Women Lead
March 08, 2021

Perlu Pindah Negara untuk Saya Bisa Cintai Bentuk Payudara

Tumbuh dewasa, ia mengira payudara dan tubuhnya aneh, sampai dirinya sadar seperti apa tubuh perempuan yang sebenarnya.

by Arlita Rahman
Lifestyle
Share:

Saat tumbuh dewasa, saya pikir bentuk payudara saya aneh. Mereka tidak terlihat seperti payudara yang muncul di film-film Hollywood, satu-satunya referensi yang saya miliki tentang payudara perempuan. Saya juga benci bokong saya karena terlihat lebih besar dari kebanyakan bokong yang pernah saya lihat. Saya pernah mendengar teman-teman saya berkomentar tentang bokong saya ini, betapa luar biasa besarnya, dan hal ini tentu saja memuat saya malu.

Saat SMP, saya memberi tahu Ibu tentang masalah bokong saya dan dia bilang, "Kamu akan bahagia saat menikah."

"Tapi kenapa?" saya bertanya. “Kenapa saat saya menikah? Saya enggak mengerti."

Ibu saya tidak menjawab pertanyaan saya waktu itu karena ini adalah hal-hal yang tidak dibahas dalam budaya kita. Tumbuh dengan keyakinan sebagai seorang muslim dan budaya di mana seks dan seksualitas adalah hal yang tabu, dan tanpa pendidikan seksual di rumah atau sekolah, saya tidak tahu bahwa "menikah" berarti "berhubungan seks".

Saya juga dibesarkan dengan gagasan bahwa perempuan tidak boleh keberatan jika mendapatkan catcalling atau dipandangi oleh laki-laki. Sebaliknya, kita harus memastikan bahwa kita tidak menggoda mereka.

Sejak pubertas, payudara dan bokong saya telah menjadi subjek tatapan, dan itu membuat saya malu pada diri saya sendiri karena saya telah diajarkan bahwa itu adalah kesalahan saya karena telah menarik perhatian orang lain. Saya merasa bersalah dan kotor. Saya ingin menjadi aseksual, saya mau menyembunyikan tubuh saya.

Baca juga: Kritik Polusi Visual, Seluk Beluk ‘Body Positivity’, dan ‘Body Neutrality’

Beberapa waktu kemudian, saya merasa gamang antara ingin menjadi aseksual dan ingin menjadi menarik bagi calon suami saya. Saya khawatir bahwa saya tidak cukup menarik untuk calon suami saya karena payudara saya aneh. Meski saya sadar akan pentingnya kecantikan dari dalam, saya juga tahu bahwa seks itu penting dalam sebuah hubungan. Setidaknya begitu menurut rom-com Hollywood dan buku-buku “chick lit”, satu-satunya sumber pendidikan seks saya.

Saya pikir film-film dan buku-buku tersebut mempengaruhi saya lebih dari yang saya sadari. Saya memiliki masalah komitmen dan keintiman yang mungkin menjadi alasan mengapa saya tidak pernah memiliki hubungan yang serius sampai saya berusia 26 tahun.

Sebelum saya bertemu dengan suami saya saat ini, saya telah melajang selama hampir 10 tahun. Saya pikir menjalin hubungan itu sia-sia karena ketika seseorang menikah dengan saya, dia akan melihat bahwa payudara saya terlihat aneh. Saya tidak berpikir saya pantas mendapatkan cinta dan pikiran itu merasuki masa remaja saya.

Saya membenci tubuh saya. Dan saya membenci diri sendiri bukan hanya karena saya melihat diri saya jelek, tetapi juga karena saya pembuat masalah yang ceroboh. Pikiran seperti ini diperburuk dengan memiliki keluarga yang terus-menerus mengkritik dan mengejek saya, dan sama sekali tidak pernah memberikan pujian.

Ternyata Bentuk Payudara Saya Normal-normal Saja

Beralih ke masa saya tinggal di Swedia, tempat saya mendapatkan gelar master. Di sini, saya menemukan bahwa orang-orang biasa telanjang di ruang ganti gym, kamar mandi, dan sauna. Pertama kali mengalami hal ini, saya merasa takjub dengan semua pemandangan ketelanjangan di sekitar saya. Karena saya pendek, jika saya melihat lurus ke depan, beberapa payudara perempuan Swedia yang tinggi berada tepat di garis pandangan saya.

Jika saya mencoba untuk melihat ke bawah, maka vulva mereka yang akan saya lihat. Hal ini sungguh membuat saya canggung. Saya tidak tahu harus melihat ke arah mana.

Tapi setelah berada di sana beberapa kali, saya menjadi terbiasa dan saya justru dengan santai mencuri pandang ke payudara salah satu perempuan. Saat itulah saya menemukan bahwa payudaranya mirip dengan milik saya. Hal itu membuat saya sangat bahagia sampai-sampai saya hampir memeluknya.

Saya melihat sekeliling ruangan dan melihat payudara dengan berbagai ukuran dan bentuk— tidak ada yang terlihat seperti payudara di film-film yang saya tonton. Rasanya seperti menemukan komunitas untuk payudara saya!

Baca juga: Ajari Aku Mencintai Diriku Sendiri (Lagi)

Hal ini adalah salah satu hal luar biasa yang saya pelajari dari budaya Swedia: Orang-orang sana tidak selalu menghubungkan ketelanjangan dengan seksualitas. Dibesarkan dengan gagasan bahwa jika perempuan berpakaian terbuka berarti dia "meminta seseorang untuk menggodanya", saya belajar bahwa cara orang berpakaian tidak ada hubungannya dengan seksualitas mereka.

Bentuk Payudara dan Body Positivity

Sebelumnya, saya tidak punya referensi tentang bagaimana bentuk payudara seharusnya, tidak bisa melihat payudara perempuan lain, bahkan teman atau keluarga. Saya bahkan akan merasa sangat bersalah untuk mencari tahu di Google soal payudara dan puting.

Sekarang, saya tahu mengapa areola, kulit di sekitar puting susu, yang tampak berwarna merah muda di televisi itu karena areola tersebut milik perempuan Kaukasia. Saya berharap lebih banyak remaja putri bisa mengalami hal ini. Banyak remaja putri Indonesia mungkin tidak tahu seperti apa vagina mereka sendiri. Saya sendiri baru mempelajari soal itu setelah membaca Sex for Dummies .

Cintailah payudara dan bokongmu, mereka oke-oke saja, kok. Karena sebelum orang lain mencintaimu, kamu harus mencintai dirimu sendiri dulu.

Ketika saya merekomendasikan beberapa teman saya untuk memakai tampon karena rasanya lebih nyaman dibandingkan memakai pembalut, mereka ketakutan dengan ide memasukkan sesuatu ke dalam alat kelamin mereka.

Mencari tahu tentang tubuh dan seksualitas kita sangat terkait dengan harga diri kita dan itu adalah bagian dari perjalanan kompleks menjadi seorang perempuan. Itu adalah jalan yang panjang bagi saya untuk dapat menerima tubuh saya dan dapat terbuka mengenai keintiman fisik.

Dari sana, saya telah belajar mencari tahu apa yang membuat saya nyaman dalam hal keintiman, dan bagaimana cara memintanya. Saya juga belajar untuk tidak terpaku dalam hubungan dengan laki-laki yang tidak bisa menghormati batasan saya sendiri. Saya tidak harus mengompromikan batasan saya agar siapa pun dapat mencintai saya. Inilah yang membuat saya nyaman. Jika mereka tidak suka dengan itu, ya tinggalkan saja.

Baca juga: Cantik itu Terima Kekurangan Tubuh dan Tonjolkan Bagian Tubuh Terbaik

Inilah mengapa saya merasa serial TV Girls, yang dibuat oleh penulis/aktris Lena Dunham, sebagai acara penting untuk membantu perempuan mengetahui siapa diri mereka. Tidak semua orang dalam serial itu gampang disukai, dan beberapa alur ceritanya mungkin problematik. Namun, bagaimana serial ini menampilkan ketelanjangan Dunham dengan porsi banyak menurut saya adalah sesuatu yang menyegarkan.

Dunham tidak memiliki bentuk "payudara seperti di film" yang khas. Dia juga sedikit lebih berbobot dari kebanyakan aktris Hollywood. Dari sini, saya merasa terwakili. Harus ada lebih banyak perempuan seperti dia di TV.

Meski payudara Dunham jauh dari gambaran ideal di film, karakter Adam Driver dalam acara itu tergila-gila padanya. Saya termasuk orang yang kelebihan berat badan dengan bentuk payudara tidak seperti film-film yang saya tonton, tetapi saya dicintai oleh suami saya yang ganteng.

Jadi, para perempuan, cintailah payudara dan bokongmu, mereka oke-oke saja, kok. Karena sebelum orang lain mencintaimu, kamu harus mencintai dirimu sendiri dulu.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Arlita Rahman saat ini sedang berjuang melawan depresi dan kecemasan selagi bekerja dan berusaha menyelesaikan studi masternya. Dia mencoba menghemat uang untuk memelihara anjing sambil juga mencoba menyelamatkan dunia dari perubahan iklim. Dia masih berusaha untuk menerima dirinya sendiri sepenuhnya.