November 14, 2019
Perempuan Nyatakan Perasaan: Bicara Sekarang Atau Tertekan Selamanya

Sudah cukup budaya patriarki membuat kita diam, menelan perasaan, dan tidak bertindak untuk sesuatu yang kita inginkan.

by Nabila Fatiha
Issues // Relationship
Share:

Sejak dulu, perempuan sudah diajarkan untuk diam dan menyimpan perasaan. Ada banyak sekali olok-olokan atau meme yang mendiskreditkan perempuan yang berani untuk menyampaikan perasaannya. Tidak hanya melalui buku, dialog film, atau kicauan-kicauan di Twitter yang secara langsung atau tidak langsung menyatakan bahwa menyampaikan perasaan adalah tugas laki-laki.

”Perempuan itu tugasnya hanya menunggu.”

”Tidak etis kalau kamu sebagai perempuan menyampaikan perasaan duluan. Sama aja kaya enggak ada harga diri.”

”Nanti dikira murahan, loh!”

Mungkin ungkapan-ungkapan tersebut sudah sering kita dengar, dalam bentuk yang sama atau bentuk yang lain. Intinya satu: mendiskreditkan perempuan yang ingin bertindak atau menyampaikan perasaannya.

Entah dari mana hal ini berakar, mungkin konstruksi atau ekspektasi sosial yang sudah ada sejak dahulu kala, di mana hanya laki-laki yang punya privilese untuk mengungkapkan perasaan, mengejar cintanya duluan, atau sekadar making the first move.

Hal ini bahkan diakui oleh perempuan-perempuan itu sendiri. Banyak teman-teman perempuan saya yang mengibaratkan perempuan itu seperti berlian berharga yang memang seharusnya diam, menunggu, sampai ada seseorang yang menawarkan untuk ”membeli”-nya.

”Jangan mengejar. Kita yang harus dikejar.”

Dulu, saat saya duduk di kelas 3 SMP, saya pernah mengungkapkan perasaan suka saya kepada seseorang. Saat itu saya ingat betul, banyak sekali teman-teman saya yang melarang, atau sekedar mengingatkan untuk tidak melakukan hal itu. Kata mereka kita harus jual mahal. Untuk saya yang masih berumur 15 tahun, ungkapan itu cukup mengusik.

Saya sering kali bertanya dalam hati,

 ”Kenapa hal ini enggak etis? Bukannya perempuan dan laki-laki sama-sama bisa suka orang lain?”

”Toh, laki-laki juga sering ditolak. Kenapa cuma perempuan yang dianggap murahan jika ditolak?”

Baca juga: Ketika Perempuan yang Lebih Berdaya Sudutkan Sesama Perempuan

Saya kesal sendiri tapi pada saat yang bersamaan saya juga penasaran dan nekat, sehingga saya akhirnya mengungkapkan perasaan saya melalui pesan BBM (Blackberry Messenger) yang pada saat itu sangat hit. Pesan saya kemudian hanya dibaca, dan saya sadar saat itu saya menghadapi penolakan pertama saya.

Akhirnya muncul lagi ungkapan-ungkapan dari teman-teman saya yang seolah-olah menjustifikasi bahwa apa yang saya lakukan itu salah.

”Tuh kan, ditolak. Udah dibilangin juga jangan ngomong duluan!”

”Itu namanya terlalu agresif.”

Anehnya, saya merasa ada sedikit rasa lega, khususnya di tengah-tengah masyarakat (atau teman-teman remaja saya pada saat itu) yang menganggap hal itu tidak biasa untuk perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

Sekarang umur saya hampir menginjak 21 tahun, dan beberapa waktu yang lalu, saya mengungkapkan perasaan saya kepada orang yang saya sukai. Meskipun lagi-lagi mengalami penolakan yang membuat saya merasa sedih dan sakit hati, saya merasa terbebaskan dari rasa tidak tenang yang ada dalam pikiran dan hati saya, dan saya tidak menyesali keputusan itu.

Meskipun seiring berjalannya waktu, muncul kritikan internal di dalam diri saya, yang seolah-olah menggemakan stigma-stigma yang ada dalam masyarakat.

”Tuh kan, malu. Seharusnya just swallow your feelings.

“Pasti dia nganggap aneh, kenapa juga harus ngomong?”

Perang berkecamuk dalam batin saya. Untungnya, saya bisa menang. Karena saya percaya kalau saya berharga, dan penolakan tersebut bukan berarti penolakan terhadap diri saya.

Baca juga: Riset: Hanya 11% Perempuan Jadi Narasumber Media di Indonesia

Kali ini, saya seperti ingin berteriak kepada dunia bahwa semua orang berhak untuk mengungkapkan perasaannya jika memang mereka mau, dan hal tersebut perlu diacungi jempol. Tidak mudah untuk jujur kepada diri sendiri dan orang lain, khususnya dengan anggapan-anggapan bahwa mereka yang mengungkapkan hal itu adalah perempuan murahan, tidak punya harga diri, tidak bisa jual mahal, dan agresif.

Jadi untuk perempuan-perempuan di luar sana yang ingin mengungkapkan perasaannya kepada orang yang kalian suka, jangan takut! Perasaan kalian itu valid, kalian sudah berani melawan rasa takut akan penolakan (yang merupakan hal yang sangat wajar) dan melawan semua stigma dan ujaran-ujaran diskriminatif untuk perempuan.

Sudah cukup budaya patriarki membuat kita diam dan menelan perasaan, diam dan tidak bertindak untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan. Tidak hanya dalam percintaan, tapi juga saat kita ingin menyuarakan pendapat dan ide kreatif, saat kita mengalami persekusi dan tindakan diskriminatif, dan saat kita berada dalam lingkungan kerja yang didominasi oleh laki-laki. Ini saatnya kita bersuara dan melawan, dan memberikan satu sama lain rasa solidaritas bahwa perempuan berhak dan bisa. Perempuan berhak menunggu, tanpa membatasi haknya untuk melakukan apa yang diinginkan. Perempuan berhak diam, tanpa membatasi haknya untuk bersuara, bahkan berteriak sekencang-kencangnya.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan prolog dari album Speak Now dari Taylor Swift, yang juga menginspirasi saya untuk berani bersuara dan mengungkapkan:

”There is a time for silence.
There is a time waiting for your turn.
But if you know how you feel,
and you so clearly know what you need to say, you’ll know it,
I don’t think you should wait
I think you should speak now.”

Nabila Fatiha adalah mahasiswi Ilmu Politik di sebuah universitas di Kalimantan Selatan. Sekarang sedang aktif dalam proyek pengentasan malnutrisi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Nabila suka menulis puisi dan minum kopi susu.