Women Lead
November 27, 2020

Sekolah Tatap Muka Mulai 2021, Apa yang Harus Diperhatikan?

Sekolah di rumah bisa mencegah anak terinfeksi COVID-19, tapi di sisi lain berdampak buruk pada kondisi psikisnya.

by Selma Kirana Haryadi
Issues
Share:

Hasil Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri dalam Negeri tentang diperbolehkannya sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka sejak Januari 2021 mendatang perlu ditinjau lebih jauh oleh banyak pihak, khususnya orang tua. Hal itu disebabkan oleh tingginya risiko membiarkan anak pergi ke luar rumah dalam waktu lama.

Topik tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk ‘Adaptasi Kebiasaan Baru di Sekolah, Siapkah?’ pada Rabu (25/11) yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Yogi Prawira, mengatakan bahwa anak memiliki kerentanan tinggi terhadap COVID-19 yang mengandung kekhususannya sendiri berkaitan dengan penularan terhadap orang-orang dewasa di sekitarnya.

Yogi memaparkan, dari total jumlah kasus orang yang terinfeksi COVID-19 di Indonesia, 11,3 persen di antaranya adalah anak-anak. Artinya, satu dari sembilan orang yang terinfeksi COVID-19 adalah anak-anak, dengan tingkat infeksi tertinggi berasal dari kelompok anak usia di bawah lima tahun (balita), ujarnya.

Yogi juga menjelaskan bahwa meski angka kematian akibat virus ini yang paling banyak pada orang dewasa, tapi anak juga memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Baca juga: Menciptakan Ruang Online yang Aman bagi Anak Perempuan

“Cara membandingkannya itu proporsi kematian dengan proporsi jumlah kasus. Artinya, setiap satu dari 107 anak yang terinfeksi COVID-19 mengalami gejala kritis, bahkan kematian,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Anak memang sebagian besar sembuh. Tapi di Indonesia, ada banyak anak yang tinggal bersama orang tua. Di satu tempat tinggal ada tiga generasi. Seandainya anak positif dan menularkan ke orang tua atau nenek-kakeknya, angkanya akan meningkat berkali-kali lipat.”

Yogi menekankan pentingnya orang tua untuk benar-benar mengetahui kondisi anak dan memperkirakan risiko penularannya pada orang-orang di sekitarnya sebelum membiarkan anak kembali ke sekolah secara tatap muka. Ditambah lagi, dalam banyak kasus, anak yang positif terinfeksi virus cenderung tidak menunjukkan gejala apa pun.

SFH berdampak psikis pada anak

Praktisi pendidikan Novianty Elizabeth mengatakan, sistem sekolah jarak jauh selama pandemi ini telah menimbulkan stres serta pertumbuhan kognitif maupun pengembangan karakter yang tidak optimal pada anak karena minimnya interaksi dengan lingkungan sekolah, seperti guru dan teman-teman, ujar Novi.

“Ada juga risiko putus sekolah. Lalu persepsi orang tua yang sekarang mulai mempertanyakan peranan sekolah setelah hampir sembilan bulan tidak bertatap muka, dan kesenjangan capaian belajar karena perbedaan akses dan kualitas teknologi,” ujar pendiri Sekolah Putra Pertiwi di Jakarta itu.

Baca juga: Anak-Anak dengan Autisme Hadapi Masalah Akses Pendidikan

Yogi dari IDAI menambahkan, pihaknya telam memberikan rekomendasi untuk pemerintah terkait pembukaan sekolah, namun untuk menanggapi keputusan bersama empat menteri terbaru ini, masih banyak hal yang  harus dikaji. Senada dengan Novi, Yogi juga mempertimbangkan perbedaan kondisi anak-anak di rumah, seperti adanya anak-anak yang mengalami depresi serta perundungan di dalam rumah ataupun perundungan secara online, juga adanya orang tua-orang tua yang tidak mampu mengontrol anaknya untuk tetap tinggal dan belajar di rumah.

“Tidak ada satu pun rekomendasi yang bisa berlaku untuk semua sekolah dan semua wilayah. Bahkan satu wilayah pun bisa berbeda karena kondisinya berbeda-beda. Anak yang tinggal di slum area, misalnya. Risiko tertular tinggi, tapi tidak dapat pembelajaran secara optimal karena untuk belajar online tidak memungkinkan,” kata Yogi.

Novi mengatakan harus ada penyesuaian dalam pembelajaran tatap muka di sekolah nanti yang membedakannya dengan sekolah di masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah penggunaan kurikulum darurat, serta pemberian otonomi dari pemerintah kepada sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dan sekolah, ujarnya.

Baca juga: 4 Cara Ajari Murid Keterampilan Tangkal Hoaks

“Jadi, tidak ada kejar target untuk mengejar kurikulum 2013 revisi yang berlaku sebelum pandemi. Kurikulum pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum 2013 itu, tapi kompetensi dasarnya disesuaikan. Lebih diutamakan yang esensial untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya,” kata Novi.

Ia menambahkan, sekolah wajib mengikuti protokol kesehatan yang ketat dan menyosialisasikan protokol kesehatan itu di kalangan pendidik, siswa, maupun orang tua dengan membuat aturan tentang adaptasi kebiasaan baru yang mengacu pada standar pemerintah.

“Hal itu bisa dilakukan dengan sosialisasi lewat segala tempat, termasuk guru-guru yang harus menyelipkan pesan-pesan tentang kesehatan ini di tengah kegiatan belajar mengajar,” ujar Novi.

Selain melalui lembaga sekolah, menurut Yogi, sosialisasi protokol kesehatan juga harus dilakukan dalam lingkungan keluarga, yaitu antar orang tua kepada anak-anaknya. Yogi memberikan beberapa tips pada para orang tua untuk mengajarkan anak mengenai protokol kesehatan dengan cara yang mudah mereka pahami.

“Bahasakan anjuran dengan bahasa mereka. Tidak usah semua informasi negatif kita sampaikan. Sampaikan sesuai levelnya. Jangan sampai ‘new normal’ melahirkan anak-anak abnormal. Kita harus ingat bahwa nature mereka adalah bermain dan bersenang-senang,” kata Yogi.

“Misalnya, ‘Gini loh, kita harus cuci tangan. Kamu sambil nyanyi dua lagu, deh. Kalau lagunya udah selesai, berarti selesai cuci tangannya.’ Atau, kita bisa bilang, ‘Kamu mau enggak jadi superhero? Kita lawan corona ini, nih, caranya.’”

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.