April 08, 2020
Peran Perempuan Terlupakan dalam Penyebaran Islam di Inggris

Perempuan punya kontribusi penting dalam awal pendirian masjid di beberapa kota di Inggris.

by Sariya Cheruvallil
Issues
Share:

Dua masjid pertama di Inggris didirikan pada 1889 di Liverpool dan Woking. Perempuan memiliki kontribusi besar dalam komunitas yang membantu mendirikan masjid-masjid ini. Namun, tidak banyak yang mengetahuinya.

Memang kontribusi perempuan sepanjang sejarah secara konsisten dilupakan—sering kali hilang sehingga masa lalu menjadi “milik laki-laki”. Saya harap penelitian baru saya berkontribusi dalam mengubah hal ini.

Saya menggunakan bahan arsip yang terkait dengan dua masjid Inggris paling pertama ini untuk menyelidiki kehidupan sehari-hari perempuan di komunitas bersejarah ini. Penelitian ini menyajikan narasi yang koheren dan meyakinkan tentang kehidupan dan peran perempuan sebagai kontributor dan pemimpin di komunitas mereka.

Perempuan dalam komunitas ini biasanya adalah mualaf kelas menengah yang menjumpai Islam melalui perjalanan, publikasi masjid, atau kuliah umum. Mereka hidup di lingkungan yang memandang Islam dan muslim dengan kecurigaan dan cemoohan. Muslim Inggris dianggap sebagai “musuh yang setia” dan “orang kafir dalam selimut” saat itu.

Jessie Ameena Davidson menulis tentang kisah dia memeluk Islam di The Islamic Review pada Juni 1926.

Baik di masjid Liverpool maupun Woking, perempuan diikutkan dalam perayaan Idul Fitri, debat dan acara lainnya. Para perempuan di masjid Liverpool juga mengelola rumah untuk anak-anak “miskin” kota itu, yang didirikan pada Januari 1897.

Baca juga: Menelusuri Jejak Feminisme di dalam Islam

Perempuan menulis untuk publikasi masjid yang juga mencatat pencapaian-pencapaian perempuan. Pada Januari 1895, buletin Masjid Liverpool mencatat bahwa Nyonya Zubeida Ali Akbar mendapat kehormatan diperkenalkan di depan Ratu Inggris. Pada 20 Maret 1895, dicatat bahwa Teyba Bilgrami, “seorang perempuan pengikut Muhammad asal Hyderabad”, telah lulus ujian pertama dalam bidang seni di Universitas Madras.

Makanan, minuman, dan hiburan

Perempuan hampir selalu bertanggung jawab atas sajian dan “hiburan” di acara-acara masjid, termasuk sarapan Natal tahunan yang diselenggarakan oleh Liverpool Muslim Institute. Para perempuan pada awalnya dikecualikan dari komunitas sastra dan debat karena diperuntukkan hanya bagi “laki-laki muda”. Kemudian pada Maret 1896, untuk pertama kalinya seorang perempuan, Rosa Warren, memberikan ceramah terkait penyair Henry Wadsworth Longfellow.

Jemaah Masjid Woking, Inggris, dalam kegiatan ibadah. (Arsip Masjid Woking) 

Artikel-artikel dalam publikasi masjid, yang biasanya ditulis oleh laki-laki, menunjukkan bagaimana patriarki muslim menyatu dengan cara pandang era Victorian dalam memarginalkan perempuan. Misalnya, puisi yang diterbitkan dalam buletin Masjid Liverpool mencemooh “Perempuan Baru” yang:

Telah belajar matematika … tahu semua tentang mitologi … pikirannya terlatih dalam sains … tahu semua tanggal sejarah … Bisa berbicara dengan sangat hebat tentang masalah kapasitas, tapi tidak bisa menjahit kancing celana adik laki-lakinya.

Baca juga: Menegakkan Kesetaraan Gender lewat Pemahaman Islam Secara Kontekstual

Perempuan pendobrak

Namun ada juga perempuan yang menentang patriarki ini. Sebagai bagian dari penelitian saya, saya menemukan banyak kisah menarik tentang perempuan dan peran mereka di masjid.

Ada Nafeesa T. Keep, misalnya, seorang mualaf yang tiba di Liverpool dari Amerika Serikat. Dia memberikan ceramah tentang Islam dan hak-hak perempuan, dan menentang pemahaman patriarkal dan stereotip tentang Islam. Dia diangkat sebagai asisten pengawas Medressah-i-iyyum-al-Sebbah, sebuah lembaga yang bertujuan mendidik kaum muda muslim tentang agama.

Zainab Cobbold (lahir dengan nama Lady Evelyn Murray) adalah seorang penulis jurnal, pengelana,
dan perempuan bangsawan Skotlandia yang dikenal karena masuk Islam pada era Victorian. 

Ada juga Madame Teresa Griffin Viele (1831-1906), yang mengambil nama Arab, Sadika Hanoum. Dia adalah koresponden berita untuk Masjid Liverpool. Ia menulis “Resume Acara-acara Politik” dalam jurnalnya dari September 1894 hingga April 1895.

Lalu ada Lady Evelyn Zainab Cobbold, seorang mualaf terkemuka dari keluarga bangsawan Inggris, yang menjadi salah satu dari perempuan Eropa pertama yang menunaikan haji ke Makkah. Luar biasa untuk masa itu: Ia pergi ziarah sendiri, naik mobil, dan kemudian menulis buku terlaris pada 1934 tentang pengalamannya.

Baca juga: Feminisme, Islam, dan Permainan Waktu

Perempuan lain dalam komunitas ini termasuk Fatima Cates, yang merupakan anggota penting dan bendahara pendiri Liverpool Muslim Institute—badan yang mendirikan masjid pertama di Inggris di kota itu. Sementara itu, seorang perempuan lain, Begum Shah Jahan dari Bhopal, India, mendanai masjid pertama yang dibangun di Woking. Jelas, perempuan memiliki peran utama dalam pendirian masjid pertama di Inggris.

Masjid Shah Jahan di Oriental Road, Woking, adalah masjid pertama yang dibangun khusus di Inggris. 

Memang, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian saya, sejarah menempatkan perempuan di tempat utama berdirinya Islam di Inggris. Dan dengan cara mereka sendiri, para perempuan ini mengambil peran kepemimpinan dan perwakilan.

Mereka hidup pada masa yang secara sosial dan budaya sangat berbeda dari Muslim Inggris masa kini. Namun, masalah yang dihadapi para perempuan ini dalam praktik Islam mereka, negosiasi mereka dengan beragam patriarki, dan kehidupan sehari-hari mereka tidak berbeda dengan masalah seputar gender dan kepemimpinan masjid yang diperdebatkan saat ini di Inggris.

Dengan menyorot pada sejarah perempuan Muslim di Inggris, isu-isu masa kini tampak lebih mungkin dapat diatasi. Para perempuan ini membentuk komunitas Muslim pada zaman mereka dan sangat penting bahwa cerita mereka diketahui orang banyak.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Sariya Cheruvallil adalah asisten professor di Faith and Peaceful Relations at the Centre for Trust, Peace and Social Relations, Coventry University.