June 26, 2020

Pelajaran dari Kematian Ayah

Kematian Ayah membuatku mengajariku bahwa stereotip yang mengatakan perempuan selalu emosional tidak benar.

by Monica Novianti
Lifestyle
Father_Distant_Island
Share:

Sekitar dua tahun silam, ayah saya meninggal dunia. Sebuah kehilangan yang berat tentunya, namun saya memperoleh pelajaran yang begitu berharga. Sebuah pelajaran yang membuat saya memahami sisi lain seorang perempuan.

Beliau meninggal karena kecelakaan. Motor yang dikendarainya ditabrak oleh seorang remaja. Tidak lama setelah sampai di rumah sakit, Ayah tidak sadarkan diri. Saya hanya bisa menatapnya sedih sembari berharap beliau akan pulih.

Tetapi ternyata Ayah harus dirujuk ke rumah sakit lain yang mempunyai peralatan lebih memadai. Sesampainya di sana, para dokter langsung memeriksanya. Salah satu dokter menyampaikan hasil diagnosisnya kepada kami bahwa kondisi Ayah sudah sangat buruk. Pendarahan di kepala akibat benturan yang terlalu keras sudah terlampau parah. Mesin ventilatorlah yang membuat detak jantung Ayah masih berdegup sehingga secara medis, beliau dinyatakan masih hidup.

Saya, Ibu, dan Kakak tentu saja menjadi cemas. Mau tidak mau, kami harus segera mengambil tindakan. Pihak rumah sakit sudah menyerah karena memang keadaan ayah saya sudah nyaris mustahil untuk sembuh. Seumur hidupnya, beliau akan terus dalam keadaan tidak sadar serta bergantung pada mesin ventilator.

Kami pun bermusyawarah. Sempat terjadi diskusi yang cukup pelik. Ibu saya jelas tidak menghendaki Ayah meninggal. Pun dengan Kakak dan saya. Tetapi pada saat yang sama, kami pun menyadari bahwa membiarkan Ayah seperti itu justru akan semakin membuatnya menderita. Satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah membiarkannya pergi.

Baca juga: Kenapa Ayahku Tak Ada di Langit-langit Kamar?

Kami lantas menyampaikan ke pihak rumah sakit bahwa kami memilih untuk merelakan Ayah. Selanjutnya, mereka memberikan sebuah surat persetujuan yang isinya menyatakan bahwa kami dari pihak keluarga menyetujui tindakan rumah sakit untuk melepas mesin ventilator dari tubuh Ayah. Surat tersebut harus ditandatangani oleh salah satu pihak keluarga.

Kami kembali berada dalam posisi sulit. Tiada satu pun dari kami yang ingin menandatangani surat tersebut. Tentu saja ada perasaan bahwa sama saja kami telah membunuh Ayah apabila kami sampai memberikan tanda tangan. Namun, jika tidak ada tangan di sana, selamanya ayah akan dalam kondisi yang menyedihkan.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa sayalah yang akan menandatanganinya. Sebuah keputusan yang gila barangkali. Bagaimana mungkin saya tega membiarkan ayah sendiri meninggal? Tetapi jika tidak ada yang bersedia, saya merasa bahwa suka tidak suka saya harus melakukannya.

Hanya butuh waktu beberapa detik untuk membubuhkan tanda tangan ke surat tersebut. Tanpa ragu dan air mata. Segera setelah itu, pihak rumah sakit mencabut mesin ventilator dan menyatakan Ayah telah meninggal dunia.

Tidak benar perempuan selalu didominasi oleh emosi ketika mengambil keputusan. Tidak jarang para perempuan memakai sisi rasionalnya demi kebaikan bersama.

Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya apa yang mendorong saya untuk menandatangani surat tersebut. Bisa jadi sebagian orang menganggap saya manusia berdarah dingin. Apalagi identitas saya sebagai perempuan yang konon katanya sisi emosionalnya lebih mendominasi sisi rasionalnya, jelas hal tersebut sukar dipahami. Di sisi lain, jauh dalam lubuk hati terdalam, saya menginginkan Ayah pulih waktu itu. Namun, pilihan apa lagi yang saya miliki selain merelakannya pergi untuk selamanya?

Barangkali jawaban yang mampu saya berikan adalah karena saya menginginkan baik keluarga maupun Ayah sama-sama tidak menderita. Jika kami memaksakan Ayah terus dalam kondisi hidup, beliau akan terus terbaring koma dengan mesin ventilator berada di sisinya. Lalu dalam jangka waktu yang tidak tentu, keluarga kami pun juga harus menyaksikan Ayah meninggal secara perlahan dan pastinya menyakitkan untuk dilihat.

Hal yang saya pahami saat itu adalah bahwa kehidupan kami semua harus terus berlanjut. Saya, Ibu, Kakak, dan anggota keluarga yang lain perlu menapaki tangga kehidupan kami selanjutnya dengan lebih lapang. Sedangkan bagi Ayah, akan lebih baik baginya jika beliau melanjutkan hidup di alam selanjutnya tanpa ada kesakitan.

Baca juga: 5 Pesan untuk Anak Perempuan Agar Tangguh dan Mandiri

Peristiwa ini pada akhirnya membuat saya belajar untuk tegar manakala harus menjalani pilihan yang tidak mudah. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa tidak benar perempuan selalu didominasi oleh emosi ketika mengambil keputusan (jika iya pun tidak ada yang salah dengan itu). Tidak jarang para perempuan akan memakai sisi rasionalnya demi kebaikan bersama.

Pelajaran ini juga yang menghindarkan saya untuk meluapkan emosi kepada remaja yang menabrak ayah saya. Sisi rasional saya mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bermaksud untuk membunuh Ayah. Ia memang lalai dan mengakuinya. Sisi rasional pula yang menahan saya untuk tidak memaki kedua orang tuanya. Mereka memang salah. Namun di saat yang sama saya mengetahui mereka tidak pernah menghendaki tragedi ini terjadi. Saya menyerahkan semua kepada kepolisian untuk menindak remaja tersebut sesuai hukum yang berlaku. Intinya, saya memaafkan mereka.

Saya tahu, dengan memaafkan tanpa memaki, kami semua bisa melanjutkan hari-hari ke depan dengan lebih bebas. Sisi rasional kembali menyelamatkan saya sebagai perempuan untuk terbebas dari beban sebuah kesedihan. Tidak hanya terkait peristiwa meninggalnya Ayah, pengalaman menandatangani surat “kematian” tersebut membuat saya lebih kuat untuk mengarungi tantangan kehidupan setelahnya hingga kini.

Monica Novianti adalah seorang perempuan dan istri yang kini tinggal di Brisbane, Australia. Suka membaca, menulis, jalan-jalan, dan menonton film. Ingin diskusi lebih lanjut, bisa dihubungi di [email protected]