Issues

Komunikasi Inklusif dan Strategis, Tak Cuma Untungkan Buruh tapi juga Pengusaha

Magdalene bersama ILO menggelar pelatihan komunikasi strategis untuk tingkatkan keselamatan pekerja dan kesetaraan gender.

Avatar
  • April 27, 2023
  • 5 min read
  • 854 Views
Komunikasi Inklusif dan Strategis, Tak Cuma Untungkan Buruh tapi juga Pengusaha

* Peringatan Pemicu: Gambaran kekerasan seksual.

Pada 2020, The Associated Press merilis laporan tentang nasib pekerja perempuan di industri sawit Indonesia dan Malaysia. Salah satu kasus yang menonjol adalah pemerkosaan buruh perempuan berusia 16 tahun oleh bosnya di tengah kebun sawit. Anak perempuan itu diikat lengan, ditutup mulut, dan diancam akan ditebas lehernya jika melaporkan pemerkosaan tersebut.

 

 

Di lokasi berbeda, dalam laporan bertajuk “Rape, Abuses in Palm Oil Fields Linked to Top Beauty Brand” itu, buruh perempuan bernama Ola mengeluhkan demam, batuk, dan mimisan. Fisiknya terus memburuk lantaran menyemprotkan pestisida tanpa baju pengaman sepanjang bekerja. Jangankan untuk membayar biaya pengobatan dokter, upah harian Rp30.000 cuma cukup untuk mengisi perut.

Pengalaman pahit para perempuan ini adalah imbas betapa industri sawit belum cukup ramah untuk perempuan. Masalahnya, industri yang tak ramah perempuan itu juga terjadi di bisnis pengelolaan ikan dan perikanan.

Napo Durian, perempuan nelayan asal Sulawesi Utara, yang kerap melaut bersama suaminya tiap hari berisiko terbunuh di lautan ganas tanpa asuransi nelayan, tulis Mongabay. Sebab, cuma suami saja yang diakui oleh pemerintah setempat sebagai nelayan. Sementara, pekerjaan dia–yang notabene menyumbang 48 persen kebutuhan ekonomi, menurut Koalisi rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)–tak dianggap bernilai ekonomi.

Baca juga: ILO: Pekerja Perempuan yang Capai Posisi Atas Masih Minim

Faktanya, pekerja perempuan bisa punya agensi untuk memperjuangkan hak-haknya. Demikian pula, para pengusaha bisa punya kesadaran untuk mulai menganggap bahwa pekerja perempuan berhak atas upah setara, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta apresiasi lainnya.

Untuk meningkatkan keberdayaan itu, penting buat perusahaan maupun pekerja, untuk memahami hak-haknya dan mengomunikasikannya dengan cara yang lebih efektif. Karena itulah, Organisasi Buruh Internasional (ILO) menggelar pelatihan komunikasi pada 27 Februari – 2 Maret 2023 bekerja sama dengan Magdalene, media daring yang berfokus pada isu perempuan.

Adapun tujuan pelatihan daring ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran, mendidik pemangku kepentingan, hingga menginformasikan isu-isu penting, khususnya kepada serikat pekerja dan asosiasi pengusaha di dua industri di atas. Selain itu, pelatihan berguna dalam peningkatan kapasitas anggota serikat pekerja dan asosiasi pengusaha dalam mempromosikan kepatuhan terhadap UU Ketenagakerjaan dan K3. Pun, mempromosikan kesetaraan gender dalam rantai pasokan.

Singkatnya, pelatihan ini tak cuma menguntungkan buruh tapi juga perusahaan dan pemangku kepentingan yang lain. Jika komunikasi strategis bisa membantu perusahaan, baik para pekerja dan pengusaha, untuk mencapai tujuan dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Maka akan lebih baik lagi jika komunikasi yang digunakan juga bersifat inklusif. Riset McKinsey pada 2017, “Delivering Through Diversity”, menunjukkan bahwa keragaman etnis dan budaya berkorelasi dengan kemungkinan 33 persen kinerja yang lebih baik.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Meningkat, Tapi Tak Menambah Jumlah Pekerja Perempuan

Bermanfaat untuk Semua

Pelatihan ini sendiri merupakan bagian dari proyek Peningkatan Hak Pekerja di Sektor Pedesaan untuk Indo-Pasifik, yang bertujuan untuk berkontribusi dalam meningkatkan kondisi kerja, terutama bagi pekerja perempuan. Di Indonesia, kebetulan fokusnya adalah industri pengolahan kelapa sawit dan ikan.

Serikat pekerja sangat penting dalam mempromosikan dan memajukan perlindungan dan kondisi kerja yang lebih baik, terutama bagi pekerja informal di sektor kelapa sawit dan pengolahan ikan. Demikian pula, asosiasi pengusaha harus memastikan lingkungan kerja yang aman dan terjamin. Dengan menggabungkan kedua belah pihak dalam pelatihan, ILO berharap dapat menjembatani kesenjangan antara pekerja di ekonomi formal dan informal dan mendorong kerja sama dalam mendorong kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan.

Ada 50 orang yang ikut pelatihan daring, termasuk 32 lelaki dan 22 perempuan selama empat hari. Mereka berasal dari berbagai kota dan daerah, antara lain Jakarta, Riau, Kalimantan Timur, Ambon, Bitung, dan Sulawesi Utara. Dari total peserta, 31 adalah anggota serikat pekerja, 18 asosiasi pengusaha, dan lima organisasi non-pemerintah. Kedua sektor tersebut terwakili secara seimbang, dengan 28 orang dari sektor pengolahan ikan, dan 26 orang dari sektor kelapa sawit.

Di antara organisasi tersebut adalah Asosiasi Perikanan Pole & Line and Handline Indonesia, Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan beberapa serikat pekerja, di antaranya KSPN Nasional, Federasi F Hukatan, FKUI, F. Saburmusi, FSPPP KSPSI Caitu.

Baca juga: Refleksi Setahun Konvensi ILO 190: Stop Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja

Pada hari pertama pelatihan Januar F. Rustandie, Koordinator Proyek ILO Indonesia, dan Abdul Hakim, staf program ILO Indonesia, berbicara tentang Undang-undang Ketenagakerjaan, K3, dan kesetaraan gender di tempat kerja.

Tim pelatih Magdalene yang terdiri dari empat orang, yakni Devi Asmarani (Pemimpin Redaksi), Purnama Ayu Rizky (Redaktur Pelaksana), Siti Parhani (Koordinator Media Sosial), dan Paul Emas (Community Engagement). Masing-masing membawakan materi berbeda yang ada dalam modul komunikasi strategis. Modul buatan Magdalene itu dirancang untuk membantu para peserta mengembangkan strategi komunikasi mereka sendiri, yang mencakup advokasi digital, melaksanakan strategi, dan bagaimana cara terbaik mengukur dampaknya.

Dalam praktiknya, peserta belajar untuk memetakan pemangku kepentingan mereka, menentukan saluran komunikasi, mengidentifikasi kebutuhan, dampak yang ditargetkan, dan membuat pesan yang tepat. Mereka juga belajar keterampilan praktis dasar termasuk menulis kreatif, siaran pers, strategi dan konten media sosial, desain dasar hingga presentasi. Pada sesi terakhir, mereka belajar mengevaluasi strategi mereka dan diperkenalkan dengan perangkat kuantitatif dan kualitatif untuk mengukur dampak strategi komunikasi.

Di akhir pelatihan, peserta harus membuat materi komunikasi sendiri atau melakukan kegiatan yang dapat masuk dalam kategori komunikasi, informasi, atau pendidikan. Lalu mereka diminta menyerahkan laporan dengan bukti keluaran dalam waktu satu setengah bulan. Agar keluarannya bisa lebih optimal, para peserta diberikan pendampingan daring tambahan dua minggu pascapelatihan. Persyaratan ini mendorong mereka untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dalam pelatihan.

Lebih dari 80 persen peserta menyampaikan laporan hasil dan kegiatan mereka, mulai dari pelatihan, poster di tempat kerja, artikel, rilis berita, hingga postingan media sosial.

Lingkungan kerja yang aman dan sehat adalah salah satu Prinsip dan Hak Mendasar ILO di Tempat Kerja. Pelatihan ini juga diharapkan dapat mendorong perbincangan tentang standar K3 sebagai bagian dari peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia, yang tahun ini mengangkat tema: Lingkungan kerja yang aman dan sehat adalah prinsip dan hak mendasar di tempat kerja.


Avatar
About Author

Magdalene

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *