Women Lead
August 25, 2021

Menikah Tak Cuma Soal Sayang dan Pesta, Butuh Persiapan Mental

Tidak hanya mempersiapkan fisik dan ekonomi, kamu yang ingin menikah juga wajib mempersiapkan diri secara mental.

by Jonesy
Lifestyle
Persiapan Mental Sebelum Menikah
Share:

Sebagai seorang anak perempuan paling kecil di keluarga besar dari sisi Ayah, melihat kakak-kakak sepupu yang menikah sudah seperti rutinitas setiap tahun. Tahun ini kakak sepupu A, tahun depan kakak sepupu B, begitu terus sampai akhirnya tinggal saya saja yang belum menikah sampai saat ini. Ketika saya tanya, apa sih yang mereka persiapkan, mereka pun menjawab yang paling utama adalah persiapan mental sebelum menikah. 

Salah satu kakak sepupu saya bahkan mengatakan bahwa lebih baik pelan-pelan saja dalam memutuskan untuk menikah, sebab yang pacaran bertahun-tahun pun juga tidak menjamin pernikahannya mulus setelahnya. Dari pengalamannya ia bercerita, walaupun dia  sudah berpacaran selama sembilan tahun, tetap saja banyak hal-hal kecil yang membuat dia dan suaminya sama-sama kaget. 

Sebagai yang belum menikah, cerita-cerita dari kakak sepupu membuat saya jadi sadar bahwa pernikahan itu tidak seindah Instagram story influencer yang berkampanye nikah muda. Jika kamu sudah cocok dengan pasanganmu dalam hal komunikasi, bisa saja konflik datang dari luar seperti ekspektasi mertua, mulut nyinyir tetangga, dan lain sebagainya. Dalam masyarakat Indonesia, ketika seseorang memutuskan untuk menikah, ia tidak hanya menikahi pasangannya, tetapi juga keluarganya. Oleh sebabnya, tidak hanya persiapan secara fisik dan ekonomi, mental pun perlu dipersiapkan sebaik-baiknya. 

Nah, bagi kamu yang sedang berencana untuk menikah, berikut ini beberapa tips untuk mempersiapkan mental sebelum kamu membangun rumah tangga bersama pasanganmu. 

Ikuti Kelas Pranikah untuk Persiapan Mental

Kalau kamu dan pasanganmu merasa bingung apa saja yang perlu kalian bahas sebelum menikah, kalian berdua bisa mengikuti ikut kelas pranikah. Selain dibimbing oleh ahlinya, kalian juga bisa mendapatkan perspektif orang ketiga yang melihat dengan objektif.

Baca juga: Menikah Saat Pandemi: Adaptasi dan Redefinisi Makna Pesta Pernikahan

Konseling pranikah ini sangat membantu untuk mempersiapkan diri kamu berdua secara mental. Dalam kelas tersebut, para pembimbing pranikah akan memberikanmu masukan serta tips praktis yang bisa membantu kamu berdua dalam mengurangi rasa takut dan cemas kamu. 

Bicarakan Tentang Tujuan dan Ekspektasi Kalian Setelah Menikah

Ketika kamu dan pasanganmu memutuskan untuk menikah, sangat penting bagi kalian untuk berdiskusi tentang tujuan bersama setelah menikah. Akan sulit jika masing-masing pihak memiliki tujuan dan ekspektasi yang berbeda setelah menikah.

Dalam membicarakan hal ini, sangat penting bagi kamu serta pasanganmu untuk mengatur ekspektasi-ekspektasi yang kalian miliki sebelum menikah. Perlu juga dibicarakan apa yang harus dilakukan ketika pernikahan kalian berjalan tidak sesuai ekspektasi sebelumnya. 

Persiapan Mental Sebelum Menikah dengan Mendiskusikan Pembagian Kerja Domestik

Sebagian besar orang masih menganggap bahwa pekerjaan domestik merupakan kodrat perempuan, padahal ini keliru. Akibat pandangan seperti ini, banyak perempuan yang memikul beban ganda yang akhirnya membuat perempuan depresi.  

Jika ingin pernikahan yang langgeng dan saling mendukung satu sama lain, kalian perlu bicarakan soal pembagian kerja domestik. Baik suami maupun istri sudah sepatutnya berbagi tugas domestik secara setara. Dengan begitu, baik kamu dan pasangan juga bisa mendukung cita-cita satu sama lain. 

Bahas Tentang Pilihan Memiliki Anak atau Tidak

Tips selanjutnya tentang persiapan mental sebelum menikah dengan membicarakan soal anak bukan perkara sepele dan tidak boleh dilewatkan. Sebagian pasangan memilih untuk punya anak sementara lainnya tidak, dan keduanya sama-sama pilihan yang sah. Yang terpenting, ini dibicarakan sebelum pernikahan diselenggarakan.

Baca juga: Ruang (Ny)Aman: Dilema Pernikahan Beda Agama

Jika kamu dan pasangan memutuskan untuk tidak memiliki anak, apa yang akan kalian lakukan untuk menghadapi ekspektasi keluarga besar? Jika kalian berdua sama-sama mau punya anak, tanyakan apakah pada satu titik, misalnya sesegera mungkin setelah menikah atau menunggu beberapa tahun, kalian sudah siap mewujudkan keinginan itu? Jika belum, apa yang menjadi alasannya? Dan bagaimana kalian menyelesaikan hal ini? 

Tidak hanya itu saja, jika kalian memutuskan untuk memiliki anak, kalian harus membicarakan bagaimana pembagian tugas mengurus anak, uang pendidikannya, dan lain sebagainya. Nah, kalian pun harus membicarakan soal kemungkinan anak kalian terlahir dengan kondisi yang istimewa, apakah kalian siap dengan berbagai kemungkinan di depan? 

Bicarakan Tentang Kondisi Keuangan Masing-masing

Dikutip dari Verywell Mind, situasi ekonomi yang sulit menjadi faktor yang banyak menyumbang stres kita secara umum. Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19, pembicaraan soal finansial semakin krusial dibicarakan.

Baca juga: Indonesia Memang Negara Kaya Kultur, Kecuali dalam Urusan Kawin Campur

Sebelum menikah, bicarakan juga keadaan finansial dan situasi keluargamu. Kalau kamu punya tanggungan ayah-ibu atau keluarga lain, sampaikan pula kemungkinan setelah menikah situasimu akan berubah menjadi sandwich generations dan konsekuensinya. Ketika hal ini tidak dibicarakan, ke depannya masalah finansial dapat memunculkan stres tinggi, konflik rumah tangga, bahkan memicu berbagai bentuk kekerasan

Persiapan Mental Sebelum Menikah yang Tidak Kalah Penting, yaitu Bicarakan Batasan-batasan Sebagai Pasangan

Walaupun sudan menjadi pasangan suami istri, mengatur batasan itu sangat penting dilakukan. Setiap pihak berhak memiliki waktu untuk sendiri dan juga ruang-ruang untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman dan keluarga. 

Meski sudah berstatus menikah, menjaga privasi satu sama lain juga tetap perlu diterapkan. Kamu tidak boleh mengecek e-mail atau media sosial pribadi pasangan, apalagi sampai meminta passwordnya supaya bisa kamu akses kapan dan di mana pun. Selain cringe, hal ini juga sebetulnya adalah wujud ketidakpercayaan kamu kepada pasangan.   

Bagaimana Jika Suatu Hari Kalian Tak Lagi Mencintai Satu Sama Lain ?

Namanya juga komitmen jangka panjang, ada kalanya kamu akan merasa bosan dan merasa hubungan cinta kalian mulai memudar. Dikutip dari Very Well Mind, ketika kamu menghadapi situasi seperti ini dan bingung harus berbuat apa, perlu kamu ingat bahwa setiap hubungan akan mengalami fase yang berbeda-beda. 

Baca juga: Benarkah Menikah dengan Feminis itu Ribet?

Meskipun suatu hari kamu merasa kehilangan perasaan tersebut, bukan berarti kamu dan pasangan tidak bisa menumbuhkannya kembali. Oleh sebabnya, sangat penting untuk kamu berdua untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ketika kalian menghadapi situasi seperti ini.