Women Lead
March 02, 2021

Pandemi COVID-19 Hambat Proses Pembelajaran Bahasa Bayi dan Anak

Berkurangnya interaksi sosial selama pandemi berdampak negatif terhadap proses pembelajaran bahasa pada bayi dan anak-anak.

by Surahmat dan Siti Aminah
Issues
Share:

Pembatasan sosial yang diberlakukan seiring pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak terhadap kegiatan pendidikan formal di berbagai penjuru dunia. Hal ini ternyata juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran bahasa pada bayi dan anak-anak.

Menurut berbagai studi dan pendapat ahli, seperti profesor Ilmu Bahasa di Amerika Serikat, Patricia Kuhl, interaksi sosial menunjang proses anak belajar bahasa. Interaksi yang lebih intensif dengan lingkungan beragam akan membuat pemerolehan kosakata menjadi lebih cepat.

Ketika interaksi sosial anak-anak menjadi terbatas selama pandemi, mereka tidak lagi mendapatkan referensi berbahasa yang bervariasi. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada kemampuan anak-anak dalam memperoleh kosakata baru.

Temuan penelitian dari India dan Kanada mengungkap bahwa stimulasi pada masa emas pertumbuhan bayi atau anak, yakni tiga tahun pertama, sangat penting untuk menjamin lancarnya proses pemerolehan bahasa anak-anak di kemudian hari.

Interaksi Sosial Minim Pengaruhi Kemampuan Bahasa Anak

Psikolog dari Amerika Serikat, B.F. Skinner, melalui teori perilakunya mengemukakan bahwa bahasa diperoleh melalui interaksi dengan sumber bahasa di sekitar anak. Artinya, potensi alamiah yang ada dalam otak bayi dan anak hanya akan berkembang lebih baik dan lebih cepat apabila mendapat stimulasi lingkungan melalui interaksi sosial.

Dari teori tersebut, kita bisa memahami bahwa terbatasnya interaksi bayi dengan orang di lingkungan sekitar akibat COVID-19 berpengaruh negatif terhadap proses pemerolehan bahasanya.

Pertama, akses anak terhadap guru berbahasa yang “alami” menjadi terbatas. Selama pandemi, bayi dan anak hanya bisa belajar dari orang tua, saudara, dan sumber digital di internet.

Di luar ini, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dari sumber selain guru utama mereka, yakni orang tua. Sumber lain ini di antaranya adalah anggota keluarga besar, tetangga, bahkan orang-orang tidak dikenal yang bertemu tanpa sengaja.

Baca juga: Kuliah ‘Online’ Setahun Kemudian: Pelajaran Mengenal Diri Sendiri

Padahal, keberagaman sumber belajar ini—baik secara usia, gender, maupun latar belakang sosial dan budayanya—bermanfaat untuk pembelajaran bahasa anak dalam setidaknya tiga aspek.

Misalnya, secara fonologis (bunyi bahasa), anak memperoleh rujukan bunyi bahasa yang beragam untuk ditirukan. Secara kosa kata, anak juga berpotensi mendapat kata yang lebih bervariasi karena keluarga dan budaya yang berbeda umumnya juga memiliki kosakata yang khas.

Sementara itu, secara semantik (makna bahasa) dan pragmatik (bahasa dalam praktik sehari-hari), anak juga dapat memahami aneka arti kata dalam berbagai konteks. Misalnya, kata “bapak” memiliki makna yang luas. Jika di rumah kata itu hanya bermakna “ayah”, di masyarakat maknanya bisa atasan atau orang lain yang dihormati.

Dalam keluarga, sifat alamiah dari hubungan anak dan orang tua juga membuat komunikasi keduanya sering kali dibatasi kesantunan. Sementara di luar keluarga, kosakata yang diserap anak bisa lebih ekspresif dan kasual.

Ini terlihat saat memilih kata ganti orang kedua. Di rumah, pilihan kata sapaan relatif terbatas dalam hubungan keluarga, misalnya “ayah”, “bapak”, “ibu”, atau “mama”. Jika anak bergaul dengan beragam orang, sapaannya bisa bervariasi menjadi “kamu”, “kau”, “kalian”, bahkan serapan bahasa daerah dan asing seperti “sampeyan” atau “antum”.

Kedua, kesempatan interaksi bahasa dengan anak usia sebaya menjadi berkurang. Penelitian tahun 2018 dari Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah menunjukkan bahwa lingkungan sosial yang baik membuat anak-anak lebih cepat mengembangkan kemampuan berbahasanya.

Salah satu aspek penting dari hal ini adalah adanya teman sebaya sebagai mitra belajar anak. Berhubungan dengan teman sebaya berkontribusi memicu kemampuan berbahasa anak karena mereka memiliki kesamaan.

Riset terhadap anak-anak usia prasekolah tahun 2009 di Amerika Serikat juga menunjukkan, pertukaran verbal yang baik dengan teman sebaya akan menstimulasi anak di sekitarnya untuk lebih aktif berbicara dan mendengarkan.

Baca juga: Kuliah Online di Masa Pandemi Ternyata Lebih Menguras Energi

Ketiga, tidak semua orang tua memiliki wawasan dan daya kreativitas yang tinggi untuk memfasilitasi stimulasi bahasa yang kaya untuk anak di rumah, terutama selama pandemi COVID-19 ini. Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa orang tua kerap mengalami kendala dalam mendampingi anaknya belajar di rumah pada masa COVID-19.

Misalnya, tidak setiap orang tua tahu cara memberi stimulasi yang tepat kepada anak. Mereka juga kesulitan menumbuhkan minat belajar anak dan kerap tidak sabar dalam mendampingi anak-anak.

Padahal, di tengah minimnya interaksi, pengondisian suasana di rumah sangat penting untuk memenuhi kebutuhan anak dalam mempelajari bahasa.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Bahasa Anak

Dampak negatif pandemi COVID-19 menuntut peran orang tua untuk meningkatkan intensitas berkomunikasi dengan anak.

Perhatian serius dan kerja sama dari pemerhati perkembangan anak, akademisi, orang tua, pemerintah perlu diberikan untuk memenuhi hak anak mencapai perkembangan bahasa yang optimal.

Pada saat ahli dan peneliti terus memperbarui wawasan tentang metode pemerolehan bahasa yang paling efektif untuk anak, orang tua dapat melakukan sejumlah tindakan sederhana dan praktis.

Orang tua bisa mengajak anak berbicara, menunjuk dan menamai benda-benda, serta membacakan dongeng setiap hari sebelum tidur. Untuk memperkenalkan keragaman bahasa di masyarakat, orang tua juga bisa bermain peran sembari mengenalkan tokoh-tokoh dengan berbagai latar belakang yang berbeda.

Orang tua bisa menggunakan alat bantu seperti rekaman dialog dan lagu secara selektif untuk mengganti interaksi anak-anak dengan lingkungannya. Tapi, film dan video YouTube sebaiknya dihindari untuk menghindari stimulasi yang berlebihan dan mencegah anak kecanduan gawai.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Surahmat adalah dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Peneliti di Pusat Kajian Budaya Pesisir, Universitas Negeri Semarang. Siti Aminah adalah dosen Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.