Women Lead
June 02, 2021

Perempuan Pekerja Lepas: Akrab dengan Stigma Pengangguran, Perawan Tua

Perempuan pekerja lepas atau freelancer sering mendapatkan stigma pengangguran dan perawan tua.

by Melissa
Lifestyle
Perempuan pekerj lepas
Share:

Beberapa tahun belakangan ini masyarakat modern semakin akrab dengan istilah gig economy. Kecanggihan dunia digital menciptakan ranah baru bagi para pekerja lepas atau freelancer untuk mendulang rezeki tanpa bekerja tatap muka. Demikian pula dengan saya, pekerja lepas dunia maya yang berkecimpung di bidang penulisan berbahasa Indonesia.

Saya mengawali karier sebagai pekerja lepas pada tahun 2014 ketika baru lulus kuliah. Waktu itu, saya mencari kerja ke sana kemari tapi tak kunjung berhasil. Namun, setelah menelusuri banyak lowongan kerja di internet, saya baru tahu bahwa profesi penulis bisa dilakukan tanpa ngantor. Dengan menjadi penulis konten internet, semuanya bisa dikerjakan secara daring, dan honornya langsung ditransfer ke rekening.

Saya masih ingat honor pertama saya sebagai penulis konten itu Rp5.000 untuk satu artikel sepanjang hampir dua halaman A4. Jumlah uang yang bahkan enggak cukup untuk beli semangkok bakso di ibukota pada saat itu. Namun, entah mengapa saya nekat menjalaninya. Saya pikir itulah awal keberhasilan saya.

Sampai sekarang saya belum merasa sukses, tapi saya senantiasa bersyukur. Bersyukur karena honor pertama saya kini jumlahnya sudah jauh berlipat ganda. Kondisi finansial saya boleh dibilang lebih dari cukup, demikian juga dengan reputasi saya. Kata almarhumah bos saya, konon saya adalah salah satu penulis lepas populer untuk agensi digital. Saya sendiri tidak tahu persis kebenarannya.

Meski kondisi finansial meningkat, saya merasakan bagaimana perempuan pekerja lepas akrab dengan dua stigma. Stigma pertama adalah pengangguran. Masih segar di ingatan saya ada tetangga yang bilang, "Wah, asyik ya santai belum kerja." Hati ini rasanya mencelos, tapi akhirnya saya hanya menyengir kuda. Perasaan minder dan tidak berguna jelas ada. Tapi kemudian saya lebih giat membangun personal branding dan mencari pekerjaan-pekerjaan lainnya. Sekarang, saya atau ibu saya bisa menjawab dengan bangga jika ada yang menanyakan pekerjaan saya, "Kerja dari rumah pakai internet, jadi penulis.”

Jawaban seperti itu tidak memuaskan banyak orang. Mereka tahunya kerja itu pakai baju necis, pakai sepatu resmi, pergi pagi pulang malam. Sedangkan pekerjaan daring itu ya cuma online shop. Banyak dari mereka yang tidak tahu kalau pekerjaan di internet itu bukan sekadar dagang, melainkan banyak yang lain, termasuk sebagai perempuan pekerja lepas. Namun anggapan bahwa saya pengangguran abadi mulai luntur saat tetangga mengetahui saya bisa mencukupi kebutuhan saya, dan membeli apa yang saya perlukan tanpa berutang atau minta kepada orang tua.

Baca juga: ‘Freelancers’ dalam Krisis Corona dan Tips Atasi Tantangan Keuangan

Perempuan Pekerja Lepas dan Stigma Perawan Tua

Ok, stigma pengangguran sudah selesai. Ternyata masih ada stigma kedua bagi perempuan pekerja lepas yang masih lajang, yakni perawan tua. Orang-orang pikir saya masih melajang karena terlalu sibuk di depan laptop, tidak punya waktu untuk berkencan. Padahal sih tidak juga. Jenis pekerjaan tidak berkorelasi dengan keputusan melajang.

Hati ini bahagia menjalani pilihan hidup sebagai pekerja lepas yang masih lajang. Kendati demikian, mulut di muka orang-orang juga tidak gampang dibungkam. Suatu hari ketika saya makan bakmi dengan ibu saya, si tante penjual bakmi tiba-tiba menceletuk, "Kok belom married sih? Udah jangan terlalu pilih-pilih, cari apaan lagi..."

Mendengar kalimat itu saya cuma tersenyum, walaupun ingin rasanya mulut ini menyahut, "Enggak usah pilih-pilih yang penting ada napas sama burungnya ya, Tante?"

Saya bukannya tidak ingin menikah. Saya mau, kok, membangun rumah tangga dengan pasangan yang saya cintai. Namun, menikah bukan tujuan utama saya sebagai manusia. Rasanya terlalu sempit kalau tujuan hidup saya hanya ingin menikah saja.

Baca juga: 5 Tips Sewa Rumah atau Beli Rumah Buat Freelancers

Sejujurnya, saya tidak punya pengalaman baik dengan sosok ayah dalam kehidupan saya. Sampai saat ini, saya belum pernah bertemu dengan ayah biologis saya. Ayah tiri, suami ibu saya yang sekarang sudah tiada juga jauh dari figur ayah yang baik. Jadi, saya khawatir salah memilihkan ayah untuk calon anak-anak saya serta khawatir tidak mampu menjadi istri dan ibu yang baik. Saya tidak mau menciptakan saya-saya lainnya karena egoisme semata.

Bila nanti Tuhan menghadirkan laki-laki yang mau saling menerima dan memahami dengan saya, tentu saya ingin hidup dan menua bersamanya. Untuk saat ini, saya bahagia dengan pekerjaan dan pilihan hidup yang saya jalani. Perempuan itu bukan sandal yang tak ada nilainya bila tidak berpasangan. Semua perempuan berhak bahagia dengan caranya masing-masing asalkan tidak melakukan perbuatan tercela atau merugikan orang lain.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Melisa adalah seorang penggila warna hitam yang berprofesi sebagai penulis lepas untuk konten-konten berbahasa Indonesia. Silakan menyapa, berbagi cerita, atau melihat-lihat hasil isengnya di www.catatanmel.com dan Instagram @CicikMel.