Women Lead
March 25, 2021

Pangeran Harry dan Rasialisme di Sekitar Kita

Keluarga dan orang-orang terdekat sering kali rasialis tanpa kita sadari. Bagaimana menghadapi mereka?

by Retno Daru Dewi G. S. Putri
Lifestyle
Meghan Markle Prince Harry Oprah The Crown Queen Elizabeth
Share:

Wawancara Oprah Winfrey dengan Pangeran Harry dan Meghan Markle dari keluarga Kerajaan Inggris, baru-baru ini menghebohkan dunia. Pasangan yang memutuskan keluar dari istana ini terutama membahas perlakuan keluarga Kerajaan yang tidak menyenangkan terhadap mereka.

Dari berbagai isu yang dikeluhkan, saya bisa memahami satu hal yang disampaikan Harry; memiliki anggota keluarga atau orang-orang terdekat yang etnosentris dan rasialis. Berdasarkan cerita dari sisi Harry dan Meghan, salah satu anggota keluarga Kerajaan mengkhawatirkan warna kulit anak mereka, Archie, yang pada saat itu belum lahir.

Walaupun sudah hidup lebih dari 35 tahun dalam keluarganya, Harry menyatakan bahwa selama itu dia tidak paham akan adanya potensi rasialisme dari keluarganya. Dia baru tersadar setelah berempati pada Meghan, yang ibunya adalah Afrika Amerika, setelah mereka menikah. 

Sama seperti Pangeran Harry, saya juga pernah tinggal di dalam gelembung hingga saya bertemu dengan Alexandra Kumala pada tahun 2018. Alex adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa yang sedang meniti karier sebagai aktris dan penulis di kota New York. Dia memecahkan gelembung saya dengan satu pertanyaan, “Hei, Daru. Kamu ada di mana pada Mei 1998?”

Saya bingung merespons pertanyaan tersebut karena saya paham arah pertanyaan Alexandra yang menunjukkan bahwa kami berbeda. Walaupun ada kekhawatiran, tapi pada bulan Mei 1998, saya beserta keluarga baik-baik saja. Berbeda dengan keluarganya, saya tidak mengalami ketakutan dan trauma yang mendalam.

Selain Alex, nasib saya juga berbeda dengan Feby, juga keturunan Tionghoa. Teman saya ini harus menyaksikan kakak perempuannya memakai celana panjang berlapis-lapis agar tidak menjadi korban pemerkosaan. Keluarga Feby juga mengatur strategi untuk memanjat tembok rumah agar bisa keluar melalui akses yang lebih tertutup jika rumah mereka diserang.

Baca juga: Skeptis dengan Meghan Markle? Faktanya Rasialisme Mengakar di Inggris

Menjadi Orang Jawa di Indonesia adalah Hak Istimewa

Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 tidak memberikan trauma mendalam karena saya bukan Cina Indonesia. Pertanyaan Alex itu menyadarkan saya sadar bahwa terlahir menjadi orang Jawa adalah sebuah hak yang sangat istimewa di Indonesia.

Selain cerita perlakuan etnosentris yang dialami teman-teman Tionghoa, perhatian saya juga tertuju pada rasialisme yang dialami oleh orang-orang Papua. Saya pernah mengajar dua orang mahasiswa Papua yang memiliki prestasi akademik yang baik tetapi jarang menunjukkan rasa percaya diri. Mereka juga jarang menghabiskan waktu dengan teman-teman yang berasal dari luar Papua.

Salah satu potensi faktor keminderan yang terlihat dari mahasiswa saya adalah perlakuan rasialis yang dialami oleh orang-orang Papua. Mental pascakolonial yang dimiliki oleh mayoritas orang di Indonesia berakibat pada glorifikasi kulit terang, rambut lurus, tubuh langsing, dan standar-standar kecantikan lainnya. Beberapa akun Instagram, seperti Indonesia Feminis, Magdalene, dan Monalisa Sembor, model asal Papua, telah mengampanyekan perlawanan terhadap rasialisme. Namun perjuangan tersebut masih jauh dari usai.

Kembali ke Harry, perlakuan rasisme yang dia dengar mungkin serupa dengan celetukan, "Wah, nanti anakmu akan hitam manis, ya" atau “Wah, nanti anakmu sipit, ya” atau "Wah, kalau anaknya cakep kayak orang tuanya yang bule bisa jadi artis sinetron, dong" yang sering kali terdengar di sekitar kita. Namun, ujaran yang belum dibuktikan pelakunya tersebut tentu tidak akan bisa diterima oleh perempuan kulit hitam asal Amerika Serikat yang memiliki sentimen ras tinggi seperti Meghan Markle.

Lalu apakah celetukan seperti itu boleh dianggap wajar di sekitar kita? Untuk saya, sih, tidak.

Baca juga: ‘The Crown’ dan Serangan terhadap Menantu Perempuan Keluarga Kerajaan Inggris

Menghadapi Lawan Bicara yang Etnosentris dan Rasis

Ujaran bernada etnosentris dan rasialis tidak layak dilanggengkan. Mengingat sejarah kelam diskriminasi etnis dan ras di Indonesia, trauma setiap orang pasti berbeda. Sehingga, ada baiknya kebiasaan tersebut tidak diteruskan. Lalu apa yang harus kita lakukan dengan keluarga dan orang-orang terdekat kita?

Berhubung saya tidak memiliki hak istimewa dan akses ke televisi seperti Harry, yang bisa saya lakukan adalah mendekati keluarga dan orang-orang terdekat untuk mau berempati terhadap mereka yang berada di kalangan etnis dan ras minoritas. Hal ini biasa saya lakukan dengan bertanya dan berbagi pengetahuan.

Ketika mendengar celetukan etnosentris dan rasialis, saya biasanya melontarkan kalimat seperti "maksudnya gimana?". Berbagai pertanyaan lanjutan juga saya berikan hingga mereka menyadari sendiri unsur negatif dari kalimat mereka. Jika ujaran cenderung menggeneralisasi karakter etnis atau ras tertentu, saya biasanya akan bertanya sudah berapa sampel orang yang mereka teliti untuk membuat prasangka mereka valid.

Tidak hanya membantu mereka menyadari adanya trauma yang dialami orang lain, tapi dengan bertanya kita juga ikut menyelami pemikiran mereka. Karena sering kali kita tidak sadar bahwa cara keluarga dan orang-orang terdekat kita dibesarkan dan dididik berbeda. Terutama mereka yang berbeda generasi dengan kita. Pemikiran yang tidak progresif sering kali diakibatkan oleh kemajuan zaman yang tidak bisa lagi diikuti. Sehingga kita lah yang dapat membantu mereka dengan berbagi wawasan mutakhir yang kita miliki.

Berbagi wawasan atau mengedukasi adalah hal kedua yang biasanya saya lakukan. Setelah bertanya, saya akan berbagi pengetahuan yang saya tahu mengenai korban diskriminasi etnis dan ras. Dalam wawancara dengan Oprah, Harry mengatakan bahwa dia sudah mencoba untuk mengedukasi keluarganya sebagaimana dia belajar dengan hadirnya Meghan. Saya sepakat dengan satu catatan: Proses belajar setiap orang sangat berbeda.

Karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda, biasanya saya akan mencari tahu apa saja yang dipahami oleh lawan bicara saya. Setelah itu saya akan menceritakan trauma yang dialami oleh mereka yang dianggap minoritas. Kondisi di mana trauma yang mendalam dapat muncul karena terpicu oleh celetukan yang terkesan remeh juga akan saya paparkan. Hal ini tentunya akan berlanjut ke sedikit penjelasan mengenai kesehatan mental yang mungkin tidak dipahami semua orang.

Menghadapi keluarga dan orang-orang terdekat yang etnosentris dan rasialis memang tidak mudah. Ada kalanya usaha kita dalam mengajak mereka untuk berpikir maju tidak berhasil. Apabila hal itu terjadi, mungkin kita bisa membantu mereka secara bertahap saja dan jangan memaksa, apalagi menyerang dan marah-marah. Hal ini bertujuan menghindari konflik yang dapat mengganggu kesehatan mental kita.

Jangan berhenti berbagi pengetahuan dan mendampingi mereka untuk maju. Karena mungkin hanya kita yang mampu membantu keluarga dan orang-orang terdekat untuk berpikiran maju dan menyadari perubahan di sekitar mereka.

Daru adalah pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia. Ia memiliki minat pada topik-topik yang berkaitan dengan isu gender, kesehatan mental, filsafat, bahasa, dan sastra.