahkan pengalaman biologis perempuan tersebut semakin sakit, ya jatuhnya secara hakiki tidak adil untuk perempuan," kata Nur.

Selain itu, perempuan juga rentan mengalami ketidakadilan hanya karena menjadi perempuan atau ketidakadilan berbasis gender. Misalnya stigmatisasi, marjinalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda. Ini yang disebut dengan lima pengalaman sosial perempuan.

“Sesuatu hanya disebut adil secara hakiki bagi perempuan juga mensyaratkan perempuan tidak mengalami satu pun lima pengalaman sosial perempuan. Jika mengandung salah satu apalagi lebih, tentu saja secara hakiki juga belum adil,” ujar Nur.

Bagi Nur, berdakwah merupakan panggilan jiwa, apalagi menyebarkan ajaran keadilan gender Islam. Tentu saja tantangan yang ia hadapi banyak, salah satunya diberi label sebagai “Islam liberal” dan bahkan dicap “tidak mengerti tentang Islam.” Meski demikian, Nur tetap menikmati apa yang ia kerjakan saat ini.

“Saya selalu berpikir kalau ada resistensi terhadap gagasan keadilan gender Islam, menurut saya sih hanya soal perlunya waktu lebih lama bagi orang tertentu untuk memahami. Pemikiran patriarkal sendiri kan memang sudah ribuan tahun dianut dan dipercaya. Kalau ingin mengubahnya mesti sabar. Santai saja, walau tetap serius. Ya sersanlah. Serius tapi santai,” kata Nur sembari tertawa kecil.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock.